SELAMAT MAJU JAYA DAN SUKSES
Showing posts with label tafsir. Show all posts
Showing posts with label tafsir. Show all posts

Wednesday, February 17, 2010

Menilai Kecintaan Rasulullah terhadap umatnya

“ Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang Rasul dari golongan kamu sendiri (iaitu Nabi Muhammad s.a.w), yang menjadi sangat berat kepadanya sebarang kesusahan yang ditanggung oleh kamu, yang sangat tamak (inginkan) kebaikan bagi kamu, (dan) ia pula menumpahkan perasaan belas serta kasih sayangnya kepada orang-orang yang beriman. Kemudian, jika mereka berpaling ingkar, maka katakanlah (Wahai Muhammad): "Cukuplah bagiku Allah (yang menolong dan memeliharaku), tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; kepadanya Aku berserah diri, dan Dia lah Yang mempunyai Arasy Yang besar."
( at-Taubah: 128-129 )

Pertama, Min Anfusikum, dari kalanganmu sendiri.
Nabi berasal dari sesama manusia seperti kamu. Nabi yang datang itu bukanlah Nabi yang datang sebagai makhluk ghaib, bukan pula Superman, tapi Nabi yang datang dari tengah-tengah manusia. Bahkan Nabi diperintahkan untuk berkata bahwa Nabi adalah manusia seperti kita semua, seperti dalam ayat “Qul innamâ anâ basyârum mitslukum…” (QS. Al-Kahfi 110) Nabi adalah manusia biasa. Kalau ia berjalan, ada bayang-bayang badannya. Kalau terkena panas matahari, berkeringat kulitnya. Kalau terkena anak panah, berdarah tubuhnya. Ia bukan manusia istimewa dari segi jasmaniahnya, ia pun merasakan lapar dan dahaga. Al-Qur’an menegaskan bahwa kehidupan Nabi itu sama seperti kehidupan manusia biasa. Nabi dapat merasakan kepedihan dan penderitaan seperti manusia biasa yang mendapatkan musibah.

Pada ayat Min Anfusikum, diterangkan bahwa kata Anfus bermaksud yang paling mulia. Jadi ayat ini bermaksud, “Sudah datang di antara kamu seorang Rasul yang paling mulia.” Artinya Rasulullah diakui kemuliaannya, bahkan sebelum Rasul membawa ajaran Islam. Dia adalah orang yang paling baik di tengah-tengah masyarakatnya dilihat dari segi akhlaknya. Sebagian orang ada yang menyebutkan bahwa Rasul berasal dari kabilah yang paling baik. Jadi sifat pertama nabi adalah paling mulia akhlaknya, sampai orang-orang di sekitarnya memberi gelar Al-Amîn, orang yang terpercaya.

Kedua, berat hatinya melihat penderitaan umat manusia.
Para ahli tafsir mengatakan yang dimaksud dengan berat hati Nabi ialah kalau manusia menemukan hal-hal yang tidak elok. Dalam riwayat yang lain, yang dimaksudkan dengan berat hati Rasul ialah jika orang Islam berbuat dosa kepada Allah. Dalam sebuah hadis, diriwayatkan bahwa sampai sekarang Rasulullah masih dapat melihat perbuatan-perbuatan kita dan Rasul akan menderita jika melihat kita berbuat dosa. Karena beliau sangat ingin supaya kita memperoleh petunjuk Allah. Bahkan Rasul sampai bersujud di hadapan Allah agar diizinkan untuk dapat memberi syafaat kepada umatnya.

Ketiga, Nabi sangat ingin agar kaum muslimin memperoleh kebaikan.
Ia ingin memberikan petunjuk kepada umatnya. Keinginan untuk memberikan petunjuk kepada kita begitu besar, sehingga Rasul bersedia memikul seluruh penderitaan dalam berdakwah.


Keempat, ia sangat penyantun dan penyayang kepada orang mukmin
Menurut ahli tafsir, belum pernah Allah menghimpunkan dua nama-Nya sekaligus pada nama seorang nabi, kecuali kepada Nabi Muhammad saw. Nama yang dimaksud ialah nama Raûfur Rahîm.
Raûfur Rahîm itu adalah nama Allah. Nama itu pun dinisbahkan Allah kepada Rasulullah. Menurut sebagian ulama, Raûfun artinya penyayang dan Rahîm artinya pengasih. Jika kedua kata itu digabungkan dalam satu tempat, maka artinya berbeda. Menurut sebagian ahli tafsir, nama itu berarti sifat Nabi yang penyayang tidak hanya kepada orang yang taat kepadanya, tapi juga penyayang kepada orang yang berbuat dosa. Nabi melihat amal kita setiap hari. Beliau berduka cita melihat amal-amal kita yang buruk.

