SELAMAT MAJU JAYA DAN SUKSES
Showing posts with label tokoh. Show all posts
Showing posts with label tokoh. Show all posts

Thursday, July 01, 2010

Ketokohan Imam al-Syafi’i Rahimahullah

Beliau bernama Muhammad dengan gelaran Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk keturunan Rasulullah, iaitu Hasyim bin al-Muththalib.

Bapa beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di ‘Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana.

Ibu beliau, terdapat perbezaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang digelar Ummu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ibu Imam Syafi‘i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath.

Beliau dilahirkan pada tahun 150H. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh al-Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya.

Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan tetapi, yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (Sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir. Tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota Asqalan sekitar dua farsakh). Tempat lain yang disebut-sebut adalah kota Asqalan dan Yaman.

Ibnu Hajar memberikan penjelasan bahwa riwayat-riwayat tersebut dapat digabungkan dengan dikatakan bahwa beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di wilayah Asqalan. Ketika berumur dua tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz. Ketika berumur 10 tahun, beliau dibawa ke Mekah.

Pertumbuhannya dan Pengembaraannya Mencari Ilmu
Di Mekah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, ibunya menghantar belajar kepada seorang guru. Sebenarnya ibunya tidak mampu untuk membiayainya, tetapi guru itu ternyata rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Imam Syafi‘i bercerita, “Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, “Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.” Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi seorang guru.

Setelah menghafaz Al-Quran di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majlis-majlis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk dipakai menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadith-hadith Nabi. Dan itu terjadi pada saat beliau belum lagi berusia baligh. Sampai dikatakan bahwa beliau telah menghafal Alquran pada saat berusia 7 tahun, lalu membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 12 tahun sebelum beliau berjumpa terus dengan Imam Malik di Madinah.

Beliau juga tertarik mempelajari ilmu bahasa Arab dan syair-syairnya. Beliau memutuskan untuk tinggal di daerah pedalaman bersama suku Hudzail yang telah terkenal kefasihan dan kemurnian bahasanya, serta syair-syair mereka. Hasilnya, sekembalinya dari sana beliau telah berhasil menguasai kefasihan mereka dan menghafal seluruh syair mereka, serta mengetahui nasab orang-orang Arab, suatu hal yang kemudian banyak dipuji oleh ahli-ahli bahasa Arab yang pernah berjumpa dengannya dan yang hidup sesudahnya. Namun, takdir Allah telah menentukan jalan lain baginya. Setelah mendapatkan nasehat dari dua orang ulama, yaitu Muslim bin Khalid az-Zanji -mufti kota Mekkah-, dan al-Husain bin ‘Ali bin Yazid agar mendalami ilmu fiqih, maka beliau pun tersentuh untuk mendalaminya dan mulailah beliau melakukan pengembaraannya mencari ilmu.

Beliau mengawalinya dengan menimbanya dari ulama-ulama kotanya, Mekkah, seperti Muslim bin Khalid, Dawud bin Abdurrahman al-‘Athar, Muhammad bin Ali bin Syafi’ –yang masih terhitung paman jauhnya-, Sufyan bin ‘Uyainah –ahli hadits Mekkah-, Abdurrahman bin Abu Bakar al-Maliki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin ‘Iyadh, dan lain-lain. Di Mekkah ini, beliau mempelajari ilmu fiqih, hadits, lughoh, dan Muwaththa’ Imam Malik. Di samping itu beliau juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang kuda sampai menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal. Bahkan dikatakan bahwa dari 10 panah yang dilepasnya, 9 di antaranya pasti mengena sasaran.

Setelah mendapat izin dari para syaikh-nya untuk berfatwa, timbul keinginannya untuk mengembara ke Madinah, Dar as-Sunnah, untuk mengambil ilmu dari para ulamanya. Terlebih lagi di sana ada Imam Malik bin Anas, penyusun al-Muwaththa’. Maka berangkatlah beliau ke sana menemui sang Imam. Di hadapan Imam Malik, beliau membaca al-Muwaththa’ yang telah dihafalnya di Mekkah, dan hafalannya itu membuat Imam Malik kagum kepadanya. Beliau menjalani mulazamah kepada Imam Malik demi mengambil ilmu darinya sampai sang Imam wafat pada tahun 179. Di samping Imam Malik, beliau juga mengambil ilmu dari ulama Madinah lainnya seperti Ibrahim bin Abu Yahya, ‘Abdul ‘Aziz ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Isma‘il bin Ja‘far, Ibrahim bin Sa‘d dan masih banyak lagi.

Setelah kembali ke Mekah, beliau kemudian melanjutkan mencari ilmu ke Yaman. Di sana beliau mengambil ilmu dari Mutharrif bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf al-Qadhi, serta yang lain. Namun, berawal dari Yaman inilah beliau mendapat cobaan –satu hal yang selalu dihadapi oleh para ulama, sebelum maupun sesudah beliau-. Di Yaman, nama beliau menjadi terkenal karena sejumlah kegiatan dan kegigihannya menegakkan keadilan, dan kehebatannyanya itu sampai juga ke telinga penduduk Mekkah. Lalu, orang-orang yang tidak senang kepadanya akibat kegiatannya tadi mengadukannya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, Mereka menuduhnya hendak mengobarkan pemberontakan bersama orang-orang dari kalangan Alawiyah.

Sebagaimana dalam sejarah, Imam Syafi‘i hidup pada masa-masa awal pemerintahan Bani ‘Abbasiyah yang berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Pada masa itu, setiap khalifah dari Bani ‘Abbasiyah hampir selalu menghadapi pemberontakan orang-orang dari kalangan ‘Alawiyah. Kenyataan ini membuat mereka bersikap sangat kejam dalam memadamkan pemberontakan orang-orang ‘Alawiyah yang sebenarnya masih saudara mereka sebagai sesama Bani Hasyim.

Tuduhan dusta yang diarahkan kepadanya bahwa dia hendak mengobarkan pemberontakan, membuatnya ditangkap, lalu dipenjara di Baghdad dalam keadaan dibelenggu dengan rantai bersama sejumlah orang-orang ‘Alawiyah. Beliau bersama orang-orang ‘Alawiyah itu dihadapkan ke hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah menyuruh bawahannya menyiapkan pedang dan hamparan kulit. Setelah memeriksa mereka seorang demi seorang, ia menyuruh pegawainya memenggal kepala mereka. Ketika sampai pada gilirannya, Imam Syafi‘i berusaha memberikan penjelasan kepada Khalifah. Dengan kecerdasan dan ketenangannya serta pembelaan dari Muhammad bin al-Hasan -ahli fiqih Irak-, beliau berhasil meyakinkan Khalifah tentang ketidakbenaran apa yang dituduhkan kepadanya. Akhirnya beliau meninggalkan majlis Harun ar-Rasyid dalam keadaan bersih dari tuduhan bersekongkol dengan ‘Alawiyah dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Baghdad.

Di Baghdad, beliau kembali pada kegiatan asalnya, mencari ilmu. Beliau meneliti dan mendalami madzhab Ahlu Ra’yu. Untuk itu beliau berguru dengan mulazamah kepada Muhammad bin al-Hassan. Selain itu, kepada Isma‘il bin ‘Ulayyah dan Abdul Wahhab ats-Tsaqafiy dan lain-lain. Setelah meraih ilmu dari para ulama Irak itu, beliau kembali ke Mekkah pada saat namanya mulai dikenal. Maka mulailah ia mengajar di tempat dahulu ia belajar. Ketika musim haji tiba, ribuan jamaah haji berdatangan ke Mekkah. Mereka yang telah mendengar nama beliau dan ilmunya yang mengagumkan, bersemangat mengikuti pengajarannya sampai akhirnya nama beliau makin dikenal luas. Salah satu di antara mereka adalah Imam Ahmad bin Hanbal.

Ketika kamasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafi‘i memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi khabar-khabar yang maqbul, penjelasan tentang nasikh dan mansukh dari ayat-ayat Alquran dan lain-lain. Maka beliau pun menulis kitabnya yang terkenal, Ar-Risalah.

Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah, beliau kembali melakukan perjalanan ke Irak untuk kedua kalinya dalam rangka menolong madzhab Ash-habul Hadits di sana. Beliau mendapat sambutan meriah di Baghdad karena para ulama besar di sana telah menyebut-nyebut namanya. Dengan kedatangannya, kelompok Ash-habul Hadith merasa mendapat angin segar karena sebelumnya mereka merasa didominasi oleh Ahlu Ra’yi. Sampai-sampai dikatakan bahwa ketika beliau datang ke Baghdad, di Masjid Jami ‘ al-Gharbi terdapat sekitar 20 halaqah Ahlu Ra ‘yu. Tetapi ketika hari Jumat tiba, yang tersisa hanya 2 atau 3 halaqah saja.

Beliau menetap di Irak selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 beliau balik ke Mekkah. Di sana beliau mulai menyebar madzhabnya sendiri. Maka datanglah para penuntut ilmu kepadanya meneguk dari lautan ilmunya. Tetapi beliau hanya berada setahun di Mekkah.

Tahun 198, beliau berangkat lagi ke Irak. Namun, beliau hanya beberapa bulan saja di sana karena telah terjadi perubahan politik. Khalifah al-Makmun telah dikuasai oleh para ulama ahli kalam, dan terjebak dalam pembahasan-pembahasan tentang ilmu kalam. Sementara Imam Syafi‘i adalah orang yang paham betul tentang ilmu kalam. Beliau tahu bagaimana pertentangan ilmu ini dengan manhaj as-salaf al-shalih –yang selama ini dipegangnya- di dalam memahami masalah-masalah syariat. Hal itu karena orang-orang ahli kalam menjadikan akal sebagai patokan utama dalam menghadapi setiap masalah, menjadikannya rujukan dalam memahami syariat padahal mereka tahu bahwa akal juga memiliki keterbatasan-keterbatasan. Beliau tahu betul kebencian meraka kepada ulama ahlu hadith. Karena itulah beliau menolak madzhab mereka.

