SELAMAT MAJU JAYA DAN SUKSES
Showing posts with label tazkirah. Show all posts
Showing posts with label tazkirah. Show all posts

Monday, August 01, 2011

Memahami dan Merebut Taqwa

Taqwa tidak hanya mengingatkan kita tentang apa yang seharusnya kita tinggalkan demi mengharapkan redhaNya dan karena takut hukumanNya, namun taqwa juga mengingatkan kita akan kehidupan yang akan dialami manusia setelah kematiannya. Kehidupan yang penuh tanda tanya. Sebab saat ini tidak ada di antara kita yang dapat memastikan akan kemanakah dirinya; ke syurga ataukah ke neraka? Sebuah pertanyaan besar yang tersimpan jawapannya di dalam suratan takdir di sisiNya.
Menentukan jalan hidup adalah perkara besar yang membuat banyak orang tak tahu harus ke mana dia melangkah. Padahal, ilham kepada jiwa tak lepas dari dua pilihan fujur (dosa) atau takwa. Sebagaimana yang Allah ta’ala nyatakan dalam ayat,


فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

“Maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefajiran dan ketakwaannya.” (al-Syams [91] : 8).

Ibnu Abbas menerangkan bahwa makna ayat ini; Allah menjelaskan kepada jiwa kebaikan dan keburukan. Tafsiran serupa juga disebutkan oleh Mujahid, Qatadah, adh-Dhahak dan al-Tsauri. Sedangkan Sa’id bin Jubair mengatakan, “Artinya Allah mengilhamkan kepadanya kebaikan dan keburukan.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azim, 8/321).
Orang yang beruntung bukanlah yang melepaskan kendali dirinya dan menurut bisikan hawa nafsu. Akan tetapi yang akan menjadi pemenang adalah yang berjuang membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa. Allah ta’ala berfirman,


قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” ( al-Syams [91] : 9-10).


Syaikh al-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa maksud ayat di atas adalah keberuntungan itu akan didapatkan oleh orang yang membersihkan dirinya dari dosa-dosa dan menyucikannya dari berbagai perbuatan tercela serta melembutkannya dengan taat kepada Allah, mengangkatnya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih ( lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 926).


Maka untuk memiliki jiwa yang tangguh dan bertahan di atas jalur takwa seorang manusia harus meminta keteguhan dan taufik serta pertolongan Rabbnya. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah untaian doa yang indah,


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا


“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari sifat lemah dan malas, sifat pengecut dan nyanyuk serta siksa kubur. Ya Allah, kurniakanlah kepada jiwaku ketakwaannya, dan sucikanlah ia sebab Engkaulah satu-satunya yang bisa menyucikannya. Engkaulah penolong dan tuhannya. Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim dalam kitab adz-Dzikr wa Du’a wal Istighfar wa Taubah, hadits no. 2722).

Sesungguhnya ketakwaan telah menjadi barang mahal lebih mahal dari air di padang pasir yang tandus dan titisan hujan di musim kemarau. Padahal, seperti yang sudah kita mengerti bersama bahwa kelompok yang beruntung adalah orang-orang yang bertaqwa. Allah ta’ala berfirman tentang keindahan dan manisnya buah taqwa dalam ayat,


الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


“Alif lam mim. Ini adalah Kitab yang tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa; yaitu orang-orang yang beriman terhadap perkara gaib dan mendirikan shalat serta membelanjakan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan orang-orang yang beriman terhadap wahyu yang diturunkan kepadamu dan nabi-nabi sebelummu serta meyakini hari akhirat. Mereka itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Baqarah [2] : 1-5).

Pastinya orang yang beruntung hanyalah orang yang bertaqwa. Kebanyakan orang menyukai hal-hal yang bersifat sementara dan menghibur sesaat. Meskipun pada hujungnya hal itu menyebabkan penyesalan dan rasa sedih yang mendalam. Sejarah telah mencatat bagaimana umat-umat terdahulu binasa dan berhak menerima siksa akibat kedurhakaan mereka. Mereka menginginkan kesenangan yang sementara (dunia) dan nekad mengorbankan kesenangan yang abadi (syurga), aduhai alangkah zuhudnya mereka…! Sebagaimana tololnya orang-orang munafik yang menjual akhirat dan agamanya dengan harga yang teramat murah. Allah ta’ala berfirman setelah menceritakan beberapa karakter mereka yang tercela,


أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ


“Mereka itulah orang-orang yang rela membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka tidaklah beruntung perdagangan mereka itu, dan mereka juga tidak memperoleh petunjuk.” (al-Baqarah [2] : 16).
Oleh sebab itulah kita dapati generasi terbaik umat ini iaitu para sahabat memendam perasaan bimbang apabila mereka dijangkiti kemunafikan. Imam Bukhari meriwayatkan ucapan Ibnu Abi Mulaikah di dalam kitabul Iman, “Aku berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka semua bimbang dirinya terjangkit kemunafikan.” Hal itu tidak lain dikarenakan kemunafikan akan memadamkan harapan indah mereka, dan melenyapkan kebahagiaan yang selama ini mereka idam-idamkan. Kemunafikan adalah gambaran buruk dari orang yang mengaku bertakwa. Berbeza dengan orang kafir yang berterus terang mengibarkan bendera permusuhan terhadap umat Islam dengan lisan dan sepak terjangnya, orang-orang munafik secara lahir menampakkan persahabatan bahkan pembelaan kepada umat Islam namun pada hakikatnya mereka berusaha menghancurkan Islam dari dalam.
Maka sangatlah wajar jika Allah menggelar kaum munafikin sebagai pendusta. Allah ta’ala berfirman,


الم أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ


“Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira dia dibiarkan mengucapkan kami telah beriman kemudian mereka tidak lagi mendapatkan ujian? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang dusta.” (al-Ankabut [29] : 1-3).
Kemudian Allah ta’ala ceritakan sebagian sifat mereka,


وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِنْ جَاءَ نَصْرٌ مِنْ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan kami beriman kepada Allah, namun apabila dia diberi cobaan di jalan Allah maka dia menganggap gangguan manusia seperti layaknya azab Allah. Dan apabila datang pertolongan dari Rabbmu, maka dia pun mengatakan, ‘Sesungguhnya kami bersama kalian’. Apakah Allah tidak mengetahui apa yang tersimpan di dalam dada manusia? Dan supaya Allah mengetahui siapakah orang-orang yang beriman dan siapakah sebenarnya orang-orang munafik itu.” (al-Ankabut [29] : 10-11).

Mengapa pengakuan iman di lisan mereka tidak boleh meneguhkan iman yang ada di dalam hati mereka? Jawabnya, karena ketidaksabaran mereka dalam menghadapi cubaan dan musibah yang menimpa. Padahal tanpa sabar iman tak akan terjaga. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu mengatakan, “Sabar bagi iman sebagaimana peran kepala bagi tubuh. Orang yang tidak punya sabar maka tidak ada iman padanya.” (Diriwayatkan oleh al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah).

Oleh sebab itulah kita dapatkan di dalam al-Qur’an Allah ta’ala mengiringkan antara sabar dengan ketakwaan. Allah ta’ala berfirman,


وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا

“Jika kalian bersabar dan bertakwa, nescaya tipu daya mereka tidak akan membahayakanmu.” (Ali ‘Imran [3] : 120).


Sabar memerlukan bahan bakar. Sementara bahan bakarnya tidak lain adalah ilmu, iman, tawakal, keikhlasan, mahabbah, khauf dan raja’. Oleh sebab itu Thalq bin Habib rahimahullah memberikan definisi yang sangat dalam tentang makna taqwa. Beliau mengatakan, “Taqwa adalah kamu beramal melakukan ketaatan kepada Allah di atas bimbingan cahaya dari Allah dengan mengharap balasan Allah. Dan kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas bimbingan cahaya Allah karena takut hukuman Allah.” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim di dalam Risalah Tabukiyah)


Bersempena Ramadhan ini, yang akhirnya adalah untuk membentuk kita manusia bertaqwa maka marilah kita memohon kepada Allah petunjuk, ketaqwaan, terjaganya kehormatan, dan kecukupan hati, karena sesungguhnya Allah yang telah membentangkan jalan yang lurus ini untuk hamba-hambaNya dan Allah pula yang membawa mereka berjalan di atasnya. Tiada daya dan kekuatan bagi kita kecuali dengan pertolongan dariNya. KepadaNya lah kita kembali dan kepadaNya kita meminta pertolongan.

Tuesday, July 20, 2010

Ikhlaskah kita dalam amalan?

Antara sifat mahmudah yang dituntut untuk kita laksanakan ialah ikhlas dalan setiap ibadah dan amalan. Amat mudah untuk berkata "saya ikhlas" "derma ikhlas" "sumbangan ikhlas" dan sebagainya namun praktisnya menuntut kepada penghayatan terhadap keikhlasan yang tidak sekelumitpun mengharapkan sesuatu.