Dalam riwayat yang lain, Rasul itu Raûfun Liman Râ’ah, Rahîmun Liman Lam Yarâh. Artinya, Rasul itu penyayang kepada orang yang pernah berjumpa dengannya dan juga penyayang kepada orang yang tidak pernah berjumpa dengannya. Suatu hari Rasul berkata, “Alangkah rindunya aku untuk berjumpa dengan ikhwânî.” Para sahabat bertanya, “Bukankah kami ini ikhwânuka.” “Tidak,” jawab Rasul, “kalian ini sahabat-sahabatku. Saudara-saudaraku adalah orang yang tidak pernah berjumpa denganku, tapi membenarkanku dan beriman kepadaku.” Rasul sangat sayang kepada orang yang tidak pernah berjumpa dengan Rasul tetapi beriman kepadanya.

Di dalam satu Tafsir diriwayatkan , “Berbahagialah orang yang beriman kepadaku, padahal tidak pernah berjumpa denganku.” Rasul menyebutnya sampai tiga kali. Rasul juga sayang bukan hanya kepada orang Islam saja, tetapi juga kepada orang kafir.
Diriwayatkan bahwa ketika Rasul berdakwah di Thaif, Rasul dilempar dengan batu sehingga tubuhnya berdarah. Kemudian Rasul berlindung di kebun Uthbah bin Rabi’ah. Rasul berdo’a dengan do’a yang sangat mengharukan. Rasul memanggil Allah dengan ucapan, “Wahai yang melindungi orang-orang yang tertindas, kepada siapa Engkau akan serahkan aku, kepada saudara jauh yang mengusir aku?” Kemudian datang malaikat Jibril seraya berkata: “Ya Muhammad, ini Tuhanmu menyampaikan salam kepadamu. Dan ini malaikat yang mengurus gunung-gunung, diperintah Allah untuk mematuhi seluruh perintahmu. Dan dia tidak akan melakukan apapun kecuali atas perintahmu.” Lalu malaikat dan gunung berkata kepada Nabi, “Allah memerintahkan aku untuk berkhidmat kepadamu. Jika engkau mau, biarlah aku jatuhkan gunung itu kepada mereka.” Namun Nabi berucap, “Hai malaikat dan gunung, aku datang kepada mereka karena aku berharap mudah-mudahan akan keluar dari keturunan mereka orang-orang yang mengucapkan kalimat Lâilâha illallâh.” Nabi tidak mahu menurunkan azab kepada mereka. Nabi berharap kalau pun mereka tidak beriman, keturunan mereka nanti akan beriman. Kemudian berkata para malaikat dan gunung, “Engkau seperti disebut oleh Tuhanmu, sangat penyantun dan penyayang.”

Kasih sayangnya tidak terbatas kepada umatnya. Perasaan cinta kita kepada Nabi tidak sebanding dengan besarnya kecintaan Nabi kepada kita semua. Kecintaan Nabi terhadap orang-orang yang menderita begitu besar. Menurut Siti Aisyah, Nabi tidak makan selama tiga hari berturut-turut dalam keadaan kenyang. Ketika Aisyah bertanya apa sebabnya, Nabi menjawab, “Selama masih ada ahli shufah —orang-orang miskin yang kelaparan di sekitar mesjid— saya tidak akan makan kenyang.” Dan itu tidak cukup hanya pada saat itu, Nabi juga memikirkan umatnya di kemudian hari. Beliau khawatir ada umatnya yang makan kenyang sementara tetangga di sekitarnya kelaparan.

Jesteru itu Nabi berpesan, “Tidak beriman kamu, jika kamu tidur dalam keadaan kenyang sementara tetanggamu kelaparan.” Nabi pun mengatakan, “Orang yang senang membantu melepaskan penderitaan orang lain, akan senantiasa mendapat bantuan Allah swt.” Empat sifat Rasulullah kepada umatnya, yang sangat luar biasa.

Marilah kita menanam rasa kecintaan Rasulullah yang agung kepada kita dan bandingkanlah apa yang dapat membuktikan kecintaan kita kepadanya. Sekarang kita bertanya, sejauh mana kita mengikuti sunnah Rasulullah saw? Dapatkah akhlak kita seperti akhlak Nabi sebagaimana yang disebut dalam surat Al-Taubah 128? Bagai-mana kita dapat ikut merasakan penderitaan orang-orang di sekitar kita? Bagaimana kita menjadi orang yang berusaha agar orang- orang lain itu hidup bahagia dan memperoleh petunjuk Allah? Bagaimana kita menumbuhkan sikap Raûfur Rahîm di dalam diri kita seperti Rasulullah saw contohkan kepada kita?