Provokasi mereka membuat Khalifah mendatangkan banyak musibah kepada para ulama ahlu hadith. Salah satunya adalah yang dikenal sebagai Yaumul Mihnah, ketika dia mengumpulkan para ulama untuk menguji dan memaksa mereka menerima paham Al-Quran itu makhluk. Akibatnya, banyak ulama yang masuk penjara, bila tidak dibunuh. Salah satu di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Karena perubahan itulah, Imam Syafi‘i kemudian memutuskan pergi ke Mesir. Sebenarnya hati kecilnya menolak pergi ke sana, tetapi akhirnya ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah. Di Mesir, beliau mendapat sambutan masyarakatnya. Di sana beliau berdakwah, menebar ilmunya, dan menulis sejumlah kitab, termasuk merevisi kitabnya ar-Risalah, sampai akhirnya beliau menemui akhir kehidupannya di sana.

Keteguhannya Membela Sunnah
Sebagai seorang yang mengikuti manhaj Ashahabul Hadith, beliau dalam menetapkan suatu masalah terutama masalah aqidah selalu menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi sebagai landasan dan sumber hukumnya. Beliau selalu menyebutkan dalil-dalil dari keduanya dan menjadikannya hujjah dalam menghadapi penentangnya, terutama dari kalangan ahli kalam. Beliau berkata, “Jika kalian telah mendapatkan Sunnah Nabi, maka ikutilah dan janganlah kalian berpaling mengambil pendapat yang lain.” Karena komitmennya mengikuti sunnah dan membelanya itu, beliau mendapat gelar Nashir as-Sunnah wa al-Hadith.

Wafatnya
Karena kesibukannya berdakwah dan menyebarkan ilmu, beliau menderita penyakit bawasir yang selalu mengeluarkan darah. Makin lama penyakitnya itu bertambah parah hingga akhirnya beliau wafat karenanya. Beliau wafat pada malam Jumat setelah shalat Isya’ hari terakhir bulan Rajab permulaan tahun 204 dalam usia 54 tahun. Semoga Allah memberikan kepadanya rahmat-Nya yang luas.


Hasil Karya
Sekalipun beliau hanya hidup selama setengah abad dan kesibukannya melakukan perjalanan jauh untuk mencari ilmu, hal itu tidaklah menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Jumlahnya menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 bagian, sedangkan menurut al-Marwaziy mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih, adab dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam al-Fahrasat.
Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah al-Umm, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah, dan ar-Risalah al-Jadidah (yang telah direvisinya) mengenai Alquran dan As-Sunnah serta kedudukannya dalam syariat.

Sumber :
1. Al-Umm, bagian muqaddimah hal 3-33.
2. Siyar A‘lam an-Nubala’
3. Manhaj Aqidah Imam asy-Syafi‘, terjemah kitab Manhaj al-Imam Asy-Syafi ‘i fi
...dipetik dari blog Ibn Abdillah al-Asyaefillah untuk pencinta PQS..

Saturday, February 28, 2009

Menelusuri Ketokohan Muhammad Ibn Musa al-khawarizmi


Nama sebenar al-Khawarizmi ialah . Selain itu beliau dikenali sebagai Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Yusoff. Al-Khawarizmi telah dikanali di Barat sebagai al-Khawarizmi, al-Cowarizmi, al-Ahawizmi, al-Karismi, al-Goritmi, al-Gorismi dan beberapa cara ejaan lagi. Beliaulah yang menemukan Al Jabru wal Mukobala. (penjabaran dan penyelesaian). Di nama latinkan menjadi Aljabar.














Dilahirkan di Bukhara. Pada tahun 780-850M adalah zaman kegemilangan al-Khawarizmi. al-Khawarizmi telah wafat antara tahun 220 dan 230M. Ada yang mengatakan al-Khawarizmi hidup sekitar awal pertengahan abad ke-9M. Sumber lain menegaskan beliau di Khawarism, Usbekistan pada tahun 194H/780M dan meninggal tahun 266H/850M di Baghdad.


Dalam bidang pendidikan al-Khawarizmi ialah seorang tokoh Islam yang berpengetahuan luas meliputi bidang syariat malah juga dalam bidang falsafah, logik, aritmetik, geometri, muzik, kejuruteraan, sejarah Islam dan kimia. Al-Khawarizmi sebagai guru al-jabar di Eropah. Beliau telah menciptakan pemakaian Secans dan Tangens dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi. Dalam usia muda beliau bekerja di bawah pemerintahan Khalifah al-Ma’mun, bekerja di Bayt al-Hikmah di Baghdad. Beliau bekerja dalam sebuah observatory iaitu tempat menekuni belajar matematik dan astronomi. Al-Khawarizmi juga dipercayai memimpin perpustakaan khalifah. Beliau pernah memperkenalkan angka-angka India dan cara-cara perhitungan India pada dunia Islam. Beliau juga merupakan seorang penulis Ensiklopedia Pelbagai Disiplin.


Al-Khawarizmi adalah seorang tokoh yang mula-mula memperkenalkan aljabar dan hisab. Banyak lagi ilmu pengetahuan yang beliau pelajari dalam bidang matematik dan menghasilkan konsep-konsep matematik yang begitu popular sehingga digunakan pada zaman sekarang.

Gelaran Al-Khawarizmi yang dikenali di Barat ialah al-Khawarizmi, al-Cowarizmi, al-karismi, al-Goritmi atau al-Gorism. Nama al-gorism telah dikenali pada abad pertengahan. Negara Perancis pula al-Gorism muncul sebagai Augryam atau Angrism. Negara Inggeris pula ia dikenali sebagai Aurym atau Augrim.

Antara karya sumbangan hasil karya beliau sendiri ialah :
Al-Jabr wa’l Muqabalah : beliau telah mencipta pemakaian secans dan tangens dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi.
Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah : Beliau telah mengajukan contoh-contoh persoalan matematik dan telah mengemukakan 800 buah soalan yang sebahagian daripadanya merupakan persoalan yamng dikemukakan oleh Neo. Babylian dalam bentuk dugaan yang telah dibuktikan kebenarannya oleh al-Khawarizmi.
Sistem Nombor : Beliau telah memperkenalkan konsep sifat dan ia penting dalam sistem nombor pada zaman sekarang.
Ini adalah contoh-contoh sebahagian penulisan karya beliau dan ia telah menjadi popular serta dipelajari oleh semua masyarakat yang hidup di dunia ini. Al-Khawarizmi dapat menghasilkan karya-karya agong dalam bidang matamatik. Hasil karya tersebut terkenal pada zaman tamadun Islam dan dikenali di Barat.

Antara hasil karya yang telah beliau hasilkan ialah :
Sistem Nombor : ia telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin iaitu De Numero Indorum.
‘Mufatih al-Ulum’ : yang bermaksud beliau adalah pencinta ilmu dalam pelbagai bidang.
Al-Jami wa al-Tafsir bi Hisab al-Hind : Karya ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin oleh Prince Boniopagri.
Al-Mukhtasar Fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah : Pada tahun 820M dan ia mengenai algebra.
Al-Amal bi’ Usturlab’
Al-Tarikh
Al-Maqala Fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabilah.

Ketokohan al-Khawarizmi dapat dilihat dari dua sudut iaitu dari bidang matematik dan astronomi. Namun bidang matematik akan diperjelaskan secara terperinci berbanding astronomi kerana ia melibatkan kajian yang dikaji. Dalam bidang matematik, al-Khawarizmi telah memperkenalkan aljabar dan hisab. Beliau banyak menghasilkan karya-karya yang masyhor ketika zaman tamadun Islam. Antara karya-karya yang beliau hasilkan ialah ‘Mafatih al-Ulum’. Sistem nombor adalah salah satu sumbangan dan telah digunakan pada zaman tamadun Islam. Banyak kaedah yang diperkenalkan dalam setiap karya yang dihasilkan. Antaranya ialah kos, sin dan tan dalam trigonometri penyelesaian persamaan, teorem segitiga sama juga segitiga sama kaki dan mengira luas segitiga, segi empat selari dan bulatan dalam geometri. Masaalah pecahan dan sifat nombor perdana dan teori nombor juga diperkenalkan.

Banyak lagi konsep dalam matematik yang telah diperkenalkan al-khawarizmi sendiri.
Bidang astronomi juga membuatkan al-Khawarizmi dikenali pada zaman tamadun Islam. Astronomi dapat ditakrifkan sebagai ilmu falaq [pengetahuan tentang bintang-bintang yang melibatkan kajian tentang kedudukan, pergerakan, dan pemikiran serta tafsiran yang berkaitan dengan bintang]. Seawal kurun ketiga lagi lagi, al-Khawarizmi telah menghasilkan dua buah yang salah satu daripadanyatelah diterjemahkan ke Bahasa Latin dan memberi pengaruh besar ke atas Muslim dan orangSpanyol dan Kristian. Penggunaan matematik dalam astronomi sebelum tamadun Islam amat sedikit dan terhad. Ini disebabkan oleh kemunduran pengetahuan matematik yang terhad kepada pengguna aritmetik dan geometri sahaja.


Keperibadian al-Khawarizmi telah diakui oleh orang Islam dan juga Barat. Al-Khawarizmi telah dianggap sebagai sarjana matematik yang masyhur oleh orang Islam dan ia diperakui oleh orang Barat. Ini dapat dibuktikan bahawa G.Sartonmengatakan “pencapaian-pencapaian yang tertinggi telah doperolehi oleh orang-orang Timur….” Maka temasuklah al-Khawarizmi itu sendiri. Al-Khawarizmi patu disanjungi kerana beliau adalah seorang yang pintar. Menurut Wiedmann pula berkata….’ al-Khawarizmi mempunyai personaliti yang teguh dan seorang yang bergeliga sains’. Setiap apa yang dinyatakan oleh penulis, ini telah terbukti bahawa al-Khawarizmi mempunyai sifat keperibadian yang tinggi dan sekaligus disanjung oleh orang Islam.