Firman Allah s.w.t
إنما نطعمكم لوجه الله لانريد منكم جزاء ولا شكورا

Maksudnya: Kami memberi makan hanya kerana mengharap keredaan Allah s.w.t. Kami tidak mengharapkan balasan dari kamu dan tidak mengharapkan ucapan terima kasih. (Al-Insan: 9)

Antara tanda-tanda sifat ikhlas ketika kita berbuat baik kepada orang lain ialah
1. Tidak mengharapkan balasan.
2. Tidak mengharapkan ucapan terima kasih.

Apa pengertian Ikhlas?
Imam Qusyairi telah berkata: Ikhlas adalah mengesakan niat kepada Allah semata-mata dalam melaksanakan kerja-kerja ketaatan.

Diantara tanda-tanda ikhlas adalah seperti yg dinyatakan Imam Zu Nun al-Misri ada tiga.
1. Sama saja baginya samada pujian atau kejian daripada manusia.

2. Tidak mengingati amalannya kembali. (contoh ingat amalan adalah kita berasa baik selepas membuat amalan dan sepatutnya kita tidak berasa apa-apa kerana kita telah berserah amalan kita padaNya)

3. Hanya menuntut pahala amalan di akhirat. (kita tidak membuat amalan kerana mengharapkan pujian dan kedudukan daripada manusia).

Semestinya kita mesti memastikan kita benar-benar ikhlas sebelum kita beramal.
Diceritakan bagaimana seorang soleh berkata kepada yang mengajaknya untuk menghadiri solat jenazah: Sebentar lagi sehingga aku dapat menghadirkan niat ikhlasku..

Tapi janganlah kita meninggalakan amalan kerana takut riya' dan sebagainya.
Yang demikian itu Imam Fudail bin Iyad telah berkata:
ترك العمل لأجل الناس رياء والعمل لأجل اناس شرك والإخلاص أن يعافيك الله عنهما
Maksudnya: Meninggalkan amalan kerana manusia adalh riya', berbuat amal kerana manusia adalah syirik. Ikhlas dengan Allah adalah menyelamatkan kamu dari keduanya.
disunting semula dari blog akhi salman

Thursday, May 20, 2010

Kebejatan akhlak kesan lahirnya anak zina

Semua pihak mesti berfikir dan bertindak mengatasinya. Persoalan zina, pelacuran, persundalan dan yang sama waktu dengannya memang telah wujud sejak zaman jahiliyyah malah zaman nabipun ada manusia berzina dan mengaku di depan nabi. Apatah lagi hidup sudah jauh dengan zaman nabi. Antara ubat mencegahnya dengan racun yang ditabur sehari-hari dari punca-punca yang sukar dibendung akibat langit terbuka juga kebejatan akhlak dorongan syaitan laknatullah menyuburkan keturunan penzina yang semakin ramai disekeliling kita. Ada yang takut malu mencemar nama baik keluarga membuat dosa yang lebih besar dengan membunuh, menanam, malah yang tak pernah terfikir oleh kita. Kalau ditakdirkan Abu Jahal dan Firaun hidup semula hari ini nescaya dia pun terkejut. Zaman sekarang canggih lagi pada zaman mereka. Sebab zaman jahiliyyah mereka membunuh anak perempuan sahaja dan zaman Firaun mereka membunuh anak lelaki sahaja. Sedangkan zaman kini mereka tak peduli lelaki ke perempuan.

Disebut didalam al-Quran betapa kejinya kelakuan Firaun apabila mereka membunuh anak-anak lelaki rakyatnya dikalangan Bani Israel. Dari maksud Firman Allah;


Ketika dia menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu". (Surah Ibrahim: 6)


Firasat dari ahli nujum bahawa akan lahir dari kalangan Bani Israel seorang anak lelaki yang menentang dan bakal menghancurkan kekuasaan Firaun. Beliau lantas mengambil tindakan untuk membunuh semua bayi lelaki dari kalangan Bani Israel tetapi membiarkan anak perempuan mereka hidup.


Begitu juga di zaman era jahiliyyah sebelum kebangkitan Rasulullah Saw. Mereka membunuh anak-anak perempuan mereka. Firman Allah Swt:-


31. Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu Karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. 32. Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.


Menjadi amalan jahiliah apabila mereka membunuh anak-anak perempuan mereka dan mereka berbangga dengan anak lelaki mereka. Kedatangan Islam menghapuskan amalan jahiliyyah ini yang amat keji. Bagi mereka anak perempuan akan menyusahkan mereka untuk member makan dan minum. Status mereka hanya sekadar pemuas syahwat dan kilang kepada melahirkan anak. Perempuan tidak mampu berperang bahkan menjadi tawanan yang memerlukan tebusan. Semua ini mendorong mereka merasa malu untuk memiliki anak perempuan bahkan mereka memilih untuk membunuh anak perempuan mereka hidup-hidup.

Inilah kanak-kanak yang bakal mengheret ibu-bapa mereka ke dalam neraka sebagaimana firman Allah Swt dalam surah at-Takwir ayat: 8-9 :-

8. Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. 9. Kerana dosa apakah dia dibunuh,

Lihatlah angka berdasarkan kepada laporan rasmi, Jabatan Pendaftaran Negara (JPN) melaporkan terdapat lebih 257,000 sijil kelahiran didaftarkan tanpa catatan nama bapa, sejak tahun 2000 hingga pada bulan Julai 2008. Bagaimana yang belum dilahirkan tahun1999 dan sebelumnya? Pada 2007 sahaja ia mencatatkan seramai 16,100 orang anak luar nikah didaftarkan di JPN dikalangan orang Melayu manakala pada 2008 seramai 16,541 orang dan pada tahun 2009 jumlah tersebut makin meningkat seramai 17,303 anak luar nikah atau tidak sah taraf didaftarkan di seluruh negara iaitu purata 47 orang sehari. Kemana mereka ini akhirnya. Bukankan mereka ini juga akan punya zuriat. Betapa institusi keluarga kita juga akan hancur ekoran perangkaan tersebut. Kerosakan ini turut sama dirasai di institusi dan sekolah atas nama sekolah agama sekalipun sudah ada tanda-tanda yang membimbangkan. Dan betapa susahnya nanti untuk mencari jodoh manusia yang tak terlibat hasil dari perzinaan yang ditakuti mewarisinya. Sedangkan dalam Islam menyuruh mencari keturunan yang baik-baik.


Ia bukan sekadar masalah tetapi sudah menjadi bala. Inilah akibat yang disabdakan oleh Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Abu Dawuud:-

Maksudnya: Daripada Maimunah Radhiallahu anha, Isteri Rasulullah Saw berkata: “ Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Umatku (ini) akan terus berada dalam kebaikan selama tidak tersebar luas anak zina di kalangan mereka.apabila anak zina tersebar luas di kalangan mereka, maka hampir sahaja Allah azza wajalla akan menurunkan azab seksa kepada mereka seluruhnya.( Haditis riwayat Ahmad, baik sanadnya).


Hari ini bala bukan setakat meluasnya zina dan bunuh anak tetapi semua aspek. Keruntuhan sosial, kebejatan ekonomi, kadar jenayah yang semakin meningkat. Penyelesaian mengikut Islam untuk mencegah anak zina kita mesti menutup setiap pintu zina dan maksiat. Kaedah usul-fiqh قاعدة سد الذرائع telah menyebut agar menutup segala lubang-lubang yang boleh membawa kepada penzinaan.

Bermula dari pendidikan sejak awal, Pentarbiyyahan diperingkat institusi kekeluargaan, Mewujudkan bi’ah dan persekitaran yang Islami disemua lapisan serta pengukuhan pendidikan Islam di rumah lagi hinggalah ke sekolah dan suasana yang terkawal serta berakhlak islam dan terakhir adalah pengukuhan pelaksanaan syariat Islam.


Realitinya pencegahan yang dilakukan sekarang belum menyelesaikan ke akar umbi penyakit. Umpama memberi pil tahan sakit atau sama seperti melapkan air yang tumpah tetapi paip yang bocor tidak dibaiki. Para pendidik, ulama dan pendakwah disalahkan jika berlaku penyakit sosial tetapi mereka tidak boleh menutup punca sebenar segala permasalahan. Perancangan musuh lebih rapi dari langkah kita membendungnya.