Marilah kita sebarkan kecintaan kepada Rasulullah saw di dalam diri kita, keluarga kita, dan pada masyarakat di sekitar kita. Sering diingat bahawa misi Rasulullah yang paling utama adalah misi akhlak yang mulia. Tidak ada ertinya menisbahkan diri kita kepada Rasulullah saw tanpa memelihara akhlak yang mulia. Hendaknya kita selalu mengucapkan shalawat kepada junjungan nabi s.a.w . Kita sewajarnya merasa untuk sama-sama saling membantu sesama manusia dalan perkara kebaikan, Peduli terhadap kesengsaraan orang lain baik dalam urusan dunia atau akhirat, Penyayang terhadap umat manusia, disamping menginginkan kebahagiaan orang lain.

Nabi (s.a.w) sendiri ada menyatakan betapa pentingnya kesabaran dan penyantun itu dipunyai oleh seseorang, kerana sifat-sifat tersebut sangat disukai oleh Allah dengan sabdanya:
لاَ حِلْمَ أَحَبُّ إلى اللهِ تَعَالَى مِنْ حِلْمِ إِمَامٍ وَرِفْقِهِ وَ لاَ جَهْلَ أَبْغَضُ
إلى اللهِ تَعَالَى مِنْ جَهْلِ إِمَامٍ وَخرقِهِ

"Tidak ada kesabaran yang lebih disukai oleh Allah dari kesabaran seorang imam (pemimpin) dan penyantunnya, dan tidak ada kejahilan yang lebih dibenci oleh Allah dari kejahilan seorang imam (pemimpin) dan kebebalannya."

Allah Taala menerangkan di dalamnya kelebihan dan kasih sayang Rasulullah Sollahu’alaihiwasallam kepada umatnya. Ayat terakhir ini menerangkan kaedah untuk berdepan manusia yang berpaling dari seruan Allah Taala. Sesungguhnya seluruh perjalanan alam ini adalah bawah jagaanNya, Dia berkuasa untuk melakukan apa sahaja kepada makhlukNya. Keuntungan kepada hambaNya yang melazimi ketaatan, kerugian untuk mereka yang memilih kemaksiatan.Wallahua'lam.

Friday, May 22, 2009

Ajaibnya Kejadian manusia




Dalam surah Yaasin, juz keduapuluh tiga ayat 77, Allah Ta'ala berfirman:
Yang bermaksud: Tidakkah manusia itu melihat dan mengetahui, bahawa Kami telah menciptakan dia dari (setitis) air benih? Dalam pada itu (setelah Kami sempurnakan kejadiannya dan tenaga kekuatannya) maka dengan tidak semena-mena menjadilah ia seorang pembantah yang terang jelas bantahannya (mengenai kekuasaan Kami menghidupkan semula orang-orang yang mati),








Ayat tersebut disokong dalam surah Al-Hajj ayat 5, Allah Ta'ala berfirman. Yang bermaksud: Wahai umat manusia, sekiranya kamu menaruh syak (ragu-ragu) tentang kebangkitan makhluk (hidup semula pada hari kiamat), maka (perhatilah kepada tingkatan kejadian manusia) kerana sebenarnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setitik air benih, kemudian dari sebuku darah beku, kemudian dari seketul daging yang disempurnakan kejadiannya dan yang tidak disempurnakan; (Kami jadikan secara yang demikian) kerana Kami hendak menerangkan kepada kamu (kekuasaan Kami); dan Kami pula menetapkan dalam kandungan rahim (ibu yang mengandung itu) apa yang Kami rancangkan hingga ke suatu masa yang ditentukan lahirnya; kemudian Kami mengeluarkan kamu berupa kanak-kanak; kemudian (kamu dipelihara) hingga sampai ke peringkat umur dewasa; dan (dalam pada itu) ada di antara kamu yang dimatikan (semasa kecil atau semasa dewasa) dan ada pula yang dilanjutkan umurnya ke peringkat tua nyanyuk sehingga ia tidak mengetahui lagi akan sesuatu yang telah diketahuinya dahulu. Dan (ingatlah satu bukti lagi); Engkau melihat bumi itu kering, kemudian apabila Kami menurunkan hujan menimpanya, bergeraklah tanahnya (dengan tumbuh-tumbuhan yang merecup tumbuh), dan gembur membusutlah ia, serta ia pula menumbuhkan berjenis-jenis tanaman yang indah permai.