Monday, February 16, 2009

Mufassir Agung Nusantara


HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906. Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.


Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai PENSYARAH di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjawat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).


Hamka adalah seorang yang bijak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggeris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.



Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.



Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota parti politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituan Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960.



Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.



Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (10 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli. Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.Hamka telah pulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia, Brunei dan Singapura, turut dihargai. Antara 79 buah karya agung Allahyarham Hamka ialah Di Bawah Lindungan Ka'bah (1936) Pedoman Masyarakat,Balai Pustaka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka Tafsir Al-AzharJuzu' 1-30, ditulis pada masa beliau dipenjara oleh Sukarno.

Saturday, May 24, 2008

Ketokohan Imam Ahmad Ibn Hambal

Imam Ahmad, Orang Tua dan Anjing

Imam Ahmad bin Hambal merupakan seorang ahli hadith yang sangat terkenal. Beliau juga merupakan ahli fiqh yang terkenal di seluruh Iraq. Beliau adalah anak murid kepada Imam Syafi’e yang mewarisi semangat mencari ilmu dan mengembara demi mencari hadith di seluruh dunia Islam. Pada suatu hari, Imam Ahmad terdengar bahwa di Khurasan, terdapat seorang tua yang memiliki hadith yang sampai sanadnya kpd Nabi Muhammad S.A.W. Jadi tanpa membuang masa, Imam Ahmad pun menyediakan bekalan dan bersiap-siap untuk perjalanannya menaiki unta. Perlu diingatkan disini, Khurasan dengan Baghdad jaraknya beribu-ribu kilometer. Betapa besarnya pengorbanan ahli-ahli hadith dalam usaha mengumpulkan hadith. Moga Allah menganugerahi mereka darjat yang tinggi dan diletakkan di tempat istimewa di syugaNya. Imam Ahmad pun berjalan sehingga bekalan yang dibawanya habis, dua hari dia tak makan sehingga beliau sampai ke suatu Bandar akan tetapi untuk mendapatkan bantuan Baitul Mal, Imam Ahmad rasa malu. Jadi, Imam Ahmad bekerja di pasar selama dua minggu sampailah dapat mengumpulkan bekalan untuk meneruskan perjalanan semula. Kemudian setelah hampir sebulan, sampai la juga kat tempat orang tua tu tinggal. Ketika beliau sampai orang tua tersebut sedang memberi makan kepada seekor anjing. Imam Ahmad bagi salam, orang tua tu menjawab dan memandang sekilas lalu kepada Imam Ahmad lalu kembali memberi makan pada anjing tersebut tanpa menyambut Imam Ahmad. Imam Ahmad yang sangat letih pula menunjukkan kesetiaannya menunggu orang tua tersebut. Selesai sahaja ia memberi makan orang tua tersebut seraya berkata kepada Imam Ahmad: “Mungkin dalam hatimu mengatakan aku lebih memperhatikan anjing lebih daripadamu?”“Benar.” Jawap Imam Ahmad Orang tua itu berkata: “Dengarkanlah baik-baik. Perlu kau ketahui, aku mendengar dari Abu Zinad dari Al-A’raj dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahawasanya Rasulullah S.A.W bersabda:”Siapa yang memutuskan harapan orang yang datang kepadanya, Allah akan memutuskan harapannya pada hari kiamat dan tidak akan masuk syurga” Orang tua itu berkata lagi bahawa di kampungnya itu tiada anjing. Tiba-tiba anjing tersebut datang kepadanya dalam keadaan lapar dan mengharap supaya diberi makan. “Aku tidak mahu memutuskan harapannya hanya kerana kedatanganmu. Nah, sekarang sudah jelas permasalahannya. Sekarang apa pula keperluanmu datang kepadaku? Kata Imam Ahmad: “Hadis yang kau ucapkan itu sudah memenuhi tujuanku datang kesini.” Jawab Imam Ahmad. Cuba kita bayangkan hadith itulah sahaja hasil perjalanan beliau yg melelahkan itu. Subahnallah maha suci Allah. Indahnya cerita ini, menyentuh sanubari kita. Kisah satu perjalanan yang panjang, kisah tentang perngorbanan, kisah tentang usaha yang gigih, kisah tentang memelihara kata-kata Rasulullah, kisah tentang seorang yang begitu menghiasi hidupnya dengan hadith yang dikandung dalam jiwanya. Indah, indah sungguh indah! Ada baiknya kalau kita muhasabah kembali. Begitukah pengorbanan kita dalam hidup seharian? Seperti Imam Ahmadkah yang sanggup berkorban segalanya demi agama? Atau seperti orang tua itu tadikah yang begitu memelihara apa yang diketahui, dan terus terusan mengamalkannya? Atau berapa banyakkah orang yang datang meminta, tapi kita putuskan harapannya? Astagfirullah. Muhasabah yang sangat besar. Moga Allah ampuni dosa-dosa yang telah kita lakukan.

Sunday, May 11, 2008

Ketokohan : Imam Al-Syafi'e

Suatu saat, ketika hamil tua, Ibunda Imam Syafi’e bermimpi ada cahaya terang keluar dari perutnya, cahaya itu kemudian menjadi salah satu bintang di langit. Bintang itu bersinar sangat terang. Sinarnya kemudian jatuh ke suatu negeri dan menerangi seluruh negeri tersebut.
Ibunda Imam Syafi’e kemudian mendatangi ulama ahli ta’bir mimpi. Ahli ta’bir mimpi itu kemudian menjelaskan bahawa nanti Ibunda Imam Syafi’e akan melahirkan seorang tokoh besar ahli ilmu pengetahuan yang akan menerangi seluruh dunia ini. Dan ternyata benar Imam Syafi’i menjadi salah satu dari Imam Mazhab besar dan ajarannya diikuti di seluruh dunia ini.
Di negara kita tercinta ini, Mazhab Syafi’e diikuti oleh majoriti umat Islam.
Hafalan Imam Syafi’i sangat kuat. Pada umur 9 tahun ia hafal Al-Quran dan pada umur 10 tahun ia hafal kitab Al Muwatha' karangan Imam Maliki. Menurut Ibnu Farhun, kitab ini dihafal dalam waktu sembilan malam saja. Hal ini disebabkan pada saat itu Imam Syafi'e tidak mempunyai kitab itu sedangkan kitab itu dirasa penting oleh Imam Syafi’e dan Imam Syafi’e selalu mengembalikan buku yang dipinjamnya dari orang lain . Maka Imam Syafi’e pun meminjam buku itu dan berusaha menghafalnya dalam waktu singkat dan berhasil! Kitab itu berhasil dihafal dalam waktu sembilan hari! Memang ada hikmah di sebalik ketidakmilikannya itu.
Ketika masih remaja, kamar Imam Syafi'e penuh sesak dengan catatan-catatan pelajaran beliau, sehingga terlalu sempit untuk tidur. Lalu agar tidak sempit, Imam Syafi'e berazam untuk menghafalnya agar catatan itu tidak diperlukan. Iapun lalu mengurung diri di kamarnya selama berbulan-bulan dan keluar kamar hanya untuk makan dan buang hajat. Dan, subhanallah, ia berhasil menghafalnya! Dan kamarnyapun tidak penuh sesak lagi.
Suatu ketika pernah Imam Syafi’e hilang hafalan Quran sebanyak satu juzuk. Ia bingung. Ketika ia melakukan muhasabah pada malam harinya lalu ia mengetahui bahawa ia pada siang harinya secara tak sengaja melihat betis nenek-nenek, lalu ia pun bertaubat. Nah! Wajar saja orang sekarang susah menghafal Al Quran. Kerana sering melihat secara sengaja wanita muda dan lebih dari betis! Sangat berlawanan dengan Imam Syafi'i.Kemudian guru Imam Syafi'e iaitu Imam Maliki menasihati demikian, Wahai Muhammad bin Idris Asy Syafi'e, Allah telah memasukkan cahaya ke dalam hatimu. Kerana itu janganlah engkau kotori dengan berbuat maksiat. Bertakwalah kepada Allah maka engkau akan diberi-Nya sesuatu!
Gurunya yang lain iaitu Waki' bin Jarrah juga menasihati sebagai berikut:
"Aku mengaku kepada Waki' tentang sulitnya menghafal pelajaran. Beliau memberitahukan supaya meninggalkan maksiat. Lantaran beliau berkata bahawa ilmu adalah cahaya (nur). Dan cahaya Allah tidak akan diberikan (ditunjukkan) kepada pelaku maksiat."
Imam Syafi'e dilahirkan di Gaza, Palestin dengan nama Muhammad bin Idris. Imam Syafi'e lahir di sini bukan kerana ia orang wilayah ini. Ayah dan Ibu Imam Syaf'ï orang Makkah, Hijaz (Arab Saudi sekarang). Suatu ketika mereka mengadakan perjalanan ke Gaza untuk menuntut ilmu. Sewaktu ia menuntut ilmu, ayah Imam Syafii wafat. Ketika itu Ibunda Imam Syafi’i tengah hamil tua. Tak lama kemudian lahirlah Imam Syafi’e di Gaza. Imam Syafi'e dilahirkan pada 150 H (767 M). Menurut riwayat, pada tahun itu juga wafatnya Imam Hanafi di Baghdad.
Riwayat yang lain mengatakan bahawa ketika itu oleh keluarga besar Imam Syafi’e telah diadakan pengiraan bahawa hari wafatnya Imam Hanafi itu adalah tepat pada hari kelahiran Imam Syafi'e. Dengan riwayat ini, maka sebahagian ahli sejarah Islam mencatat, bahawa hari lahir Imam Syafi'e itu adalah bertepatan dengan hari wafatnya Imam Hanafi.
Bahkan menurut riwayat yang lain diterangkan, bahawa pada bulan dan tahun itu juga wafatnya Imam Ibnu Juraij Al Makky, seorang alim besar di kota Makkah yang terkenal sebagai Imam Ahli Hijaz. Dengan adanya dua peristiwa meninggalnya dua tokoh besar maka berdasarkan nubuwwah Nabi Muhammad SAW dapat diramalkan akan lahirnya penggantinya. Imam Syafi'elah yang diramalkan menggantikan kedua ulama besar itu sekaligus.
Silsilah Imam Syafi'e dari ayahnya adalah bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi'e bin Saib bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthalib bin Abdu Manaf. Dengan ini jelaslah bahawa Imam Syafi’e itu keturunan Quraisy dan silsilah belaiu bersatu dengan silsilah Nabi Muhammad SAW pada Abdu Manaf (datuk Nabi Muhammad SAW yang ketiga). Adapun silsilah dari ibunya adalah binti Fatimah binti Abdullah bin Al Hasan bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (bapa saudara Nabi Muhammad SAW). Maka Imam Syafi'e sering disebut juga sebagai anak saudara Nabi.
Pada usia 15 tahun Imam Syafi'e telah diberi izin oleh para gurunya yang ahli untuk mengajar dan memberi fatwa kepada khalayak ramai. Maka Imam Syafi'e pun tidak keberatan menjadi guru besar dan mufti di dalam Masjidil Haram di Makkah. Tetapi sementara itu Imam Syafi'e tetap belajar kepada guru-gurunya yang ahli di Makkah itu pula.
Orang-orang yang datang ke Majlis Imam Syafi'e bukanlah orang sembarangan tetapi terdiri dari para ulama, ahli syair, ahli kesusastraan Arab dan orang-orang terkemuka.
Imam Syafi'e juga sangat merdu suaranya ketika membaca Al Quran, sehingga para ulama di Makkah apabila hendak khusyuk mendengarkan bacaan Al Quran sampai mengalirkan air mata, dipanggillah Imam Syafiidi satu tempat, lalu mereka berkumpul, mendengarkan bacaan ayat-ayat Al Qur-an dari Imam Syafii, padahal saat itu ia baru berusia 13 tahun.
Pada usia 20 tahun Imam Syafi'e pergi ke Madinah kerana rindu ingin bertemu Imam Maliki yang belum pernah ditemuinya tetapi kitabnya telah dihafal sejak usia 10 tahun. Imam Syafi'e rindu ingin berguru langsung kepada Imam Maliki yang dianggapnya sebagai ahli ilmu fiqh utama dan ahli ilmu hadith dan Al Quran. Ia pun menjadi murid tercerdas Imam Maliki. Imam Maliki juga tak segan-segan memberikan biasiswa kepada Imam Syafiï. Imam Syafiï pun tak segan-segan mengritik pendapat gurunya sambil tetap menghormatinya dengan menyebutnya al-Ustaz di dalam kitab-kitabnya tanpa pernah menyebut nama Imam Maliki. Imam Maliki walaupun banyak dikritik Imam Syafiï tidak mencabut biasiswa yang diberikan kepada Imam Syafiï. Bukan main tawadhu'nya Imam Maliki. Sikap ini nantinya diikuti oleh Imam Syafi'e. Imam Syafi'e berkata bahawa apabila ada orang yang mengritik mazhabku dengan hadith sahih maka itulah mazhabku. Ia juga berkata, Adapun yang aku katakan dan gariskan, akan tetapi bertentangan dengan perkataan Rasulullah, maka pendapatku sebenarnya adalah apa yang dikatakan oleh Rasululah SAW itu.