Ketika Rasulullah saw berada di Mekah, di era jahiliyyah didapati keadaan seperti ini wujud. Kekuasaan yang berada ditangan bangsawan Quraish yang tidak Islam tidak memberi apa-apa kemudahan dan pertolongan bahkan penguasaan amalan jahiliyyah tetap berlaku. Inilah yang mendorong Rasulullah Saw berhijrah ke Madinah mencari punca kuasa memerintah sebuah daulah Islam serta mewujudkan infra dan pembinaan umat Islam dari acuannya sendiri. Sehinggalah ke peringkat perlaksanaan undang-undang sebagaimana firman Allah Swt:-

Perempuan yang berzina dan lelaki yang berzina, hendaklah kamu sebat tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali sebat; dan janganlah kamu dipengaruhi oleh perasaan belas kasihan terhadap keduanya dalam menjalankan hukum ugama Allah, jika benar kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat; dan hendaklah disaksikan hukuman seksa yang dikenakan kepada mereka itu oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. [Maksud surah al-Nur : 2]

Inilah yang menjadi dasar dan asas untuk bertindak. Disamping merawat tubuh yang sudah luka jangan lupa pada pantang larang dan makan ubat. Jangan tunggu seluruh tubuh sudah busuk hanya tunggu diangkat untuk dikambus.. Perjuangan belum selesai dari semua pihak Ibu bapa, guru yang mendidik, komuniti masyarakat, penguatkuasa malah ulil amri perlu bangun serentak bukan menuding jari pada seseorang sahaja. Akhirnya setiap kita wajib berdoa menadah tangan setulusnya agar kita dan anak-anak dan seluruh keluarga kita nantinya terus selamat dari dosa ini disamping berusaha melakukan suruhan-suruhan Allah yang menjadi benteng kekuatan Ummat. Wallahua'lam

Monday, May 17, 2010

Motivasi diri dari kata-kata Hikmat

Kata-kata hikmat atau mutiara kata amat penting untuk dijadikan perangsang dan sumber inspirasi dalam kehidupan kita samada rumah tangga, percintaan, pekerjaan, atau dalam pergaulan sehari-hari. Gunakan ia sebagai pembakar semangat untuk kehidupan harian agar dapat menghibur serta memotivasikan diri sendiri.

Imam Ali berkata, “Allah menyayangi orang-orang yang mengetahui kadar dirinya dan tidak melewati batas perjalanannya; menjaga lisannya dan tidak mensia-siakan umurnya”.

Kebijaksanaan menjanjikan kejayaan dan kebahagiaan tetapi jika disalahgunakan akan mewujudkan penderitaan

Didiklah anak-anakmu itu berlainan dengan keadaan kamu sekarang kerana mereka telah dijadikan Tuhan untuk zaman yang bukan zaman engkau – Saidina Umar Al-Khattab

Diam adalah suatu hikmah, tetapi sedikit sekali pelakunya.

Ketika kamu lahir, kamu menangis dan orang di sekelilingmu tersenyum.
Jalanilah kehidupanmu sehingga nanti, ketika kamu mati, kamu tersenyum dan orang di sekelilingmu menangis.

Adab dan akhlak adalah ibarat pokok dan kemasyhuran adalah seperti bayang-bayang. Tetapi malangnya, kebiasaan orang lebih melihat bayang-bayang daripada pokoknya.

Kata kata yang sering diucap biarlah selari dengan apa yang dirasakan kerna selalunya apa yang terungkap tidak sama seperti apa yang diungkap

Rasulullah bersabda bermaksud: “Berbahagialah hidup di dunia bagi orang yang mengumpul kebajikan untuk bekalan hari akhiratnya, sehingga dia memperoleh reda Tuhannya. Dan celakalah hidup di dunia bagi orang yang dipengaruhi oleh dunia, hingga dia terhalang daripada (mengerjakan) amalan untuk akhiratnya, dan lalai untuk memperoleh reda Tuhannya.” Hadis riwayat al-Hakim.

Lebih baik menjadi pendengar yang bijak daripada menjadi pemerhati yang kaku dan tidak tahu apa-apa.

Rahsia kejayaan hidup adalah persediaan manusia untuk menyambut kesempatan yang menjelma.

Anda tidak boleh mencipta pengalaman. Anda mesti menghadapinya.~ Albert Camus

Harta tidak akan berkurang kerana sedekah dan melakukan amal.

Sahabat sejati umpama pohon rendang tempat kita berteduh.

Manusia biasanya lebih menghargai sesuatu yang sukar diperoleh tetapi sering melupakan nikmat yang telah tersedia.

Kekuatan tidak datang dari kemampuan fizikal,tetapi ianya datang dari semangat yang tidak pernah mengalah.

Mengetahui perkara yang betul tidak memadai dan bermakna jika tidak melakukan perkara yang betul.

Kecemerlangan adalah hasil daripada sikap yang ingin sentiasa melakukan yang terbaik.

Manusia tidak perlu dihukum kerana lupa, tetapi manusia perlu dihukum kerana sengaja lupa.

Barangsiapa mempertimbangkan keselamatan dalam tindakannya, maka tenanglah batinnya.

Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu.

Orang yang berjaya dalam hidup adalah orang yang nampak tujuannya dengan jelas dan menjurus kepadanya tanpa menyimpang. – Cecil B. DeMille

Yang benar tetap benar,yang salah tetap salah.Kaya dan miskin di hadapan keadilan adalah sama.

Jangan biarkan perahu hanyut tak berpenghuni nanti hanyutnya tidak singgah ke pelabuhan

Ukuran yang paling tinggi tentang adab seseorang itu, ia wajib menaruh perasaan malu akan dirinya terlebih dahulu ~ Aflatun

Jambatan menjadi penghubung antara dua buah kampung, perkahwinan menjadi penghubung antara dua insan dan anak menjadi penghubung antara ibu dan ayah

Tiada manusia yang bergembira sepanjang masa tetapi ianya bukanlah suatu alasan untuk hidup sengsara

Kesempatan yang kecil seringkali merupakan permulaan kepada usaha yang besar.

Kemahiran dan ilmu semakin diguna semakin banyak.

Apabila sempuran akal, kurang perkataan. – Saidina Ali Abi Talib

Setiap hari kita adalah manusia yang berbeza. Semalam kanak-kanak. Hari ini remaja. Dan esok, hari tua. Semuanya menjadikan kita dan masa sungguh bermakna…

Jaga-jagalah bergurau, kerana ia membawa kepada keburukan dan menimbulkan rasa dendam.

Hidup memerlukan pengorbanan. pengorbanan memerlukan perjuangan. perjuangan memerlukan ketabahan. ketabahan memerlukan keyakinan. keyakinan pula menentukan kejayaan. kejayaan pula akan menentukan kebahagiaan.

Jika anda menyayangi seseorang itu kerana Allah, maka janganlah bertengkar dan berbalah dengannya, janganlah menanyakan sesiapa tentangnya, kerana orang yang ditanya itu mungkin memberitahu anda perkara yang mengelirukan yang boleh menghalang perhubungan anda dengan orang itu.

“rezeki.. ada di mana2, datang tanpa diduga, tepat pada masa, yg penting, usaha & tawakkal”

Perbezaan antara orang yang berjaya dengan orang yang gagal terletak pada rohaninya. apa yang dapat difikirkan menentukan apa yang akan dicapai.

Bukti yang paling jelas tentang ketajaman akal fikiran seseorang ialah apabila ia dapat mempernyatakan apa yang ia mahu dengan secara ringkas.

Orang yang terakhir tertawanya, tentu lebih banyak tertawa.

Berfikir secara rasional tanpa dipengaruhi oleh naluri atau emosi merupakan satu cara menyelesaikan masalah yg paling berkesan

Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya, “Setiap mata akan menangis pada hari kiamat kecuali mata yang menutup dari melihat sesuatu yang haram, mata yang berjalan malam dalam jihad pada jalan Allah dan mata yang menitiskan air mata sekali pun sebesar kepala lalat kerana takutkan Allah.” (H.R Abu Naim)

Sesiapa yang tidak pernah merasai kepahitan tidak akan mengenal kemanisan

Saturday, August 22, 2009

Gagal memuhasabah diri

Mungkin timbul tanda tanya kenapa didikan dan dakwah kita kurang berkesan? Kenapa orang yang kita didik masih tidak berubah walaupun bermacam-macam cara dan bahan yang kita sampaikan kepadanya? Di sinilah terletaknya satu hentian bagi para Da'ie dan Murabbi bermuhasabah diri. Kita tidak seharusnya terlalu sibuk dengan amal Islami hingga tidak ada masa yang diperuntukkan untuk muhasabah diri. Bahkan apabila kita tidak lagi perlu untuk duduk sebentar untuk muhasabah diri maka hati kita sebenarnya sudah semakin jauh dari Allah SWT. Kita semakin terkeluar dari garisan kehidupan seorang hamba. Keegoan telah mula bertapak dihati kita. Keangkuhan menguasai gerak laku kita. Semangat telah mendahului kefahaman kita. Kita akan mula tersasar dari arah tujuan kita yang sebenarnya.

Adakah keegoan, tidak mahu muhasabah diri, keangkuhan dan sebagainya ini perkara kecil? Bukankah banyak ayat-ayat Allah yang menggambarkan bahawa mereka yang akan dihumban keneraka Allah itu adalah terdiri dari orang-orang yang takbur/besar diri. Tadabburlah ayat-ayat akhir Az Zumara sesungguhnya ia amat menggerunkan kita.