Ayat di atas juga disokong pada Hadis Rasulullah s.a.w. Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a katanya: Secara marfuk Baginda s.a.w bersabda: Allah s.w.t mengutuskan Malaikat ke dalam rahim. Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Ia masih berupa air mani. Setelah beberapa ketika Malaikat berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah berupa darah beku. Begitu juga setelah berlalu empat puluh hari Malaikat berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah berupa seketul daging. Apabila Allah s.w.t membuat keputusan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Orang ini akan diciptakan lelaki atau perempuan? Celaka atau bahagia? Bagaimana rezekinya? Serta bagaimana pula ajalnya? Segala-galanya dicatit semasa dalam perut ibunya lagi Dengan ayat-ayat dan hadis diatas yakinlah Allah itu Maha Pencipta













Menurut Profesor Moore untuk mengkaji ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis Nabi, beliau berasa takjub. Beliau berasa pelik bagaimana Nabi Muhammad , pada empatbelas kurun yang lalu, mampu menerangkan mengenai embrio dan tahap-tahap perkembangannya dengan terperinci dan tepat sekali sedangkan ianya hanya ditemui oleh ahli sains sejak tiga puluh tahun lalu sahaja. Ketakjuban beliau bertukar menjadi penghormatan terhadap ayat-ayat tersebut. Beliau memberikan pandangan ini kepada rakan-rakan intelek dan kelompok saintifiknya. Malahan beliau memberikan syarahan di atas topik keserasian di antara kajian embrio moden dengan Al-Quran dan Sunnah dimana beliau berkata:











"Saya berbesar hati untuk membantu menerangkan kenyataan-kenyataan dari Al-Quran mengenai kejadian manusia. Jelas bagi saya bahawa kenyataan-kenyataan ini diberikan kepada Muhammad dari Allah , atau Tuhan, oleh kerana kesemua ilmu-ilmu ini tidak ditemui sehingga beberapa kurun selepas beliau. Ini membuktikan kepada saya Muhammad ialah seorang Rasul Allah . "

Lazimnya, sesudah memikirkan segala kejadian alam semesta dan keagungan Allah yang menciptakannya, akhirnya kita akan kembali memikirkan kejadian diri kita sendiri. Kita tercipta daripada ibu bapa kita dan sekiranya ibu bapa tiada atau salah seorangnya tiada, tentu sahaja kita tidak mungkin dilahirkan ke dunia ini.















Cuba kita renung dan fikirkan, bagaimana kiranya kita tidak ada, tidak pernah ada, tidak tertulis di Loh Mahfuz atau tidak pernah dilahirkan ke dunia. Jika tidak mencipta kita sudah pasti kita tidak ada. Jika kita tidak ada, sudah tentu kita tidak mengetahui adanya alam semesta yang luas ini. Tentu kita tidak kenal matahari dan bulan, tidak kenal manisnya gula, lazatnya makanan dan hidangan. Kita juga tentunya tidak dapat merasakan indahnya rasa kasih sayang, cinta dan tentunya saat-saat bahagia tidak mungkin kita rasai.













Syukur, alhamdulillah, kini kita telah ada dan wujud. Kita sudah dapat menyaksikan keindahan alam maya, dapat melihat pelbagai warna dan pemandangan, melihat sang suria, bulan dan bintang-bintang yang menghiasai segala ruang angkasa. Kita sudah dapat menikmati pelbagai makanan dan hidangan yang lazat dan enak. Kita juga telah dapat merasai betapa indahnya belaian kasih sayang, cinta dan saat-saat kebahagiaan. Seterusnya kita dapat mengenali siapa pencipta kepada semuanya ini termasuk alam yang maha luas ini. Lalu kita dapat menikmati kasih dan sayang-Nya serta bernaung di bawah lindungan dan rahmat-Nya. Inilah sebenarnya nikmat terbesar yang telah Allah kurniakan kepada kita. Kita seharusnya menggandakan rasa kesyukuran dan berterima kasih kepada Allah kerana bukan sahaja telah menjadikan kita, bahkan telah memilih kita menjadi umat-nya yang beriman dan diberikan petunjuk dan hidayah-Nya. Sehingga kita dapat mengenali Pencipta kepada alam semesta ini yang begitu indah dan teliti. Dan akhirnya kita percaya yang kita akan menghadapnya jua di hari kemudian nanti. Nah kita tahu dari mana kita datang dan ke mana kita akan kembali.