Setelah empat tahun lebih beberapa bulan Imam Syafi'ekemudian pergi ke Baghdad (Iraq) untuk menuntut ilmu dan mengeluarkan buku kumpulan fatwa-fatwa fiqh-nya yang di kemudian hari disebut ïqaul qadim (pendapat awal) Imam Syafi. Menerusi Khalifah Harun Al Rasyid, Imam Syafi'e diangkat menjadi guru di Baghdad. Atas perintah dan permintaan Khalifah, Imam Syafii sering mengritik dan menasihati Khalifah dengan kata-kata yang halus dan syair-syair sehingga ketika Khalifah menyedari kesalahannya dan ia sering menangis di depan Imam Syafi'e.
Tak lama kemudian Imam Syafi'e pergi ke Mesir dan belajar serta memberi fatwa di sana. Ia juga menulis banyak kitab fiqh di sana yang nantinya disebut qaul jadid (pendapat mutakhir) Imam Syafi'e. Pada qaul jadid inilah Imam Syafi'e berfatwa boleh berzakat dengan beras.
Pada usia 54 tahun Imam Syafiï meninggal dunia di Mesir di rumah sahabatnya Abdullah bin Hakam sesudah Maghrib, malam Khamis akhir bulan Rajab tahun 204 H. Ia dimakamkan esok harinya di sebelah barat Al Khandak, dekat kuburan Zahrah.
Ibnu Farhun dalam kitabnya menceritakan bahawa baru saja Imam Syafi'e meninggal dunia, lalu datanglah seorang Arab dan bertanya, di manakah bulan dan matahari majlis ini? mereka menjawab bahawa beliau telah meninggal.
Orang itupun menangis dengan kuat sambil berucap, Semoga Allah mengasihinya dan mengampuni segala dosa. Beliau adalah orang yang membuka pintu hujjah yang terang,dan yang membukakan pintu-pintu fikiran yang tertutup rapat. Semoga Allah meredhainya
adaptasi Ummah Online..

Thursday, May 01, 2008

Ketokohan Imam Bukhari r.a.


Salah satu dari bahagian penting yang menarik untuk diketahui dalam usaha kita memahami Al-Sunnah atau hadith-hadith Nabi ialah mengetahui biodata dan sejarah tokoh-tokoh yang mengumpulkan hadith. Sumber dari segala sumber hukum yang utama atau yang pokok di dalam agama Islam adalah Al-Qur'an dan Al-Sunnah. Untuk mengetahui Al-Sunnah atau hadith-hadith Nabi, maka salah satu dari beberapa bahagian penting yang tidak kurang menariknya adalah mengetahui biodata dan riwayat hidup tokoh yang mengumpulkan hadith, yang dengan jasa-jasa mereka kita yang hidup pada zaman sekarang ini dapat dengan mudah memperoleh sumber hukum secara lengkap dan sistematik serta dapat melaksanakan atau meneladani kehidupan Rasulullah untuk beribadah seperti yang dicontohkannya. Untuk itu kita perhalusi Sejarah Hidup Imam Bukhari, Tokoh Penghimpun Hadith yang paling terkenal serta Sekilas Penjelasan Tentang Kitab Hadith-nya yang masyhur pada abad ketiga Hijriah

Imam Bukhari r.a
Tokoh Islam penghimpun dan penyusun hadith yang paling terkenal diantara enam tokoh tersebut di atas adalah Amirul-Mu'minin fil-Hadith (pemimpin orang mukmin dalam hadith). Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, terkenal kemudian sebagai Imam Bukhari, lahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M), cucu seorang Persia bernama Bardizbah. Datuknya, Bardizbah, adalah pemeluk Majusi, agama kaumnya. Kemudian putranya, al-Mughirah, memeluk Islam di bawah bimbingan al-Yaman al Ja'fi, gubenor Bukhara. Pada masa itu Wala dinisbahkan kepadanya. Kerana itulah ia dikatakan "al-Mughirah al-Jafi." Mengenai datuknya, Ibrahim, tidak terdapat data yang menjelaskan. Sedangkan ayahnya, Ismail, seorang ulama besar ahli hadith. Ia belajar hadith dari Hammad ibn Zayd dan Imam Malik. Riwayat hidupnya telah dipaparkan oleh Ibn Hibban dalam kitab As-Siqat, begitu juga putranya, Imam Bukhari, membuat biografinya dalam at-Tarikh al-Kabir. Ayah Bukhari disamping sebagai orang berilmu, ia juga sangat wara' (menghindari yang subhat/meragukan dan haram) dan taqwa. Diceritakan, bahawa ketika menjelang wafatnya, ia berkata: "Dalam harta yang kumiliki tidak terdapat sedikitpun wang yang haram maupun yang subhat." Dengan demikian, jelaslah bahawa Bukhari hidup dan terlahir dalam lingkungan keluarga yang berilmu, taat beragama dan wara'. Tidak hairan jika ia lahir dan mewarisi sifat-sifat mulia dari ayahnya itu. Ia dilahirkan di Bukhara setelah salat Jum'at. Tak lama setelah bayi yang baru lahir itu membuka matanya, iapun kehilangan penglihatannya. Ayahnya sangat bersedih hati. Ibunya yang saleh menagis dan selalu berdo'a ke hadapan Tuhan, memohon agar bayinya bisa melihat. Kemudian dalam tidurnya perempuan itu bermimpi didatangi Nabi Ibrahim yang berkata: "Wahai ibu, Allah telah menyembuhkan penyakit putramu dan kini ia sudah dapat melihat kembali, semua itu berkat do'amu yang tiada henti-hentinya." Ketika ia terbangun, penglihatan bayinya sudah normal. Ayahnya meninggal di waktu dia masih kecil dan meninggalkan banyak harta yang memungkinkan ia hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Dia dirawat dan dididik oleh ibunya dengan tekun dan penuh perhatian. Keunggulan dan kejeniusan Bukhari sudah nampak semenjak masih kecil. Allah menganugerahkan kepadanya hati yang cerdas, pikiran yang tajam dan daya hafalan yang sangat kuat, teristimewa dalam menghafal hadith. Ketika berusia 10 tahun, ia sudah banyak menghafal hadith. Pada usia 16 tahun ia bersama ibu dan abang sulungnya mengunjungi berbagai kota suci. Kemudian ia banyak menemui para ulama dan tokoh-tokoh negerinya untuk memperoleh dan belajar hadith, bertukar pikiran dan berdiskusi dengan mereka. Dalam usia 16 tahun, ia sudah hafal kitab sunan Ibn Mubarak dan Waki, juga mengetahui pendapat-pendapat ahli ra'yi (penganut faham rasional), dasar-dasar dan mazhabnya. Rasyid ibn Ismail, abangnya yang tertua menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberpa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia dicela membuang waktu dengan percuma kerana tidak mencatat. Bukhari diam tidak menjawab. Pada suatu hari, kerana merasa kesal terhadap celaan yang terus-menerus itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka. Tercenganglah mereka semua kerana Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 haddits, lengkap terperinci dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.