Apa lagi yang menghalang kita untuk berhenti seketika untuk kita muhasabah diri lebih lebih lagi dalam bulan yang penuh kemuliaan ini. Adakah segala yang kita lakukan semuanya untuk dan kerana Allah SWT.? Kenapa kadang-kadang kita melakukan amal wajib dengan sambil lewa, kenapa kita terlalu sibuk untuk bermunajat kepadanya...memohon perlindungan dari kemurkaan dan azabNya, kenapa kita tidak sempat untuk membaca KalamNya..al Quran. Mungkinkah nanti apabila ditanyakan di Akhirat nanti untuk apa kita kerjakan semuanya lalu kita katakan untuk Allah...lalu Allah katakan BOHONG...lalu diseret muka kita dan dihumbankan kita ke NerakaNya.

Para salafussoleh...disaat-saat kematian, mereka menangis. Lalu dikatakan orang kepadanya "kenapa kamu menangis, bukankah kamu seorang yang soleh, banyak amalan dan taat kepada Allah" Lalu jawabnya "Ya...tetapi bagaimana saya tahu adakah ianya diterima oleh Allah".


Renungilah diri kita lebih dari kita melihat orang lain. Lihatlah kesalahan diri kita melebihi dari melihat kesalahan orang lain. Di sinilah kekuatan dalam amalan. Menyedari kelemahan diri menyebabkan kita sentiasa bergantung padaNya, kita sandarkan segalanya pada Allah SWT. Inilah kekuatan sebenar. Lihatlah dalam kehidupan para sahabat...bukankah kejayaan mereka, kejayaan yang luar biasa...tidak logik, tak masuk aqal tetapi kerana mereka sandarkan segalanya kepada Allah SWT lalu Allah datangkan pertolongan dan kemenangan yang dekat.

Perjalanan hidup manusia bukanlah panjang bahkan cuma perhentian sementara, halangannya terlalu banyak, simpang siurnya tidak menentu maka sebaik-baiknya kita mencari bekal dan berhentilah di hentian muhasabah supaya kita dapat mengimbau laluan yang kita lalui apakah kita telah mencapi hakikat kejadian manusia lalu kita mulakan semula langkah yang baru hingga kita berjumpa dengan Allah nanti... kita bukan tersalah jalan atau terlupa membawa bekalan..

Monday, April 06, 2009

Sememangnya Manusia tidak berilmu?


Allah Ta’ala berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia yang bermaksud, “Itulah janji Allah. Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum [30]: 6)


Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya, “Sedangkan firman-Nya ta’ala ‘Itulah janji Allah. Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya.’ Artinya: Inilah yang Kami beritakan kepadamu hai Muhammad, bahwasanya Kami benar-benar akan memenangkan Romawi dalam melawan Persia, itulah janji yang benar dari Allah, sebuah berita yang jujur dan tidak akan meleset. Hal itu pasti terjadi. Karena ketetapan Allah yang telah berlaku menuntut-Nya untuk memenangkan salah satu kelompok yang lebih dekat kepada kebenaran di antara dua kubu yang saling memerangi. Dan Allah pasti akan memberikan pertolongan kepada mereka. ‘Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui’, artinya mereka tidak mengetahui hukum kauniyah Allah serta perbuatan-perbuatan-Nya yang sangat cermat dan selalu bergulir di atas prinsip keadilan.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azim, 6/168)




Kemudian Allah ta’ala berfirman tentang mereka iaitu kebanyakan manusia yang maksudnya, “Mereka mengetahui sisi lahiriyah kehidupan dunia, akan tetapi terhadap perkara akhirat mereka lalai.” (QS. Ar Ruum [30]: 7


Ibnu Katsir kembali memaparkan, “Artinya kebanyakan manusia tidak memiliki ilmu kecuali dalam urusan dunia, cara mencapainya, segala macam karenah serta perkara apa saja yang ada di dalamnya. Mereka adalah orang-orang yang cerdas dan pandai tentang bagaimana cara menguasai dunia. Namun mereka lalai terhadap hal-hal yang akan mendatangkan manfaat untuk mereka di negeri akhirat. Seolah-olah akal mereka lenyap. Seperti halnya orang yang tidak memiliki akal dan fikiran.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azim, 6/168)


Ibnu Abbas menjelaskan tentang makna ayat yang mulia ini, “Maksudnya adalah orang-orang kafir. Mereka itu mengetahui bagaimana cara untuk memakmurkan dunia akan tetapi dalam masalah-masalah agama mereka bodoh.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azim, 6/168)


Sebaiknya kita sama-sama teliti tentang keutamaan ilmu terhadap manusia:




Pertama: Meningkatkan Darjat manusia.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman dan diberikan ilmu di antara kalian beberapa derajat. Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al Mujadilah [58]: 11).


Al Hafizh menjelaskan, “Ada yang mengatakan tentang tafsirannya adalah: Allah akan mengangkat kedudukan orang beriman yang berilmu dibandingkan orang beriman yang tidak berilmu. Dan pengangkatan darjat ini menunjukkan adanya sebuah keutamaan…” (Fathul Bari, 1/172).



Beliau juga meriwayatkan sebuah ucapan Zaid bin Aslam mengenai ayat yang artinya, “Kami akan mengangkat darjat orang yang Kami kehendaki.” (QS. Yusuf [12]: 76). Zaid mengatakan, “iaitu dengan sebab ilmu.” (Fathul Bari, 1/172)



Kedua: Nabi Diperintahkan Berdoa untuk Mendapatkan Tambahan Ilmu

Di dalam Kitabul Ilmi Bukhari membawakan sebuah ayat yang artinya, “Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha [20]: 114). Kemudian Al Hafizh menjelaskan, “Ucapan beliau: Firman-Nya ‘azza wa jalla, ‘Wahai Rabbku tambahkanlah kepadaku ilmu’. Memiliki penunjukan yang sangat jelas terhadap keutamaan ilmu. Sebab Allah ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan untuk apapun kecuali tambahan ilmu. Sedangkan yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i; yang dengan ilmu itu akan diketahui kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang mukallaf untuk menjalankan ajaran agamanya dalam hal ibadah ataupun muamalahnya, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, dan hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, menyucikan-Nya dari segenap sifat tercela dan kekurangan. Dan poros semua ilmu tersebut ada pada ilmu tafsir, hadis dan fiqh…” (Fathul Bari, 1/172)


Ketiga: Perintah Bertanya Kepada Ahli Ilmu


Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci memerintahkan untuk bertanya kepada mereka (ahli ilmu) dan merujuk kepada pendapat-pendapat mereka. Allah juga menjadikannya sebagaimana layaknya persaksian dari mereka. Allah berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu kecuali para lelaki yang Kami wahyukan kepada mereka: bertanyalah kepada ahli dzikir apabila kalian tidak mempunyai ilmu.’ (QS. An Nahl [16]: 43). Sehingga makna ahli dzikir adalah ahli ilmu yang memahami wahyu yang diturunkan Allah kepada para nabi.” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 24)


Keempat: Kebenaran Akan Dizahirkan Bagi Ahli Ilmu

Ibnul Qayyim mengatakan, “Allah Yang Maha Suci memberitakan mengenai keadaan orang-orang yang berilmu; bahwa merekalah orang-orang yang bisa memandang bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi dari Rabbnya adalah sebuah kebenaran. Allah menjadikan hal ini sebagai pujian atas mereka dan permintaan persaksian untuk mereka. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang diberikan ilmu bisa melihat bahwa wahyu yang diturunkan dari Rabbmu itulah yang benar.” (QS. Saba’ [34]: 6).” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 24)


Kelima: Segala Sifat Terpuji Bersumber dari Ilmu

Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya seluruh sifat yang menyebabkan hamba dipuji oleh Allah di dalam al-Qur’an maka itu semua merupakan buah dan hasil dari ilmu. Dan seluruh celaan yang disebutkan olehNya maka itu semua bersumber dari kebodohan dan akibat darinya…” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 128). Beliau juga menegaskan, “Dan tidaklah diragukan bahwasanya kebodohan adalah pokok seluruh kerosakan. Dan semua bahaya yang menimpa manusia di dunia dan di akhirat maka itu adalah akibat dari kebodohan…” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 101)


Ibnul Qayyim mengatakan, “Adapun kebahagiaan ilmu, maka hal itu tidak dapat kamu rasakan kecuali dengan cara mengerahkan segenap kemampuan, keseriusan dalam belajar, dan niat yang benar.

Imam Muslim menyebut di dalam Sahihnya, Yahya bin Abi Katsir berkata: ‘Ilmu tidak akan diraih dengan tubuh yang banyak bersantai-santai.’ Dahulu ada yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang menginginkan hidup santai (di masa depan, pen) maka dia akan meninggalkan banyak bersantai-santai’.” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 112)


Inilah sekelumit pelajaran dan motivasi bagi para guru dan penuntut ilmu. Semoga yang sedikit ini akan menyalakan semangat dalam mendalami dan menyampaikan ilmu Allah. Para guru dan penuntut ilmu yang mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaannya kepada segala sesuatu. Segeralah menanti hari esokmu dengan ilmu! Janganlah kita terus hanyut dalam arus kebanyakan orang yang tidak berilmu.