Adaptasi dan rujukan artikel asal persatuan alumni UTM

Sunday, May 17, 2009

Tafsiran surah alHasyr ayat 21-24; Keagungan Allah




Ayat ini memberi mesej yang jelas sebagaimana dibentangkan dalam Al-Quran tentang kekuasaan dan keagungan Allah. Sehingga digambarkan bahawa gunung ganang sekalipun tidak sanggup menahannya sehingga pecah berderai tatkala Al-Quran diturunkan ke atasnya.

Pada suatu ketika hati manusia akan menggeletar tatkala dibacakan ayat-ayat Allah. Inilah jua yang dikisahkan terhadap peristiwa Umar Al Khattab apabila sampai kepadanya hidayah Allah bila mendengar keunikan kalam Allah, maka hatinya mengeletar ketakutan kerana takutkan ancaman Allah.

Detik detik inilah jua yang kita harapkan dalam kehidupan kita untuk mencapai kebahgiaan dan keselamatan di dunia kerana yakin adanya kehidupan akhirat selepas datangnya kematian. Detik-detik ini akan dapat dicapai dengan darjat ketaqwaan yang tinggi terhadap keagungan Allah. Hanya hati yang sedar dan insaf dapat menyelami apa yang disampaikan dalam Al-Quran. Perumpamaan dan kisah gunung ini adalah menuntut manusia untuk berfikir tentang keagungan Allah seterusnya mengimani segala perintah dan menjauhi larangannya.

Pada akhir surah ini pula disebutkan Nama-nama Allah dengan Sifat-sifat yang paling indah. Ianya sebagai satu peringatan agar manusia sentiasa mengingati Allah pemilik Alam semesta. Untuk apa dibentangkan nama-nama Allah ini? Kita diajarkan supaya sentiasa menyebut dan mengingati Allah di mana jua kita berada supaya kita tidak lupa diri hidup di atas dunia milik Allah ini. Nama-nama Allah yang dinyatakan adalah mewakili sifat-sifatNya yang menjadikanNya Tuhan yang selayakNya disembah kerana Dia adalah Pencipta dan kita adalah HambaNya.
dari sumber Tafsir Fi Zilal al-Quran

Sunday, April 19, 2009

Pernahkah Kita Menyesal dan Bertaubat?

Allah Ta’ala berfirman didalam surah at-taubah ayat ke 102 yang bermaksud;
“Dan sebahagian yang lain mengaku dosa-dosa mereka. Mereka telah mencampur adukkan amalan yang baik dengan amalan yang lain, yang buruk. Mudah-mudahan Allah akan menerima taubat mereka, sesungguhya Allah maha Pengampun lagi maha Mengasihani”

Ayat ini diturunkan kepada ِِAbu Lubabah dan lima orang rakannya yang tidak menyertai peperangan Tabuk. Apabila Rasulullah pulang dari peperangan tersebut, baginda mendapati Abu Lubabah dan rakan-rakannya telah mengikat diri mereka di agar masjid kerana menyesal dan berikrar tidak akan membuka ikatan tersebut dan mengharapkan Rasulullah akan membukanya. Aabila ayat ini diturunkan, Rasulullah membukakan ikatan tersebut dan memaafkan mereka.

Allah Ta’ala melarang mencampur adukkan amalan yang baik dengan amalan yang buruk. Mengakui kesalahan dan menyesali perbuatan tersebut merupakan tindakan yang terbaik.Allah ta’ala yang maha pengampun dan maha penyayang telah menerima taubat orang yang bertaubat.

Taubat pada bahasa ialah kembali. Pada istilah pula, taubat bermaksud berhenti daripada melakukan maksiat, menyesal akan kesalahan yang lalu dan berazam tidak akan mengulanginya lagi. Bertaubat adalah wajib bagi setiap manusia yang telah melakukan dosa, baik dosa kecil lebih - lebih lagi dosa besar. Untuk bertaubat, beberapa syarat perlu dipenuhi, iaitu segera berhenti daripada melakukan maksiat berkenaan, hendaklah menyesal terhadap dosa yang dilakukan dan berazam tidak akan mengulangi lagi dosa tersebut.

Mari kita renungi beberapa tanda orang yang taubatnya diterima:


1. Selepas bertaubat keadaannya lebih baik daripada sebelumnya. Seorang hamba hendaklah melihat dirinya setelah bertaubat. Apakah bertambah baiknya atau masih dalam kejahatan. Kalau menjadi baik, Alhamdulillah. Kalau sebaliknya, hendaklah dikesali.