Pengembaraannya Tahun 210 H,
Bukhari berangkat menuju Baitullah untuk menunaikan ibadah haji, disertai ibu dan saudaranya, Ahmad. Saudaranya yang lebih tua ini kemudian pulang kembali ke Bukhara, sedang dia sendiri memilih Mekah sebagai tempat tinggalnya. Mekah merupakan salah satu pusat ilmu yang penting di Hijaz. Sewaktu-waktu ia pergi ke Madinah. Di kedua tanah suci itulah ia menulis sebahagian karya-karyanya dan menyusun dasar-dasar kitab Al-Jami'as-Shahih dan pendahuluannya. Ia menulis Tarikh Kabir-nya di dekat makam Nabi s.a.w. dan banyak menulis pada waktu malam hari yang terang bulan. Sementara itu ketiga buku tarikhnya, As-Sagir, Al-Awsat dan Al-Kabir, muncul dari kemampuannya yang tinggi mengenai pengetahuan terhadap tokoh-tokoh dan kepandaiannya bemberikan kritik, sehingga ia pernah berkata bahawa sedikit sekali nama-nama yang disebutkan dalam tarikh yang tidak ia ketahui kisahnya. Kemudian ia pun memulai studi perjalanan dunia Islam selama 16 tahun. Dalam perjalanannya ke berbagai negeri, hampir semua negeri Islam telah ia kunjungi sampai ke seluruh Asia Barat. Diceritakan bahawa ia pernah berkata: "Saya telah mengunjungi Syam, Mesir, dan Jazirah masing-masing dua kali, ke basrah empat kali, menetap di Hijaz (Mekah dan Madinah) selama enam tahun dan tak dapat dihitung lagi berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadith." Pada waktu itu, Baghdad adalah ibu kota negara yang merupakan gudang ilmu dan ulama. Di negeri itu, ia sering menemui Imam Ahmad bin Hambal dan tidak jarang ia mengajaknya untuk menetap di negeri tersebut dan mencelanya kerana menetap di negeri Khurasan. Dalam setiap perjalanannya yang melelahkan itu, Imam Bukhari senantiasa menghimpun hadith-hadith dan ilmu pengetahuan dan mencatatnya sekaligus. Di tengah malam yang sunyi, ia bangun dari tidurnya, menyalakan lampu dan menulis setiap masalah yang terlintas di hatinya, setelah itu lampu di padamkan kembali. Perbutan ini ia lakukan hampir 20 kali setiap malamnya. Ia merawi hadith dari 80.000 perawi, dan berkat ingatannya yang memang super jenius, ia dapat menghapal hadith sebanyak itu lengkap dengan sumbernya.


Kemasyhuran Imam Bukhari
Imam Bukhari tersohor hingga ke bahagian dunia Islam yang jauh, dan ke mana pun ia pergi selalu di alu-alukan. Masyarakat hairan dan kagum akan ingatannya yang luar biasa. Pada tahun 250 H. Imam Bukhari mengunjungi Naisabur. Kedatangannya disambut gembira oleh para penduduk, juga oleh gurunya, az-Zihli dan para ulama lainnya. Imam Muslim bin al-Hajjaj, pengarang kitab as-Shahih Muslim menceritakan: "Ketika Muhammad bin Ismail datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya." Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (± 100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya az-Zihli berkata: "Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya. Esok paginya Muhammad bin Yahya az-Zihli, sebahagian ulama dan penduduk Naisabur menyongsong kedatangan Imam Bukhari, ia pun lalu memasuki negeri itu dan menetap di daerah perkampungan orang-orang Bukhara. Selama menetap di negeri itu, ia mengajarkan hadith secara tetap. Sementara itu, az-zihli pun berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian yang diberikannya. Ia berkata: "Pergilah kalian kepada orang alim yang saleh itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya."

Imam Bukhari Difitnah
Tak lama kemudian terjadi fitnah terhadap Imam bukhari atas perbuatan orang-orang yang iri dengki. Mereka meniupkan tuduhannya kepada Imam Bukhari sebagai orang yang berpendapat bahawa "Al-Qur'an adalah makhluk." Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, az-Zihli kepadanya, sehingga ia berkata: "Barang siapa berpendapat lafaz-lafaz Al-Qur'an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid’ahh. Ia tidak boleh diajak bicara dan majlisnya tidak boleh di datangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majlisnya, curigailah dia." Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya. Pada hakikatnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya: "Bagaimana pendapat Anda tentang lafaz-lafaz Al-Qur'an, makhluk ataukah bukan?" Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali. Tetapi orang tersebut terus mendesaknya, maka ia menjawab: "Al-Qur'an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid’ah." Yang dimaksud dengan perbuatan manusia adalah bacaan dan ucapan mereka. Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli tahqiq dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta dan tuli. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahawa Bukhari perbah berkata: "Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Qur'an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW. yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman kemudian Ali. Dengan berpegang pada keyakinan dan keimanan inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah." Demikian juga ia pernah berkata: "Barang siapa menuduhku berpendapat bahawa lafaz-lafaz Al-Qur'an adalah makhluk, ia adalah pendusta." Az-Zahli benar-benar telah murka kepadanya, sehingga ia berkata: "Lelaki itu (Bukhari) tidak boleh tinggal bersamaku di negeri ini." Oleh kerana Imam Bukhari berpendapat bahawa keluar dari negeri itu lebih baik, demi menjaga dirinya, dengan hrapan agar fitnah yang menimpanya itu dapat mereda, maka ia pun memutuskan untuk keluar dari negeri tersebut. Setelah keluar dari Naisabur, Imam Bukhari pulang ke negerinya sendiri, Bukhara. Kedatangannya disambut meriah oleh seluruh penduduk. Untuk keperluan itu, mereka mengadakan upacara besar-besaran, mendirikan kemah-kemah sepanjang satu farsakh (± 8 km) dari luar kota dan menabur-naburkan uang dirham dan dinar sebagai manifestasi kegembiraan mereka. Selama beberapa tahun menetap di negerinya itu, ia mengadakan majlis pengajian dan pengajaran hadith. Tetapi kemudian badai fitnah datang lagi. Kali ini badai itu datang dari penguasa Bukhara sendiri, Khalid bin Ahmad az-Zihli, walaupun sebabnya timbul dari sikap Imam Bukhari yang terlalu memuliakan ilmu yang dimlikinya. Ketika itu, penguasa Bukhara, mengirimkan utusan kepada Imam Bukhari, supaya ia mengirimkan kepadanya dua buah karangannya, al-Jami' al-Shahih dan Tarikh. Imam Bukhari keberatan memenuhi permintaan itu. Ia hanya berpesan kepada utusan itu agar disampaikan kepada Khalid, bahawa "Aku tidak akan merendahkan ilmu dengan membawanya ke istana. Jika hal ini tidak berkenan di hati tuan, tuan adalah penguasa, maka keluarkanlah larangan supaya aku tidak mengadakan majlis pengajian. Dengan begitu, aku mempunyai alas an di sisi Allah kelak pada hari kiamat, bahawa sebenarnya aku tidak menyembunyikan ilmu." Mendapat jawaban seperti itu, sang penguasa naik pitam, ia memerintahkan orang-orangnya agar melancarkan hasutan yang dapat memojokkan Imam Bukhari. Dengan demikian ia mempunyai alasan untuk mengusir Imam Bukhari. Tak lama kemudian Imam Bukhari pun diusir dari negerinya sendiri, Bukhara. Imam Bukhari, kemudian mendo'akan tidak baik atas Khalid yang telah mengusirnya secara tidak sah. Belum sebulan berlalu, Ibn Tahir memerintahkan agar Khalid bin Ahmad dijatuhi hukuman, dipermalukan di depan umum dengan menungang himar betina. Maka hidup sang penguasa yang zalim kepada Imam Bukhari itu berakhir dengan kehinaan dan dipenjara.

Kewafatannya Imam Bukhari
"Di antara ciptaan Tuhan pada masanya, Imam Bukharilah agaknya yang paling bijaksana." Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari yang isinya meminta ia supaya menetap di negeri mereka. Maka kemudian ia pergi untuk memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil yang terletak dua farsakh sebelum Samarkand, dan desa itu terdapat beberapa familinya, ia pun singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi mereka. Tetapi di desa itu Imam Bukhari jatuh sakit hingga menemui ajalnya. Ia wafat pada malam Idul Fitri tahun 256 H. (31 Agustus 870 M), dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahawa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Jenazahnya dikebumikan lepas dzuhur, hari raya Idul Fitri, sesudah ia melewati perjalanan hidup panjang yang penuh dengan berbagai amal yang mulia. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya.