Diadaptasi dari muslim.or.id

Saturday, March 07, 2009

Pernahkah kita bimbang tentang keikhlasan kita beramal ibadah



Firman Allah yang bermaksud: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan (mengikhlaskan) ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus. Dan supaya mereka mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al Baiyinah: 5)


Untuk melakukan ikhlas ini sangat susah dan sulit terutama dalam sebarang amal ibadah kerana hati itu amat seni sekali. Nafsu itu sangat tersembunyi perasaan halusnya dan sangat payah dikesan. Untuk menguasainya amat sulit. Ia berbolak-balik setiap hari dan berubah-ubah pula setiap waktu dan detik. Perjalanannya tidak menentu. Bertukar-tukar dari ujub, riyak, sombong, dengki, gila puji, gila nama, ingin dinilai dengan harga dunia dan susah untuk didisiplinkan. Amal ibadah itu selalu terdorong ke arah kepentingan-kepentingan dunia ini.

Riyak, ujub dan lain-lain sifat mazmumah itu paling payah dihindari kerana gerakannya terlalu halus. Macam desiran semut, tidak dapat didengar bunyinya. Kita tidak terasa kemahuan- kemahuan nafsu atau dorongan-dorongan kemahuan hati yang jahat kerana halusnya itu. Inilah yang dikatakan syirik khafi. Kalau tidak disuluh dengan pandangan mata hati (basirah), ia tidak akan terasa adanya.
Para Salafussoleh, bila kenangkan hal-hal begini, mereka selalu menangis. Mereka paling takut terhadap syirik khafi ini. Takut ibadah mereka tidak ada harga di sisi Allah. Takut mereka akan muflis di Akhirat sedangkan untuk dapatkan ikhlas terlalu susah. Ikhlas hanya milik Allah. Ia adalah rahsia-Nya yang Dia sahaja yang tahu. Hatta para malaikat pun tidak tahu. Mereka hanya tahu amal lahir sahaja.


Sebab itu dalam sejarah pernah diceritakan betapa susahnya untuk dapatkan sifat ikhlas ini sebagaimana yang digambarkan oleh Sayidina Muaz bin Jabal.

Rasulullah SAW bersabda: “Puji syukur ke hadrat Allah SWT yang menghendaki agar makhluk-Nya menurut kehendak-Nya. Wahai Muaz!”
Jawabku: “Ya Saiyidil Mursalin.” Sabda Rasulullah SAW: “Sekarang aku akan menceritakan kepadamu, bahawa apabila dihafalkan (diambil perhatian) olehmu akan berguna tetapi kalau dilupakan (tidak dipedulikan) olehmu maka kamu tidak akan mempunyai hujah di hadapan Allah kelak. Hai Muaz, Allah itu menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Setiap langit ada seorang malaikat yang menjaga pintu langit dan tiap-tiap pintu langit dijaga oleh malaikat penjaga pintu menurut kadarnya pintu dan keagungannya. Malaikat yang memelihara amalan si hamba akan naik ke langit membawa amalan itu ke langit pertama. Penjaga akan berkata kepada malaikat Hafazah: ‘Saya penjaga tukang umpat. Lemparkan balik amalan ini ke muka pemiliknya kerana saya diperintahkan untuk tidak menerima amalan tukang umpat.’


Esoknya naik lagi malaikat Hafazah membawa amalan si hamba. Di langit kedua penjaga pintunya berkata: ‘Lemparkan balik amalan ini ke muka pemiliknya sebab dia beramal kerana mengharapkan keduniaan. Allah memerintahkan supaya ditahan amalan ini jangan sampai lepas ke langit yang lain.’


Kemudian naik lagi malaikat Hafazah ke langit ketiga membawa amalan yang sungguh indah. Penjaga langit berkata: ‘Lemparkan balik amalan ini ke muka pemiliknya kerana dia seorang yang sombong’.”


Rasulullah SAW meneruskan sabdanya: “Berikutnya malaikat Hafazah membawa lagi amalan si hamba ke langit keempat. Lalu penjaga langit itu berkata: ‘Lemparkan balik amalan ini ke muka empunyanya. Dia seorang yang ujub. Allah memerintahkan aku menahan amalan yang ujub.’


Seterusnya amalan si hamba yang lulus di langit kelima dalam keadaan bercahaya-cahaya dengan jihad, haji, umrah dan lain-lain tetapi di pintu langit kelima penjaganya berkata: ‘Ini adalah amalan tukang hasad. Dia sangat benci pada nikmat yang Allah berikan pada hamba-Nya yang lain. Dia tidak redha dengan kehendak Allah. Sebab itu Allah perintahkan amalannya dilemparkan balik ke mukanya. Allah tidak terima amalan pendengki dan hasad.’

Di langit keenam, penjaga pintu akan berkata: ‘Saya penjaga rahmat. Saya diperintahkan untuk melemparkan balik amalan yang indah ini ke muka pemiliknya kerana dia tidak pernah mengasihi orang lain. Kalau orang mendapat musibah dia merasa senang. Sebab itu amalan ini jangan melintasi langit ini.’


Malaikat Hafazah naik lagi membawa amalan si hamba yang lepas hingga langit ketujuh. Rupa cahayanya bagaikan kilat dan suaranya bergemuruh. Di antara amalan itu ialah sembahyang, puasa, sedekah, jihad, warak dan lain-lain lagi. Tetapi penjaga pintu langit berkata: ‘Saya ini penjaga sum’ah (ingin masyhur). Sesungguhnya si pengamal ini ingin masyhur dalam kumpulan-kumpulan dan selalu ingin tinggi di saat berkumpul dengan kawan-kawan yang sebaya dan ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin. Allah memerintahkan padaku agar amalan ini jangan melintasiku. Tiap-tiap amalan yang tidak bersih kerana Allah maka itulah riyak. Allah tidak akan menerima dan mengkabulkan orang-orang yang riyak.’


Kemudian malaikat Hafazah itu naik lagi dengan membawa amal hamba yakni sembahyang, puasa, zakat, haji, umrah, akhlak yang baik dan pendiam, zikir pada Allah, diiringi malaikat ke langit ketujuh hingga sampai melintasi hijab-hijab dan sampailah ke hadrat Allah SWT. Semua malaikat berdiri di hadapan Allah dan semua menyaksikan amalan itu sebagai amalan soleh yang betul-betul ikhlas untuk Allah.


Tetapi firman Tuhan: ‘Hafazah sekalian, pencatat amal hamba-Ku, Aku adalah pengintip hatinya dan Aku lebih mengetahui apa yang dimaksudkan oleh hamba-Ku ini dengan amalannya. Dia tidak ikhlas pada-Ku dengan amalannya. Dia menipu orang lain, menipu kamu (malaikat Hafazah) tetapi tidak boleh menipu Aku. Aku adalah Maha Mengetahui. Aku melihat segala isi hati dan tidak akan terlindung bagi-Ku apa saja yang terlindung. Pengetahuan-Ku atas apa yang telah ter- jadi adalah sama dengan pengetahuan-Ku atas apa yang bakal terjadi. Pengetahuan-Ku atas orang yang terdahulu adalah sama dengan pengetahuan-Ku atas orang-orang yang datang kemudian. Kalau begitu bagaimana hamba-Ku ini menipu Aku dengan amalannya? Laknat-Ku tetap padanya.’


Dan ketujuh-tujuh malaikat beserta 3000 malaikat yang mengiringinya pun berkata: ‘Ya Tuhan, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami sekalian bagi mereka.’ Dan semua yang di langit turut berkata: ‘Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknat orang yang melaknat’.”


Sayidina Muaz kemudian menangis teresak-esak dan berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana aku boleh selamat dari apa yang diceritakan ini?”


Sabda Rasulullah SAW: “Hai Muaz, ikutilah Nabimu dalam soal keyakinan.”
Muaz bertanya kembali: “Tuan ini Rasulullah sedangkan saya ini hanya Muaz bin Jabal. Bagaimana saya boleh selamat dan boleh lepas dari bahaya tersebut?”


Sabda Rasulullah SAW: “Ya begitulah, kalau dalam amalanmu ada kelalaian maka tahanlah lidahmu jangan sampai memburukkan orang lain. Ingatlah dirimu sendiri pun penuh dengan aib, maka janganlah mengangkat diri dan menekan orang lain. Jangan riyak dengan amal supaya amal itu diketahui orang. Jangan termasuk orang yang mementingkan dunia dengan melupakan Akhirat. Kamu jangan berbisik berdua ketika di sebelahmu ada orang lain yang tidak diajak berbisik. Jangan takabur pada orang lain nanti luput amalanmu dunia dan Akhirat dan jangan berkata kasar dalam suatu majlis dengan maksud supaya orang takut padamu. Jangan mengungkit-ungkit apabila membuat kebaikan. Jangan merobekkan peribadi orang lain dengan mulutmu, kelak engkau akan dirobek-robek oleh anjing-anjing jahanam. Sebagaimana firman Allah yang bermaksud: ‘Di Neraka itu ada anjing-anjing perobek badan manusia’.”