2. Hendaklah berasa takut, yang dia tidak aman daripada azab Allah.


3. Hendaklah menambat keinginan hatinya daripada berbuat maksiat. Hendaklah menyesal dan takut untuk melakukan sama ada dosa kecil atau jenayah yang besar.


4. Berasa hina diri dan tawaduk.


Ada beberapa tanda yang Taubat kita belum diterima Allah antaranya;


1. Lemah keazamannya dan hatinya membayangkan keseronokan melakukan dosa semula. Itu adalah taubat orang yang dusta. Malunya kepada manusia, tidak kepada Tuhan, takutnya kepada manusia tidak takut kepada Allah.


2. Tenang dan yakin dirinya telah bertaubat dan berasa aman daripada murka Allah.Ini yang biasa dirasa oleh kebanyakan orang yang bertaubat.Hanya dengan beristighfar dan mengerjakan solat sunat taubat,memadailah bagi diri mereka untuk merasa aman dan tenteram seolah-olah dosa sudah diampunkan.


3. Beku air matanya daripada menangis dan keras hatinya. Tidak takut terhadap kematian dan peristiwanya. Tidak takut neraka dan peristiwanya. Air mata yang mengalir bukanlah air mata hipokrit semata-mata. Sebaliknya lahir dari rasa keinsafan dan bersalah yang teramat sangat terhadap dosa yang dikerjakan.


4 Tidak melakukan amal soleh selepas bertaubat.barangkali mereka yang bersikap sedemikian tidak layak untuk dikatakan sudah bertaubat.


Marilah kita bertaubat dengan bersungguh-sungguh kepada Allah sebelum terlambat. Sesungguhnya taubat itu dapat mendekatkan diri kita dengan Allah.

Monday, April 06, 2009

Sememangnya Manusia tidak berilmu?


Allah Ta’ala berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia yang bermaksud, “Itulah janji Allah. Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum [30]: 6)


Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya, “Sedangkan firman-Nya ta’ala ‘Itulah janji Allah. Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya.’ Artinya: Inilah yang Kami beritakan kepadamu hai Muhammad, bahwasanya Kami benar-benar akan memenangkan Romawi dalam melawan Persia, itulah janji yang benar dari Allah, sebuah berita yang jujur dan tidak akan meleset. Hal itu pasti terjadi. Karena ketetapan Allah yang telah berlaku menuntut-Nya untuk memenangkan salah satu kelompok yang lebih dekat kepada kebenaran di antara dua kubu yang saling memerangi. Dan Allah pasti akan memberikan pertolongan kepada mereka. ‘Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui’, artinya mereka tidak mengetahui hukum kauniyah Allah serta perbuatan-perbuatan-Nya yang sangat cermat dan selalu bergulir di atas prinsip keadilan.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azim, 6/168)




Kemudian Allah ta’ala berfirman tentang mereka iaitu kebanyakan manusia yang maksudnya, “Mereka mengetahui sisi lahiriyah kehidupan dunia, akan tetapi terhadap perkara akhirat mereka lalai.” (QS. Ar Ruum [30]: 7


Ibnu Katsir kembali memaparkan, “Artinya kebanyakan manusia tidak memiliki ilmu kecuali dalam urusan dunia, cara mencapainya, segala macam karenah serta perkara apa saja yang ada di dalamnya. Mereka adalah orang-orang yang cerdas dan pandai tentang bagaimana cara menguasai dunia. Namun mereka lalai terhadap hal-hal yang akan mendatangkan manfaat untuk mereka di negeri akhirat. Seolah-olah akal mereka lenyap. Seperti halnya orang yang tidak memiliki akal dan fikiran.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azim, 6/168)


Ibnu Abbas menjelaskan tentang makna ayat yang mulia ini, “Maksudnya adalah orang-orang kafir. Mereka itu mengetahui bagaimana cara untuk memakmurkan dunia akan tetapi dalam masalah-masalah agama mereka bodoh.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azim, 6/168)


Sebaiknya kita sama-sama teliti tentang keutamaan ilmu terhadap manusia:




Pertama: Meningkatkan Darjat manusia.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman dan diberikan ilmu di antara kalian beberapa derajat. Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al Mujadilah [58]: 11).


Al Hafizh menjelaskan, “Ada yang mengatakan tentang tafsirannya adalah: Allah akan mengangkat kedudukan orang beriman yang berilmu dibandingkan orang beriman yang tidak berilmu. Dan pengangkatan darjat ini menunjukkan adanya sebuah keutamaan…” (Fathul Bari, 1/172).