Guru Imam Bukhari.
Pengembaraannya ke berbagai negeri telah mempertemukan Imam Bukhari dengan guru-guru yang mencapai jumlah sangat banyak. Diceritakan bahawa dia menyatakan: "Aku menulis hadith yang diterima dari 1.080 orang guru, yang semuanya adalah ahli hadith dan berpendirian bahawa iman adalah ucapan dan perbuatan." Di antara guru-guru besar itu adalah Ali ibn al-Madini, Ahmad ibn Hanbal, Yahya ibn Ma'in, Muhammad ibn Yusuf al-Faryabi, Maki ibn Ibrahim al-Bakhi, Muhammad ibn Yusuf al-Baykandi dan Ibn Rahawaih. Guru-guru yang hadithnya diriwayatkan dalam kitab Shahih-nya sebanyak 289 orang guru.


Keutamaan dan Keistimewaan Imam Bukhari
Kerana kemasyhurannya sebagai seorang alim yang super genius, ramai muridnya yang belajar dan mendengar terus hadithnya dari dia. Tak dapat dihitung dengan pasti berapa jumlah orang yang meriwayatkan hadith dari Imam Bukhari, sehingga ada yang berpendapat bahawa kitab Shahih Bukhari didengar secara langsung dari dia oleh sembilan puluh ribu (90.000) orang (Muqaddimah Fathul-Bari, jilid 22, hal. 204). Di antara sekian banyak muridnya yang paling menonjol adalah Muslim bin al-Hajjaj, Tirmidzi, Nasa'i, Ibn Khuzaimah, Ibn Abu Dawud, Muhammad bin Yusuf al-Firabri, Ibrahim bin Ma'qil al-Nasafi, Hammad bin Syakr al-Nasawi dan Mansur bin Muhammad al-Bazdawi. Empat orang yang terakhir ini merupakan yang paling masyhur sebagai perawi kitab Shahih Bukhari. Dalam bidang kekuatan hafalan, ketazaman pikiran dan pengetahuan para perawi hadith, juga dalam bidang ilat-ilat hadith, Imam Bukhari merupakan salah satu tanda kekuasaan (ayat) dan kebesaran Allah di muka bumi ini. Allah telah mempercayakan kepada Bukhari dan para pemuka dan penghimpun hadith lainnya, untuk menghafal dan menjaga sunah-sunah Nabi kita Muhammad SAW. Diriwayatkan, bahawa Imam Bukhari berkata: "Saya hafal hadith di luar kepala sebanyak 100.000 buah hadith shahih, dan 200.000 hadith yang tidak shahih." Mengenai kejeniusan Imam Bukhari dapat dibuktikan pada kisah berikut. Ketika ia tiba di Baghdad, ahli-ahli hadith di sana berkumpul untuk menguji kemampuan dan kepintarannya. Mereka mengambil 100 buah hadith, lalu mereka tukar-tukarkan sanad dan matannya (diputar balikkan), matan hadith ini diberi sanad hadith lain dan sanad hadith lain dinbuat untuk matan hadith yang lain pula. 10 orang ulama tampil dan masing-masing mengajukan pertanyaan sebanyak 10 pertanyaan tentang hadith yang telah diputarbalikkan tersebut. Orang pertama tampil dengan mengajukan sepuluh buah hadith kepada Bukhari, dan setiap orang itu selesai menyebutkan sebuah hadith, Imam Bukhari menjawab dengan tegas: "Saya tidak tahu hadith yang Anda sebutkan ini." Ia tetap memberikan jawaban serupa sampai kepada penanya yang ke sepuluh, yang masing-masing mengajukan sepuluh pertanyaan. Di antara hadirin yang tidak mengerti, memastikan bahawa Imam Bukhari tidak akan mungkin mampu menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan itu, sedangkan para ulama berkata satu kepada yang lainnya: "Orang ini mengetahui apa yang sebenarnya." Setelah 10 orang semuanya selesai mengajukan semua pertanyaannya yang jumlahnya 100 pertanyaan tadi, kemudian Imam Bukhari melihat kepada penanya yang pertama dan berkata: "Hadith pertama yang anda kemukakan isnadnya yang benar adalah begini; hadith kedua isnadnya yang benar adalah beginii…" Begitulah Imam Bukhari menjawab semua pertanyaan satu demi satu hingga selesai menyebutkan sepuluh hadith. Kemudian ia menoleh kepada penanya yang kedua, sampai menjawab dengan selesai kemudian menoleh kepada penanya yang ketiga sampai menjawab semua pertanyaan dengan selesai sampai pada penanya yang ke sepuluh sampai selesai. Imam Bukhari menyebutkan satu persatu hadith-hadith yang sebenarnya dengan cermat dan tidak ada satupun dan sedikitpun yang salah dengan jawaban yang urut sesuai dengan sepuluh orang tadi mengeluarkan urutan pertanyaanya. Maka para ulama Baghdad tidak dapat berbuat lain, selain menyatakan kekagumannya kepada Imam Bukhari akan kekuatan daya hafal dan kecemerlangan pikirannya, serta mengakuinya sebagai "Imam" dalam bidang hadith. Sebahagian hadirin memberikan komentar terhadap "uji cuba kemampuan" yang menegangkan ini, ia berkata: "Yang mengagumkan, bukanlah kerana Imam Bukhari mampu memberikan jawaban secara benar, tetapi yang benar-benar sangat mengagumkan ialah kemampuannya dalam menyebutkan semua hadith yang sudah diputarbalikkan itu secara berurutan persis seperti urutan yang dikemukakan oleh 10 orang penguji, padahal ia hanya mendengar pertanyaan-pertanyaan yang banyak itu hanya satu kali."Jadi banyak pemirsa yang hairan dengan kemampuan Imam Bukhari mengemukakan 100 buah hadith secara berurutan seperti urutannya si penanya mengeluarkan pertanyaannya padahal beliau hanya mendengarnya satu kali, ditambah lagi beliau membetulkan rawi-rawi yang telah diputarbalikkan, ini sungguh luar biasa. Imam Bukhari pernah berkata: "Saya tidak pernah meriwayatkan sebuah hadith pun juga yang diterima dari para sahabat dan tabi'in, melainkan saya mengetahui tarikh kelahiran sebahagian besar mereka, hari wafat dan tempat tinggalnya. Demikian juga saya tidak meriwayatkan hadith sahabat dan tabi'in, yakni hadith-hadith mauquf, kecuali ada dasarnya yang kuketahui dari Kitabullah dan sunah Rasulullah SAW." Dengan kedudukannya dalam ilmu dan kekuatan hafalannya Imam Bukhari sebagaimana telah disebutkan, wajarlah jika semua guru, kawan dan generasi sesudahnya memberikan pujian kepadanya. Seorang bertanya kepada Qutaibah bin Sa'id tentang Imam Bukhari, ketika menyatakan : "Wahai para penenya, saya sudah banyak mempelajari hadith dan pendapat, juga sudah sering duduk bersama dengan para ahli fiqh, ahli ibadah dan para ahli zuhud; namun saya belum pernah menjumpai orang begitu cerdas dan pandai seperti Muhammad bin Isma'il al-Bukhari." Imam al-A'immah (pemimpin para imam) Abu Bakar ibn Khuzaimah telah memberikan kesaksian terhadap Imam Bukhari dengan mengatakan: "Di bawah langit ini tidak ada orang yang mengetahui hadith, yang melebihi Muhammad bin Isma'il." Demikian pula semua temannya memberikan pujian. Abu Hatim ar-Razi berkata: "Khurasan belum pernah melahirkan seorang putra yang hafal hadith melebihi Muhammad bin Isma'il; juga belum pernah ada orang yang pergi dari kota tersebut menuju Iraq yang melebihi kealimannya." Al-Hakim menceritakan, dengan sanad lengkap. Bahawa Muslim (pengarang kitab Shahih), datang kepada Imam Bukhari, lalu mencium antara kedua matanya dan berkata: "Biarkan saya mencium kaki tuan, wahai maha guru, pemimpin para ahli hadith dan dokter ahli penyakit (ilat) hadith." Mengenai sanjungan diberikan ulama generasi sesudahnya, cukup terwakili oleh perkataan al-Hafiz Ibn Hajar yang menyatakan: "Andaikan pintu pujian dan sanjungan kepada Bukhari masih terbuka bagi generasi sesudahnya, tentu habislah semua kertas dan nafas. Ia bagaikan laut tak bertepi." Imam Bukhari adalah seorang yang berbadan kurus, berperawakan sedang, tidak terlalu tinggi juga tidak pendek; kulitnya agak kecoklatan dan sedikit sekali makan. Ia sangat pemalu namun ramah, dermawan, menjauhi kesenangan dunia dan cinta akhirat. Banyak hartanya yang disedekahkan baik secara sembunyi maupun terang-terangan, lebih-lebih untuk kepentingan pendidikan dan para pelajar. Kepada para pelajar ia memberikan bantuan dana yang cukup besar. Diceritakan ia pernah berkata: "Setiap bulan, saya berpenghasilan 500 dirham,semuanya dibelanjakan untuk kepentingan pendidikan. Sebab, apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal." Imam Bukhari sangat hati-hati dan sopan dalam berbicara dan dalam mencari kebenaran yang hakiki di saat mengkritik para perawi. Terhadap perawi yang sudah jelas-jelas diketahui kebohongannya, ia cukup berkata: "Perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam diri tentangnya." Perkataan yang tegas tentang para perawi yang tercela ialah: "Hadithnya diingkari." Meskipun ia sangat sopan dalam mengkritik para perawi, namun ia banyak meninggalkan hadith yang diriwayatkan seseorang hanya kerana orang itu diragukan. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahawa ia berkata: "Saya meninggalkan 10.000 hadith yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan, dan meninggalkan pula jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatkan perawi yang dalam pandanganku, perlu dipertimbangkan." Selain dikenal sebagai ahli hadith, Imam Bukhari juga sebenarnya adalah ahli dalam fiqh. Dalam hal mengeluarkan fatwa, ia telah sampai pada darjat mujtahid mustaqiil (bebas, tidak terikat pendapatnya pada madzhab-madzhab tertentu) atau dapat mengeluarkan hukum secara sendirian. Dia mempunyai pendapat-pendapat hukum yang digalinya sendiri. Pendapat-pendapatnya itu terkadang sejalan dengan madzhab Abu Hanifah, terkadang sesuai dengan Madzhab Syafi'i dan kadang-kadang berbeda dengan keduanya. Selain itu pada suatu saat ia memilih madzhab Ibn Abbas, dan disaat lain memilih madzhab Mujahid dan 'Ata dan sebagainya. Jadi kesimpulannya adalah Imam Bukhari adalah seorang ahli hadith yang ulung dan ahli fiqh yg berijtihad sendiri, kendatipun yang lebih menonjol adalah setatusnya sebagai ahli hadith, bukan sebagai ahli fiqh. Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang alim, ia juga tidak melupakan kegiatan lain yang dianggap penting untuk menegakkan Dinul Islam. Imam Bukhari sering belajar memanah sampai mahir, sehingga dikatakan bahawa sepanjang hidupnya, ia tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya. Tujuannya adalah untuk memerangi musuh-musuh Islam dan mempertahankannya dari kejahatan mereka.