Muaz berkata: “Ya Rasulullah, siapa yang tahan menanggung penderitaan semacam itu?”
Jawab Rasulullah SAW: “Muaz, yang kami ceritakan itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah SWT. Cukuplah untuk menghindar semua itu, kamu menyayangi orang lain sebagaimana kamu mengasihi dirimu sendiri dan benci apa yang berlaku kepada orang lain apa-apa yang dibenci oleh dirimu sendiri. Kalau begitu kamu akan selamat dan dirimu pasti akan terhindar.”


Jelasnya amal ibadah kita akan tertolak percuma ibarat debu-debu berterbangan kalau keikhlasan hati tidak ada. Untuk menentukan amal ibadah itu ikhlas bukan boleh ditentukan dengan kata-kata seumpama 'saya ikhlas membantu atau saya ikhlas menunaikan haji dan sebagainya. Tepuk dada tanyalah iman kita...
Wallahu a'lam

Wednesday, November 26, 2008

Selamatkah Orang yang Berilmu?


Gambar Hiasan
Tidak dapat dinafikan betapa pentingnya ilmu itu dalam kehidupan. Tanpa ilmu, manusia akan menjadi kaku.Hendak berbuat, tak tahu caranya. Hendak bergerak,tak tahu langkahnya. Hendak berpergian, tak tahu arah tujuannya.Untuk menguruskan hal dunia, kita perlu kepada ilmu. Untuk menguruskan hal Akhirat pun, lebih-lebih lagi kita perlu kepada ilmu. Islam amat menitikberatkan tentang ilmu. Tidak serupa orang yang berilmu itu dengan orang yang tidak berilmu. Allah mengangkat orang-orang yang berilmu itu beberapa darjat.












Allah lebih suka kepada ulama yang fasiq daripada orang jahil yang taat. Orang yang jahil itu adalah seteru Allah.Ilmu itu ibarat obor yang menyuluh. Dengan ilmu, kita dapat melihat jalan-jalan yang patut ditempuh. Dengan ilmu, kita dapat melihat mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah; mana jalan yang baik dan mana yang buruk; dan mana jalan yang hak dan mana jalan yang batil.














Orang yang mempunyai ilmu itu ibarat orang yang mempunyai obor di malam yang gelapgelita.Dia boleh menerangkan kegelapan untuk dirinya dan juga untuk orang lain.dengan ilmunya. Hanya setakat tahu, belum tentu ilmu itu dapat memberi kebaikan atau manfaat kepada yang memilikinya. Berlainan dengan faham. Faham itu ialah tahu lahir dan batinnya, tahu yang tersurat dan yang tersirat di sebaliknya.Akan tetapi, ilmu semata-mata tidak menjamin apa-apa. Kalau banyak pun ilmu yang dimiliki oleh seseorang itu, tidak bermakna dia akan selamat dari terjerumus ke dalam lembah dosa dan maksiat. Seperti juga orang yang mempunyai obor, tidak semestinya dia tidak akan sesat atau tidak akan tersungkur.












Rasulullah SAW bersabda: Maksudnya: Sesiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, Dia akan memberinya faham tentang agama. Tidak dikatakan akan diberinya ilmu tentang agama. Jadi, orang yang mempunyai ilmu itu tidak semestinya dia faham dan tidak semestinya dia dapat beramal, sesuai dengan ilmunya. Hanya setakat tahu sahaja, belum tentu ilmu itu dapat memberi kebaikan atau manfaat kepada orang yang memilikinya. Berlainan dengan faham. Faham itu ialah tahu lahir dan batinnya, tahu yang tersurat dan yang tersirat di sebaliknya. Di samping ilmu, apa yang sebenarnya kita perlukan ialah taufiq iaitu pimpinan Allah. Dengan taufiq, segala amal perbuatan kita akan setentang atau tepat dengan ilmu. Barulah ilmu itu menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita dan dapat kita menjadi orang yang beramal dengan ilmunya.










Islam itu ialah iman, ilmu dan amal. Tanpa taufiq inilah maka kita sering lihat orang yang amalannya tersimpang dari ilmunya. Tidak kurang kita lihat orang yang mengajar ilmu tauhid tetapi dia sendiri tidak mampu berjiwa tauhid. Atau orang yang alim tentang hukum sembahyang, tetapi dia sendiri tidak mendirikan sembahyang.Atau ulama-ulama yang secara terus-menerus terlibat dengan dosa-dosa besar. Atau ulama-ulama yang mengubah hukum hakam untuk menjaga kepentingan pangkat, jawatan dan kedudukannya, dan yang menggunakan ilmunya untuk membenarkan tindak-tanduknya yang salah. Malahan ada manusia yang bertaraf profesor di universitiuniversiti di Barat yang hafaz Al Quran dan hafaz beribu-ribu hadis, lengkap dengan perawinya, bahkan pula layak memberi ijazah dan Phd. pengajian Islam kepada graduan-graduan Islam, tetapi mereka sendiri tetap kufur dan tetap tidak beriman kepada Allah.












Ulama yang tidak beramal dengan ilmunya akan masuk Neraka 500 tahun lebih dahulu dari penyembah berhala. Dan di kalangan ulama ada yang digelar ulama suk atau ulama jahat yang kerjanya melarang manusia menuju kepada Tuhan dan menyusahkan manusia membuat kebaikan dan kebajikan.Maksiat dan kemungkaran tidak pula dilarang atau ditegurnya. Rasulullah SAW memerintahkan kita supaya lari dari ulama jahat seperti ini seperti mana kita lari dari singa yang ganas. Dunia telah masuk dan bersarang di dalam hati-hati mereka.Mereka merosakkan agama di atas nama agama. Ilmu itu amanah Allah. Kalau kita diberi ilmu, kita bertanggungjawab.Kita perlu mengamalnya, menyampaikan atau mengajarnya dan memperjuangkannya. Di Akhirat nanti, kita akan disoal tentang ilmu yang ada pada kita itu.

Saturday, November 08, 2008

Rahsia di sebalik sujud seorang mukmin

Dalam sebuah hadis Nabi s.a.w., daripada Abu Firas (Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami r.a.; beliau merupakan golongan Suffah yang tinggal di masjid Rasulullah s.a.w.) telah berkata:


“Pada suatu malam ketika aku bersama-sama Rasulullah s.a.w. menyediakan air wuduk dan keperluan Baginda yang lain seperti biasa, sekonyong-konyong Rasulullah s.a.w. bersabda: “Wahai Abu Firas pohonlah kepadaku! (sebarang hajat untuk aku minta kepada Allah Taala, moga diperkenankan).”
Aku menjawab: “Wahai Rasulullah, aku hanya memohon supaya menjadi temanmu di syurga nanti.” Rasulullah bertanya pula: “Apakah ada yang lain?” Maka aku menjawab: “Itu sahaja ya Rasulullah!” Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: Hendaklah kamu memberatkan diri dengan memperbanyakkan sujud. (Riwayat Muslim)











Jelas melalui mafhum hadis di atas, Rasulullah s.a.w. telah memberi satu tip bagaimana untuk menjadi golongan yang duduk bersama-sama dengan Baginda di syurga nanti. Amalan tersebut iaitu berusaha memperbanyakkan sujud kepada Allah s.w.t.
Hal ini kerana amalan sujud akan mendekatkan kita kepada Allah s.w.t. Sebab itulah dalam sebuah hadis lain Nabi s.a.w. telah mengingatkan umatnya supaya berwaspada terhadap golongan yang mencuri dalam solat mereka. Sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud:
“Seburuk-buruk orang yang mencuri, ialah mencuri dalam solatnya.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah bagaimanakah ia boleh mencuri dalam solatnya?” Nabi s.a.w. menjawab: “Apabila ia tidak sempurnakan rukuk dan sujudnya.” (Riwayat Ahmad, Thabrani, Ibnu Khuzaimah dan Hakim)












Sujud ialah rukun yang ketujuh dalam solat. Dari sudut istilahnya, ia merupakan gerakan berteleku dengan menundukkan kepala sehingga mencecah ke lantai iaitu dengan cara merapatkan dahi, kening, hidung, kedua-dua lutut, hujung dua kaki dan merenggangkan sedikit kedua-dua tangan ke lantai. Biasanya ia dilakukan sewaktu menunaikan ibadah sembahyang, sama ada sembahyang wajib atau sembahyang sunat.