Beliau juga meriwayatkan sebuah ucapan Zaid bin Aslam mengenai ayat yang artinya, “Kami akan mengangkat darjat orang yang Kami kehendaki.” (QS. Yusuf [12]: 76). Zaid mengatakan, “iaitu dengan sebab ilmu.” (Fathul Bari, 1/172)



Kedua: Nabi Diperintahkan Berdoa untuk Mendapatkan Tambahan Ilmu

Di dalam Kitabul Ilmi Bukhari membawakan sebuah ayat yang artinya, “Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha [20]: 114). Kemudian Al Hafizh menjelaskan, “Ucapan beliau: Firman-Nya ‘azza wa jalla, ‘Wahai Rabbku tambahkanlah kepadaku ilmu’. Memiliki penunjukan yang sangat jelas terhadap keutamaan ilmu. Sebab Allah ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan untuk apapun kecuali tambahan ilmu. Sedangkan yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i; yang dengan ilmu itu akan diketahui kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang mukallaf untuk menjalankan ajaran agamanya dalam hal ibadah ataupun muamalahnya, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, dan hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, menyucikan-Nya dari segenap sifat tercela dan kekurangan. Dan poros semua ilmu tersebut ada pada ilmu tafsir, hadis dan fiqh…” (Fathul Bari, 1/172)


Ketiga: Perintah Bertanya Kepada Ahli Ilmu


Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci memerintahkan untuk bertanya kepada mereka (ahli ilmu) dan merujuk kepada pendapat-pendapat mereka. Allah juga menjadikannya sebagaimana layaknya persaksian dari mereka. Allah berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu kecuali para lelaki yang Kami wahyukan kepada mereka: bertanyalah kepada ahli dzikir apabila kalian tidak mempunyai ilmu.’ (QS. An Nahl [16]: 43). Sehingga makna ahli dzikir adalah ahli ilmu yang memahami wahyu yang diturunkan Allah kepada para nabi.” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 24)


Keempat: Kebenaran Akan Dizahirkan Bagi Ahli Ilmu

Ibnul Qayyim mengatakan, “Allah Yang Maha Suci memberitakan mengenai keadaan orang-orang yang berilmu; bahwa merekalah orang-orang yang bisa memandang bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi dari Rabbnya adalah sebuah kebenaran. Allah menjadikan hal ini sebagai pujian atas mereka dan permintaan persaksian untuk mereka. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang diberikan ilmu bisa melihat bahwa wahyu yang diturunkan dari Rabbmu itulah yang benar.” (QS. Saba’ [34]: 6).” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 24)


Kelima: Segala Sifat Terpuji Bersumber dari Ilmu

Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya seluruh sifat yang menyebabkan hamba dipuji oleh Allah di dalam al-Qur’an maka itu semua merupakan buah dan hasil dari ilmu. Dan seluruh celaan yang disebutkan olehNya maka itu semua bersumber dari kebodohan dan akibat darinya…” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 128). Beliau juga menegaskan, “Dan tidaklah diragukan bahwasanya kebodohan adalah pokok seluruh kerosakan. Dan semua bahaya yang menimpa manusia di dunia dan di akhirat maka itu adalah akibat dari kebodohan…” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 101)


Ibnul Qayyim mengatakan, “Adapun kebahagiaan ilmu, maka hal itu tidak dapat kamu rasakan kecuali dengan cara mengerahkan segenap kemampuan, keseriusan dalam belajar, dan niat yang benar.

Imam Muslim menyebut di dalam Sahihnya, Yahya bin Abi Katsir berkata: ‘Ilmu tidak akan diraih dengan tubuh yang banyak bersantai-santai.’ Dahulu ada yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang menginginkan hidup santai (di masa depan, pen) maka dia akan meninggalkan banyak bersantai-santai’.” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 112)


Inilah sekelumit pelajaran dan motivasi bagi para guru dan penuntut ilmu. Semoga yang sedikit ini akan menyalakan semangat dalam mendalami dan menyampaikan ilmu Allah. Para guru dan penuntut ilmu yang mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaannya kepada segala sesuatu. Segeralah menanti hari esokmu dengan ilmu! Janganlah kita terus hanyut dalam arus kebanyakan orang yang tidak berilmu.