Karya-karya Imam Bukhari
Di antara hasil karya Imam Bukhari adalah sebagai berikut : · Al-Jami' as-Shahih (Shahih Bukhari). · Al-Adab al-Mufrad. · At-Tarikh as-Sagir. · At-Tarikh al-Awsat. · At-Tarikh al-Kabir. · At-Tafsir al-Kabir. · Al-Musnad al-Kabir. · Kitab al-'Ilal. · Raf'ul-Yadain fis-Salah. · Birril-Walidain. · Kitab al-Asyribah. · Al-Qira'ah Khalf al-Imam. · Kitab ad-Du'afa. · Asami as-Sahabah. · Kitab al-Kuna.

Sekilas Tentang Kitab AL-JAMI' AS-SHAHIH (Shahih Bukhari)
Diceritakan, Imam Bukhari berkata: "Aku bermimpi melihat Rasulullah SAW.; seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebahagian ahli ta'bir, ia menjelaskan bahawa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadith Rasulullah SAW. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami' as-Shahih." Dalam menghimpun hadith-hadith shahih dalam kitabnya, Imam Bukhari menggunakan kaedah-kaedah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadith-hadithnya dapat dipertanggungjawabkan. Beliau telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti keshahihan hadith-hadith yang diriwayatkannya. Beliau senantiasa membanding-bandingkan hadith-hadith yang diriwayatkan, satu dengan yang lain, menyaringnya dan memlih has mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadith-hadith tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: "Aku susun kitab Al-Jami' ini yang dipilih dari 600.000 hadith selama 16 tahun." Dan beliau juga sangat hati-hati, hal ini dapat dilihat dari pengakuan salah seorang muridnya bernama al-Firbari menjelaskan bahawa ia mendengar Muhammad bin Isma'il al-Bukhari berkata: "Aku susun kitab Al-Jami' as-Shahih ini di Masjidil Haram, dan tidaklah aku memasukkan ke dalamnya sebuah hadith pun, kecuali sesudah aku memohonkan istikharoh kepada Allah dengan melakukan salat dua rekaat dan sesudah aku meyakini betul bahawa hadith itu benar-benar shahih." Maksud pernyataan itu ialah bahawa Imam Bukhari mulai menyusun bab-babnya dan dasar-dasarnya di Masjidil Haram secara sistematik, kemudian menulis pendahuluan dan pokok-pokok bahasannya di Rawdah tempat di antara makan Nabi SAW. dan mimbar. Setelah itu, ia mengumpulkan hadith-hadith dan menempatkannya pada bab-bab yang sesuai. Pekerjaan ini dilakukan di Mekah, Madinah dengan tekun dan cermat, menyusunnya selama 16 tahun. Dengan usaha seperti itu, maka lengkaplah bagi kitab tersebut segala faktor yang menyebabkannya mencapai kebenaran, yang nilainya tidak terdapat pada kitab lain. Kerananya tidak menghairankan bila kitab itu mempunyai kedudukan tinggi dalam hati para ulama. Maka sungguh tepatlah ia mendapat predikat sebagai "Buku Hadith Nabi yang Paling Shahih." Diriwayatkan bahawa Imam Bukhari berkata: "Tidaklah ku masukkan ke dalam kitab Al-Jami' as-Shahih ini kecuali hadith-hadith yang shahih; dan ku tinggalkan banyak hadith shahih kerana khawatir membosankan." Kesimpulan yang diperoleh para ulama, setelah mengadakan penelitian secara cermat terhadap kitabnya, menyatakan bahawa Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan yang paling tinggi, dan tidak turun dari tingkat tersebut kecuali dalam beberapa hadith yang bukan merupakan perkara pokok dari sebuah bab, seperti hadith mutabi dan hadith syahid, dan hadith-hadith yang diriwayatkan dari sahabat dan tabi'in.


Jumlah Hadith Kitab Al-Jami'as-Shahih (Shahih Bukhari)
Al-'Allamah Ibnus-Salah dalam Muqaddimah-nya menyebutkan, bahawa jumlah hadith Shahih Bukhari sebanyak 7.275 buah hadith, termasuk hadith-hadith yang disebutnya berulang, atau sebanyak 4.000 hadith tanpa pengulangan. Perhitungan ini diikuti oleh Al-"Allamah Syaikh Muhyiddin an-Nawawi dalam kitabnya, At-Taqrib. Selain pendapat tersebut di atas, Ibn Hajar di dalam muqaddimah Fathul-Bari, kitab syarah Shahih Bukhari, menyebutkan, bahawa semua hadith shahih mawsil yang termuat dalam Shahih Bukhari tanpa hadith yang disebutnya berulang sebanyak 2.602 buah hadith. Sedangkan matan hadith yang mu'alaq namun marfu', yakni hadith shahih namun tidak diwasalkan (tidak disebutkan sanadnya secara sambung-menyambung) pada tempat lain sebanyak 159 hadith. Semua hadith Shahih Bukhari termasuk hadith yang disebutkan berulang-ulang sebanyak 7.397 buah. Yang mu'alaq sejumlah 1.341 buah, dan yang mutabi' sebanyak 344 buah hadith. Jadi, berdasarkan perhitungan ini dan termasuk yang berulang-ulang, jumlah seluruhnya sebanyak 9.082 buah hadith. Jumlah ini diluar haits yang mauquf kepada sahabat dan (perkataan) yang diriwayatkan dari tabi'in dan ulama-ulama sesudahnya. Sumber: Kitab Hadith Shahih yg Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah
susunan dan adabtasi admin dari ketokohan Imam Bukhari Sumber: Kitab Hadith Shahih yang Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah. http://www.al-ahkam.net/

Sunday, April 27, 2008

Ketokohan Hasan Al Banna: Memugar Kembali Islam


gambar sekadar hiasan

“Cita-cita saya bukan membuat buku, tapi mencetak manusia,” demikian jawaban Hasan Al Banna ketika ditanya mengapa orang dengan ilmu seluas dia sedikit sekali menulis buku. Kerana tumpuan untuk mencetak manusia muslim kaffah, ia mendirikan jamaah kader yang bernama Ikhwanul Muslimin.
Gerakan da’wah yang dipimpinnya ini kemudian menjadi rujukan banyak gerakan Islam di seluruh dunia Islam, hingga sekarang. Dunia Islam patut bersyukur memiliki tokoh seperti Al Banna ini. Gerakan Al Banna yang menrangkumi pelbagai aspek kehidupan seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan telah menjadi inspirasi bagi generasi Islam sesudahnya. Ia juga menjadi pembaharu Islam dalam bidang organisasi.
Ia berhasil memugar semua potensi dalam masyarakat, dari mulai buruh, usahawan, ilmuwan, dan ulama yang tergabung dalam Ikhwanul Muslimin di dalam satu perlindungan, ialah kitab suci Al Qur’an. Ia telah memasakkan satu model organisasi moden dalam Islam yang memuatkan seluruh aspek kehidupan.


Ikhwanul Muslimin berawal dari sekelompok kecil pemuda yang bersemangat dan gelisah di Kaherah, kemudian tumbuh pesat menjadi persatuan yang kukuh dan kuat, menyebar hampir ke seluruh penjuru Timur Tengah, bahkan ke bagian dunia yang lain, paling tidak dalam hal gagasan.


Hasan Al Banna dilahirkan di desa Mahmudiyyah, propinsi Buhairah, sekitar 90 km dari Barat daya Kaherah, Mesir pada bulan Oktober 1906. Ia dibesarkan dalam keluarga Islam yang taat. Dengan asuhan dan asahan secara Islam itulah maka ia boleh berkata, “Hanya Islamlah ayah kandungku.” Hal itu kerana rasa cintanya terhadap ajaran Islam, kerana ajaran itulah yang membentuk watak dan keperibadiannya.


Ayah kandungnya sendiri adalah Syekh Ahmad Abdurrahman yang lebih terkenal dengan panggilan Sa’ati, alias si tukang jam. Seperti diakui Hasan Al Banna, ketekunannya untuk membuat organisasi diilhami oleh cara kerja penukang jam. Setiap komponen bekerja sama, saling terikat, saling menentukan, kalau rosak salah satu komponen rosaklah jam itu. Komponen jam ada yang terlihat iaitu jarum, itulah pemimpin atau public relation (humas). Ada pula yang tidak terlihat itulah anggota, juga kelompok think tank (pemikir). “Organisasi Islam harusnya seperti itu,” menurut Hasan Al Banna.