Sesungguhnya sujud bukan sahaja gerakan yang bersifat ibadah semata-mata tetapi ia merupakan gerakan yang mengandungi falsafah tersendiri yang mampu membina kekuatan diri dan membentuk sahsiah Muslim, di antaranya:







1. Sujud sebagaimana yang kita ketahui ialah kedudukan terendah iaitu meletakkan dahi atau kepala kita ke tempat sujud. Kedudukan sujud seolah-olah meletakkan diri kita ke tahap yang paling rendah dan paling hina untuk menyembah diri kepada Tuhan yang Maha Tinggi.
Kepala bagi manusia ialah lambang kepada kemuliaan kerana di dalamnya terdapat akal. Akallah yang membezakan manusia dengan makhluk-makhluk Allah yang lain. Apabila manusia diperintahkan supaya sujud kepada Allah, kemuliaan tersebut telah diletakkan pada kedudukan yang paling rendah supaya manusia insaf bahawa kebijaksanaannya tidak dapat mengatasi kebijaksanaan Tuhannya yang Maha Bijaksana. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang tipu daya mereka untuk menahanmu, atau membunuhmu atau mengeluarkanmu, mereka merancang tipu daya mereka. Allah mempunyai tindakan terhadap tipu daya mereka itu, sesungguhnya perancangan Allahlah yang terbaik yang bertindak terhadap tipu daya mereka. (Al-Anfal: 30)












2. Kedudukan sujud juga merupakan klimaks kepada solat seorang hamba dan puncak daripada kehinaan diri. Sedar atau tidak, kita sebenarnya telah meletakkan deria anggota; penglihatan, pendengaran, sentuhan, bau dan rasa ke tempat yang paling hina iaitu tanah. Bukan itu sahaja, kita juga meletakkan deria hati dan akal bersama-sama dengan pancaindera tersebut supaya kita boleh berfikir dan mengamati sedalam-dalamnya makna di sebalik gerakan tersebut.
Tegasnya, hati dan akal seharusnya bijak menilai falsafahnya bahawa apabila wajah yang cantik diletakkan ke tempat sedemikian rupa, maka ia perlu sedar bahawa tanah itulah yang menjadi tempat kembalinya semula dan mengingatkan manusia bahawa saat kematian pasti akan menjelma.











3. Selain itu gerakan proses dari rukuk kemudian iktidal dan kemudiannya sujud ialah gerak memberi khidmat dan untuk menta’zim serta penghormatan diri seorang hamba di hadapan Allah s.w.t.. Proses ini tidak boleh diberikan kecuali kepada Allah s.w.t. sahaja. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat Kami mereka akan tunduk sujud dan bertasbih serta memuji Tuhan-nya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. (As-Sajdah: 15)
Gerakan sujud ini juga mendidik manusia agar menghormati antara satu sama lain. Malah Islam juga menganjurkan penghormatan diberikan kepada orang yang lebih besar dan yang sewajarnya dihormati seperti yang diamalkan dalam budaya masyarakat Jepun.
Dalam hal ini, seorang anak wajar menghormati kedua-dua ibu bapanya, seorang pekerja perlulah menghormati ketuanya, begitu juga seorang isteri perlu menghormati suami. Dalam sebuah hadis Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Tirmizi, Nabi bersabda yang bermaksud:
“Jikalau sekiranya ada perintah supaya bersujud kepada seseorang, nescaya akan kusuruh isteri bersujud kepada suaminya.”










4. Sujud juga adalah suatu proses meditasi untuk membentuk ketenangan diri dan meraih khusyuk dalam solat. Proses ini dibentuk melalui muhasabah dan mencerap motivasi diri. Ia melibatkan proses menilai dan merenung kembali apa yang telah dilakukan oleh setiap hamba.
Setiap kali kita mengerjakan solat, ini bermakna kita telah sujud kepada Allah Taala sekurang-kurangnya 34 kali satu hari.
Lazimnya sujud dalam gerakan solat, minda harus terus menerus mengingati kebesaran Allah, menyesal dan bertaubat, terutamanya apabila melibatkan dosa derhaka terhadap perintah Allah s.w.t..











Sesungguhnya pada saat seorang hamba itu sujud, ia merupakan kedudukan yang paling hampir di sisi Allah s.w.t. Kita sangat digalakkan supaya berdoa di dalam sujud dan memohon segala hajat kepada Allah s.w.t. sesuai dengan sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud:
Saat yang paling dekat seseorang hamba itu dengan Tuhannya ketika ia sujud, sebab itu hendaklah kamu memperbanyakkan doa ketika sujud itu. (Riwayat Ahmad dan Muslim)
Bertitik tolak daripada itu, amalan sujud melalui gerak solat seharian kita sewajarnya dilakukan secara bersungguh-sungguh agar beroleh janji sebagaimana yang disebut oleh Rasulullah s.a.w. Ia sesungguhnya dapat mendekatkan setiap diri Muslim kepada Allah, di samping mengoreksi diri melihat kekuatan dan kelemahan diri kita. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:
Ingatlah, janganlah engkau (wahai Muhammad) menurut kehendaknya dan sebaliknya sujudlah kepada Allah dan dekatkanlah dirimu kepada Allah (dengan taat dan beramal soleh. (Al-Alaq: 19)

Tuesday, August 19, 2008

Tazkirah: Kelebihan mengingati mati






Setiap makhluk yang hidup pasti akan mati, sesungguhnya kematian tetap akan menjemput insan untuk kembali kepada penciptanya. Sekuat manapun kita lari, sejauh manapun kita cuba hindari, namun kematian akan tetap mengekori kita.
Sampai waktu dan ketikanya, kita tetap akan pergi jua. Betapa kerapnya malaikat maut melihat dan merenung wajah seseorang, iaitu dalam masa 24 jam sebanyak 70 kali, andainya manusia sedar hakikat tersebut, nescaya dia tidak akan lalai mengingati mati. Tetapi oleh kerana malaikat maut adalah makhluk ghaib, manusia tidak dapat melihat kehadirannya. Sebab itu manusia tidak menyedari apa yang dilakukan oleh Malaikat Izrail.
Sebenarnya manusia itu sedar bahawa setiap makhluk yang hidup pasti akan mati, tetapi manusia menilai kematian dengan berbagai tanggapan. Ada yang menganggap kematian itu adalah suatu tabii biasa sebagai pendapat golongan atheist, dan tidak kurang pula orang yang mengaitkan kematian itu dengan sebab-sebabnya yang zahir sahaja.
Dia mengambil logik bahawa banyak kematian disebabkan oleh sesuatu tragedi, seperti diakibatkan oleh peperangan, bencana alam dan lain-lain lagi. Tidak ramai manusia yang mengaitkan kematian itu dengan kehadiran malaikat maut yang datang tepat pada saat ajal seseorang sudah sampai, sedangkan malaikat maut sentiasa berlegar di sekeliling manusia, mengenal pasti dan memerhatikan orang-orang yang tempoh hayatnya sudah tamat.
Tepat pada waktu
Sesungguhnya malaikat maut menjalankan arahan Allah SWT dengan tepat dan sempurna, dia tidak diutus hanya untuk mencabut roh orang sakit sahaja, ataupun roh orang yang mendapat kecelakaan dan malapetaka. Jika Allah menetapkan kematian seseorang ketika berlaku kemalangan, atau ketika diserang sakit tenat, maka Izrail mencabut roh orang itu ketika kejadian tersebut. Namun ajal tidak mengenal orang yang sihat, ataupun orang-orang mewah, yang sedang hidup rehat dibuat kesenangan.
Malaikat maut datang tepat pada waktunya, tanpa mengira orang itu sedang ketawa riang, atau sedang mengerang kesakitan. Bila ajal mereka sudah tiba, maka kematiannya tidak tertangguh walau sesaatpun.
Walau bagaimanapun ada ketikanya Allah jadikan pelbagai sebab bagi sesuatu kematian, yang demikian itu ada hikmah di sebaliknya. Misalnya sakit tenat yang ditanggung berbulan-bulan oleh seseorang, ia akan menjadi Rahmat bagi orang beriman dan sabar, kerana Allah memberi peluang dan menyedarkan manusia agar dia mengingati mati, untuk itu dia menggunakan masa atau usia yang ada untuk berbuat sesuatu, membetulkan dan bertaubat dari dosa dan kesilapan serta memperbaiki amalan untuk menambah bekalan untuk akhirat, jangan sampai menjadi seorang yang muflis di akhirat kelak. Begitu juga orang yang mati mengejut disebabkan kemalangan, ia menjadi pengajaran dan memberi peringatan kepada orang yang masih hidup supaya mereka sentiasa waspada dan tidak lalai dari usaha memperbaiki diri, menambah amal kebajikan dan meninggalkan segala kejahatan.
Di kalangan orang soleh, sakit yang ditimpakan kepada dirinya adalah sebagai tanda bahawa Allah masih menyayanginya. Kerana betapa malangnya bagi pandangan orang-orang soleh itu jika Allah mengambil roh dengan tiba-tiba, tanpa sebarang amaran terlebih dahulu. Seolah-olah Allah sedang murka terhadap dirinya, sebab itulah Allah tidak beri amaran terlebih dahulu kepadanya. Keadaan orang itu ibarat seperti tidak menyedari adanya bahaya di hadapannya, jika tiada amaran terlebih dahulu, nescaya dia akan terjerumus ke lembah bahaya.
Malaikat maut mengadu kepada Allah, betapa dirinya tidak disenangi oleh keturunan Adam, dia mungkin dicemuh kerana dia ditugaskan mencabut roh manusia, yang akan menyebabkan orang berdukacita kerana kehilangan keluarga, sanak-saudara dan orang-orang yang tersayang di kalangan mereka. Diriwayatkan bahawa Allah SWT berjanji akan menjadikan berbagai sebab kepada kematian yang akan dilalui oleh keturunan Adam, sehingga keturunan Adam itu akan memikirkan dan mengaitkan kematian itu dengan sebab-sebab yang dialami oleh mereka.
Ajal ketetapan Allah SWT
Apabila berlaku kematian, mereka akan berkata bahawa si anu itu mati kerana menghidap sakit, ataupun mereka kerana mendapat kemalangan, mereka akan terlupa mengaitkan malaikat maut dengan kematian yang berlaku itu. Namun hakikatnya bahawa ajal itu adalah ketetapan Allah, yang telah termaktub sejak azali lagi. Semuanya telah nyata di dalam takdir Allah, bahawa kematian pasti tiba pada saat yang telah ditetapkan. Izrail hanyalah tentera Allah yang menjalankan tugas seperti yang telah diamanahkan kepadanya. Walau bagaimanapun adalah menjadi hak Allah untuk menentukan kematian seseorang itu sama ada bersebab atau tidak. Sebagaimana yang dinyatakan pada awal tulisan ini, bahawa ada ketikanya malaikat maut datang hendak mencabut roh seseorang, tetapi manusia yang dikunjungi malaikat maut sedang dalam keadaan seronok bergelak ketawa, hingga malaikat maut merasa hairan terhadap manusia itu.
Ini membuktikan bahawa kematian itu tidak pernah mengenal, sama ada seseorang yang sedang sakit ataupun ketika sihat dan segar bugar. Firman Allah SWT yang bermaksud, "Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu (ajal), maka apabila telah datang waktunya (ajalnya) mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) mencepatkannya. " (Surah Al-A'raaf, ayat 34).
Semoga kita semua tergolong dalam golongan orang yang mendapat perlindungan- Nya selalu. Amin.