Diadaptasi dari muslim.or.id

Wednesday, May 14, 2008

Tafsir al-Maidah ayat 79: Cegah mungkar dengan kekuasaan

Oleh Tuan Guru
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aishah r.a. yang disebut oleh Ibnu Majah di dalam kitabnya bahawa Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud; "Suruhlah kamu kepada yang baik dan cegahlah kamu daripada kemungkaran, sebelum berlaku bahawa kamu berdoa, tetapi tidak diperkenankan kepada kamu."
Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh ulama-ulama hadis, antaranya Muslim, dan diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri r.a., sabda Rasululah s.a.w. yang bermaksud; "Sesiapa di kalangan kamu melihat perkara mungkar maka hendaklah dia mengubah dengan tangannya, sekiranya tidak mampu maka dengan lidahnya, sekiranya tidak mampu lagi maka dengan hatinya dan dengan yang demikian itu (dengan hati itu) adalah sedaif-daif iman."
Seseorang itu jika melihat kemungkaran berlaku di hadapan matanya, sekiranya boleh diubah dengan tangan, makan gunakanlah ia, jika berkuasa berbuat demikian.
Sebagai contoh sekiranya benda itu layak dibakar api atau dihancurkan, maka benda itu perlulah dilakukan demikian selepas ditegur dengan lidah, kemungkaran itu tetap tidak berubah dengan syarat jangan membawa fitnah yang lebih besar.
Yakni sekiranya cegahan dibuat dengan tangan, berlaku tindakan yang lebih besar fitnahnya maka ia adalah dilarang kerana kita hendaklah mengelak fitnah yang lebih besar.
Ertinya jika menggunakan tangan, kemungkaran itu berhenti, maka adalah wajar cegahan dengan tangan digunakan.
Sesetengah ulama mengatakan bahawa yang mempunyai kemampuan itu adalah kerajaan. Dia berupaya menyuruh kepada perkara yang baik dan mencegah kemungkaran dengan tindakan undang-undang.
Jangan pula berlaku kerajaaan sendiri memberi lesen untuk membenarkan orang ramai melakukan maksiat atau kemungkaran dengan meluluskan lesen judi, arak dan seumpamanya.
Kerajaan memberi alasan kononnya tindakan tersebut bertujuan mengawal kegiatan maksiat di kalangan rakyat. Jika demikian kenapa lesen mencuri tidak diberikan kepada pencuri dan perompak untuk mengawal berlakunya kecurian dan rompakan?
Bukan bererti mengawal sesuatu kegiatan itu dengan memberi lesen kepada sesuatu organisasi atau individu tetapi mengawal juga boleh berlaku dengan menyediakan tempat atau sebaliknya.
Jika diambil contoh untuk mengawal supaya orang ramai tidak buang air merata justeru disediakan tandas, bukan bererti untuk mengawal kecurian dan rompakan disediakan pula tempat untuk aktiviti jenayah berkenaan.
Ini kaedah yang tidak boleh dipakai dari segi undang-undang dan akal fikiran yang waras. Bukan semua kaedah boleh dipakai dalam semua perkara kerana kaedah penyelesaiannya berlainan antara satu perkara dengan satu perkara lain.
Misalnya, untuk menimbang emas dan getah mestilah memakai dacing berbeza bukan hanya dengan menggunakan satu dacing sahaja.
Ertinya pemerintah mesti mencegah kemungkaran, iaitu mengenakan tindakan undang-undang mengikut hukum Islam terhadap segala kesalahan jenayah dan maksiat kerana inilah maknanya mengubah dengan tangan.
Dan antara orang yang mampu mengubah dengan tangan juga adalah ibu bapa terhadap anak-anak mereka. Jika anak-anak mereka melakukan kemungkaran termasuk tidak mengerjakan solat maka menjadi tanggungjawab ibu bapa menggunakan kuasa yang ada pada mereka termasuk menggunakan tangan bagi mengubah perbuatan mungkar yang dilakukan oleh anak-anak mereka.
Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud; "Suruhlah anak kamu mengerjakan sembahyang ketika umurnya tujuh tahun. Pukullah mereka bila umurnya 10 tahun (jika tidak mengerjakan sembahyang)."
Begitulah juga dalam perkara yang lain. Apabila seseorang anak itu mencapai umur 10 tahun, maka diizinkan mengenakan tindakan memukul ketika melakukan kesalahan yang bercanggah dengan hukum agama.
Pukulan yang dibuat ialah pukulan mendidik, bukan pukulan marah dan geram yang mencederakan tubuh badan anak berkenaan.
Maka begitu jugalah seorang guru gunakanlah kekuasaan yang ada untuk mengubah apa juga kemungkaran yang berlaku di kalangan anak didik kita dengan penuh rasa tanggungjawab dan bukan dengan rasa kegeraman dan kemarahan di luar kawalan. sekian wallahu a'lam
FREE PALESTINE

My Blog List