Di samping bekerja di bengkel pembaikian jam, Syekh Ahmad Abdurrahman juga aktif mengajar. Kerana itu ia disegani oleh sejumlah besar ulama. Ia juga memiliki perpustakaan peribadi dengan aneka ragam cabang ilmu pengetahuan.
Sebagai seorang ayah, Syekh Ahmad juga mencita-citakan putranya sebagai mujahid (pejuang) di samping seorang mujadid (pembaharu). Kerana itu ia menasihatkan kepada putranya (Hasan Al Banna) dengan suatu pesanan, “Barangsiapa menguasai nash, bererti ia akan menguasai disiplin ilmu.”


Jadi, sejak kecil Al Banna telah dituntut sang ayah untuk menghafalkan Al Qur’an penuh. Harapan itu tidak sia-sia. Dengan kecerdasan otaknya dan tentu dengan kehendak Allah, pada usia 12 tahun Al Banna telah menghafal separuh isi Al Qur’an. Sang ayah terus-menerus memotivasinya agar melengkapi hafalannya.


Sejak itu Al Banna mendisiplinkan kegiatannya kepada empat tahap; siang hari digunakan belajar di sekolah, lalu belajar membuat dan memperbaiki jam bersama orang tuanya hingga petang hari,dan petang hari hingga menjelang tidur digunakannya untuk mengulang pelajaran sekolah. Sementara membaca dan mengulang hafalan Al Qur-an ia lakukan usai shalat Subuh. Dan berhasil! Pada usia 14 tahun Al Banna telah hafal Al Quran 30 juz! Pendidikan formal Al Banna dimulai dengan masuk sekolah dasar (madrasah ibtidaiyah) di desanya pada usia 8 tahun. Ia juga belajar pada ayahnya dan seorang ulama ternama Syekh Mahmud.


Pada usia 12 tahun Al Banna aktif di organisasi keagamaan Jamaah Suluk Akhlaqi yang berorientasi memperbaiki akhlak. Di samping didikan keluarga, organisasi ini berpengaruh besar dalam keperibadian Al Banna dan membentuk keshalihan diri Al Banna. Pendidikan menengahnya diselesaikan dengan menjadi yang terbaik di sekolahnya dan terbaik kelima di seluruh Mesir.


Pendidikan tinggi Al Banna dimulai pada umur 16 tahun di Universiti Darul Ulum, Kaherah. Ia juga menjadi aktivis mahasiswa di organisasi Jam’iyah Makarim Al Akhlaq Al Islamiyah. Ia juga masuk tarikat Ikhwan Al Hashafiyah. Kerana pengalamannya di tarekat ia lalu membuat praktik-praktik tasawuf dalam Ikhwanul Muslimin yang memurnikan ajaran tarikat menjadi hanya berpedoman pada Al Qur’an dan Sunnah saja.


Empat tahun hidup di Kaherah membawa Al Banna pada kesedaran politik. Ia menyedari bahawa sekularisme dan pembaratan sudah meracuni tatanan masyarakat Mesir. Serangan ghazwul fikri (perang pemikiran) dari Barat semakin gencar. Lahirlah kesadaran tentang perlunya ummat Islam bebas dari penjajahan pemikiran Barat tersebut.


Ketika belajar di Kaherah itu, ia sering mempelajari pemikiran reformis Islam seperti Muhammad Abduh, yang merupakan guru ayahnya. Tapi yang membekas dalam pemikiran Al Banna adalah pemikiran Syekh Muhammad Rasyid Ridha. Ia mulai mengikuti jejak Syekh Ridha yang cakna pada persoalan menurunnya peradaban Islam. Ia lalu gencar melakukan kempen agar ummat Islam kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah secara murni untuk membangkitkan kembali peradaban Islam. Ia pun mulai mengkritik konservatisme Al Azhar. Di samping itu, Al Banna turut mulai menekankan pentingnya organisasi.


Tahun 1927, pada usia 21 tahun, ia mengajar bahasa Arab di sekolah-sekolah utama di Ismailiyah. Ia pun merasakan dominasi Inggeris terhadap terusan Suez di Ismailiyah. Ia menilai ini adalah penjajahan! Al Banna pun mulai da’wah dengan usaha untuk membangkitkan kaum muslimin Mesir, mulai dari masjid-masjid, kedai-kedai kopi, kelab-kelab, dan rumah-rumah peribadi pesan dasar Al Banna adalah bahawa bangsa Mesir sudah kehilangan jiwanya. Bangsa Mesir harus menghilangkan penguasaan Inggeris dalam bidang politik dan ekonomi kerana bangsa Mesir punya modal kuat iaitu keyakinan pada Allah SWT. Cara membangkitkan bangsa Mesir adalah dengan menerapkan nilai-nilai Islam sebagai pandangan dan pedoman hidup.
Setelah 6 bulan berda’wah, tepatnya bulan Mac1928 di Iskandariyah, Al Banna mendirikan organisasi Ikhwanul Muslimin. Pada mulanya ia hanya memiliki 6 orang pengikut dan sekelompok siswa yang taat pada guru. Tapi kegiatan-kegiatannya terdahulu paling tidak sudah membuahkan sejumlah penyokong. Lalu Ikhwanul Muslimin mempunyai 100 anggota yang dipilih sendiri oleh Al Banna.


Kegiatan-kegiatan Ikhwanul Muslimin antara lain meningkatkan kualiti akhlak dan ibadah anggotanya. Juga banyak kegiatan-kegiatan amal sosial. Pada tahun 1930 cabang-cabang Ikhwanul Muslimin berdiri di tiap wilayah di Mesir. Satu dekad kemudian Ikhwanul Muslimin mempunyai 500, 000 anggota aktif dan banyak simpatisan tersebar di seluruh Mesir. Ikhwanul Muslimin makin berkembang setelah pusatnya dipindahkan Al Banna ke Kaherah pada tahun 1932. Perkembangan pesat ini berkat kepemimpinan ideologi dari Al Banna.


Cara Al Banna yang terinspirasi rekabentuk jam juga semakin memajukan Ikhwanul Muslimin. Oleh rakyat Mesir anggota-anggota Ikhwanul Muslimin dijuluki sufi di malam hari dan singa di siang. Keberadaan Ikhwanul Muslimin dirasakan betul manfaatnya oleh rakyat Mesir. Pengusaha-pengusaha asal Ikhwanul Muslimin banyak membuka lapangan kerja. Klinik-klinik murah bahkan percuma disediakan untuk rakyat miskin. Sekolah-sekolah berkualiti juga didirikan.


Isu-isu yang diangkat Al Banna dan diusahakan jalan keluarnya adalah: penentangan terhadap penjajahan, kesihatan masyarakat, kebijakan pendidikan, pengurusan sumber daya alam, ketidakadilan sosial, dan penentangan terhadap Marxisme, kebangkitan nasionalisme Arab, kelemahan dunia Islam dan berkembangnya konflik di Palestin.


Dengan anggotanya yang dari berbagai kalangan, Ikhwanul Muslimin mulai aktif berpolitik menentang sistem kerajaan Mesir yang didominasi Inggeris (baca: dijajah). Raja Faruk, Raja Mesir, yang semakin takut kepada Ikhwanul Muslimin kemudian berbicara dengan Israel, Inggeris, dan Amerika yang juga takut kepada Ikhwanul Muslimin. Alhasil Raja Faruk menarik sebahagian dari 10,000 sukarelawan Ikhwanul Muslimin dalam perang melawan Israel dan menangkapinya.


Tapi Al Banna tidak ditangkap agar memudahkan usaha pembunuhan terhadapnya. Maka Mahmud Abdul Majid salah seorang perwira Raja Faruk mengutus 5 orang dari pegawai keselamatannya untuk membunuh Al Banna. Persis di depan pusat pusat pemuda Ikhwanul Muslimin pada 12 Februari 1949 M/ 1368 H. Al Banna terluka parah, kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, tetapi pihak pemerintah mengeluarkan perintah yang sangat keras agar pihak rumah sakit membiarkan Al Banna mengucurkan darah sampai mati. Sebuah konspirasi yang kejam!


Akhirnya Al Banna menyerahkan ruhnya untuk kembali ke haribaan Sang Penciptanya dalam keadaan suci, inshaallah, setelah menunaikan amanah-Nya dan dalam keadaan teguh mengangkat bendera agama-Nya sampai nafas terakhir. Kemudian datang empat orang wanita ke jenazah Al Banna bersama ayah kandung Al Banna yang sudah tertatih-tatih kerana usianya yang sangat tua.


Sementara itu bekalan elektrik sengaja diputus di wilayah tersebut. Keempat orang perempuan itu membawa jenazah Al Banna dalam suasana yang sangat menyeramkan, kerana berada di depan muncung barisan tank. Kuburannya dijaga ketat oleh tentera pemerintah kerana ditakutkan para anggota Ikhwan akan mengeluarkan jenazahnya untuk kemudian memprotes dan menuntut pemerintah, serta menjadikan jenazah tersebut barang bukti.


Dengan demikian Raja Faruq merasa tenang kerana Al Banna telah tiada, padahal anak-anak Al Banna yang ditinggalkan tidak mampu membiayai perbelanjaan bulanan mereka, dan juga tidak mampu membayar sewa rumah mereka. Dan, setelah Al Banna meninggal, jutaan rakyat Amerika berkumpul di jalan-jalan dan berpesta merayakannya. Hasan Al Banna meninggal, inshaallah mati syahid pada usia belia 43 tahun. Selamat jalan wahai Syuhada!


April 21, 2008Posted by ummahonline
Oleh: Agung Pribadi
FREE PALESTINE

My Blog List