Thursday, July 24, 2008

TANDA 100 HARI SEBELUM HARI MATI

BACALAH DENGAN TELITI!!!
Ini adalah tanda pertama dari Allah SWT kepada hambanya dan hanya akan disedari oleh mereka yang dikehendakinya. Walau bagaimanapun semua orang Islam akan mendapat tanda ini cuma samada mereka sedar atau tidak sahaja. Tanda ini akan berlaku lazimnya selepas waktu Asar Seluruh tubuh iaitu dari hujung rambut sehingga ke hujung kaki akan mengalami getaran atau seakan-akan mengigil. Contohnya seperti daging lembu yang baru saja disembelih dimana jika diperhatikan dengan teliti kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan bergetar.Tanda ini rasanya lazat dan bagi mereka yang sedar dan berdetik dihati bahawa mungkin ini adalah tanda mati maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sedar akan kehadiran tanda ini. Bagi mereka yang tidak diberi kesedaran atau mereka yang hanyut dengan kenikmatan tanpa memikirkan soal kematian, tanda ini akan lenyap begitu sahaja tanpa sebarang munafaat. Bagi yang sedar dengan kehadiran tanda ini maka ini adalah peluang terbaik untuk memanfaatkan masa yang ada untuk mempersiapkan diri dengan amalan dan urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.
TANDA 40 HARI
Tanda ini juga akan berlaku sesudah waktu Asar. Bahagian pusat kita akan berdenyut-denyut. Pada ketika ini daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pokok yang letaknya di atas Arash Allah SWT. Maka Malaikat Maut akan mengambil daun tersebut dan mula membuatpersediaannya ke atas kita, antaranya ialah ia akan mula mengikuti kita sepanjang masa. Akan terjadi Malaikat Maut ini akan memperlihatkan wajahnya sekilas lalu dan jika ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan-akan bingung seketika. Adapun Malaikat Maut ini wujudnya cuma seorang tetapi kuasanya untuk mencabut nyawa adalah bersamaan dengan jumlah nyawa yang akan dicabutnya.
TANDA 7 HARI
Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah kesakitan di mana orang sakit yang tidak makan secara tiba-tiba ianya berselera untuk makan.
TANDA 3 HARI
Pada ketika ini akan terasa denyutan di bahagian tengah dahi kita iaitu diantara dahi kanan dan kiri. Jika tanda ini dapat dikesan maka berpuasalah kita selepas itu supaya perut kita tidak mengandungi banyak najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan kita nanti. Ketika ini juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi dan bagi orang yang sakit hidungnya akan perlahan-lahan jatuh dan ini dapat dikesan jika kita melihatnya dari bahagian sisi. Telinganya akan layu dimana bahagian hujungnya akan beransur-ansur masuk ke dalam.Telapak kakinya yang terlunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar ditegakkan.
TANDA 1 HARI
Akan berlaku sesudah waktu Asar di mana kita akan merasakan satu denyutan di sebelah belakang iaitu di kawasan ubun-ubun di mana ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui waktu Asar keesokan harinya.
TANDA AKHIR
Akan berlaku keadaan di mana kita akan merasakan satu keadaan sejuk di bahagian pusat dan ianya akan turun ke pinggang dan seterusnya akan naik ke bahagian halkum. Ketika ini hendaklah kita terus mengucap kalimah syahadah dan berdiamdiri dan menantikan kedatangan malaikat maut untuk menjemput kita kembali kepada Allah SWT yang telah menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan pula. Wallahu A'lam

Wednesday, July 23, 2008

Kalau Dahi tak Mencecah Sejadah Didunia.....


Bersihkanlah dirimu sebelum kamu dimandikan!
Berwudhu'lah kamu sebelum kamu diwudhu'kan!
Bersolatlah kamu sebelum kamu disolatkan!
Tutuplah rambutmu sebelum rambutmu ditutupkan!
Dengan kain kafan yang serba putih!

Pada waktu itu tidak guna lagi bersedih....Walaupun orang yang hadir itu merintih....
Selepas itu kamu akan diletak di atas lantai....Lalu dilaksanakanlah solat Jenazah
Dengan empat kali takbir dan satu salam
Berserta Fatihah, Selawat dan doa....

Sebagai memenuhi tuntutan Fardhu Kifayah
Tapi apakah empat kali takbir itu dapat menebus....
Segala dosa meninggalkan solat sepanjang hidup?

Apakah solat Jenazah yang tanpa rukuk dan sujud..
Dapat membayar hutang rukuk dan sujudmu yang telah luput?
Sungguh tertipulah dirimu jika beranggapan demikian....
Justeru ku menyeru sekelian Muslimin dan Muslimat....
Usunglah dirimu ke tikar Solat....Sebelum kamu diusung ke liang lahad....
Menjadi makanan cacing dan mamahan ulat!
Iringilah dirimu ke masjid....Sebelum kamu diiringi ke Pusara!
Tangisilah dosa-dosamu di dunia....Kerana tangisan tidak berguna lagi di alam baqa'!

Sucikanlah dirimu sebelum kamu disucikan!Sedarlah kamu sebelum kamu disedarkan.. ..
Dengan panggilan 'Izrail yang menakutkan!Berimanlah kamu sebelum kamu ditalkinkan!
Kerana ianya berguna untuk yang tinggal....Bukan yang pergi!

Beristighfarlah kamu sebelum kamu diistighfarkan!
Namun ketika itu istighfar tidak menyelamatkan!Ingatlah di mana saja kamu berada....

Kamu tetap memijak bumi Tuhan!Dan dibumbungi dengan langit Tuhan!
Serta menikmati rezeki Tuhan!
Justeru bila Dia menyeru,....
Sambutlah seruan-Nya
Sebelum Dia....memanggilmu buat kali yang terakhirnya!
Ingatlah kamu dahulu hanya....setitis air mani yang tidak bererti!
Lalu menjadi segumpal darah!Lalu menjadi seketul daging!
Lalu daging itu membaluti tulang! Lalu jadilah kamu insan yang mempunyai erti....
Ingatlah asal usulmu yang tidak bernilai itu...
Yang kalau jatuh ke tanah Ayam tak patuk itik tak sudu!
Tapi Allah mengangkatmu ke suatu mercu....Yang lebih agung dari malaikat!
Lahirmu bukan untuk dunia....Tapi gunakanlah ia buat melayar bahtera akhirat!

Sambutlah seruan 'Hayya 'alas Solaah'....Dengan penuh rela dan bersedia!
Sambutlah seruan 'Hayya 'alal Falaah'.... Jalan kemenangan akhirat dan dunia!
Ingatlah yang kekal ialah amal....Menjadi bekal sepanjang jalan!
Menjadi teman di perjalanan.. ..Guna kembali ke pangkuan Tuhan!
Pada hari itu tiada berguna....
Harta, tahta dan putera....Isteri, kad kredit dan kereta....
Kondominium, saham dan niaga....
Kalau dahi tak mencecah sejadah di dunia!!!"




FREE PALESTINE

My Blog List