SELAMAT MAJU JAYA DAN SUKSES
Showing posts with label ulum hadis. Show all posts
Showing posts with label ulum hadis. Show all posts

Friday, August 14, 2009

Memahami Kategori Hadis dari aspek bilangan perawi

Hadith Mutawatir

Dari segi bahasa al Mutawātir adalah Ism al Fā’il daripada al Tawātur yang bermaksud yang berturut-turut.

Dari segi istilah pula, hadith mutawatir bermaksud hadith yang diriwayatkan oleh bilangan yang ramai di mana mustahil dari segi akal mereka berpakat untuk menipu.


Syarat hadith mutawatir

- Diriwayatkan oleh perawi yang ramai.
- Bilangan yang ramai ini terdapat di kebanyakan peringkat (sahabat – tabi’in – seterusnya)
- Mereka meriwayatkan berdasarkan hissi seperti kata-kata sami’na (kami dengar) atau ro‘aina (kami lihat)


Hukumnya

Mencapai darjat ilm yaqin iaitu ilmu yang wajib diterima dengan penerimaan yang kukuh tanpa sebarang ragu-ragu, wajib beramal dengannya. Sahih



Pembahagiannya

- Mutawatir Lafzi – Hadith yang sampai darjat mutawatir pada lafaz dan maknanya. Contohnya ialah hadith “Sesiapa yang berdusta ke atasku ... “

- Mutawatir Maknawi – Hadith yang sampai darjat mutawatir pada maknanya sahaja walaupun berbeza lafaznya.


Hadis Ahad


Dari segi bahasa ialah satu.

Dari segi istilah ialah hadis yang diriwayatkan oleh seorang atau 2 orang perawi yang jumlahnya tidak mencapai darjat mutawatir.

Hukum beramal dengan Hadis Ahad

Wajib beramal dan berhujjah dgn Hadis Ahad, tetapi tidak kufur sesiapa yang menolaknya.

Hadis Ahad dibahagi kepada tiga:

1) Hadis Masyhur

Dari segi bahasa ialah yang termasyhur @ terkenal.

Dari segi istilah ialah hadis yang diriwayatkan oleh tiga atau lebih perawi dalam setiap thabaqatnya namun belum mencapai darjat mutawatir.

Misalnya hadis Rasulullah SAW :

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan sekaligus, akan tetapi Allah mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama.” (Riwayat Bukhari)

Hukum beramal dgn Hadis Masyhur

Boleh beramal dan berhujjah dengan Hadis Masyhur yang sahih dan hasan sahaja. Jika ia dhaif @ Maudu’, tidak boleh beramal dgnnya.

2) Hadis ‘Aziz

Dari segi bahasa ialah sedikit dan jarang-jarang
Dari segi istilah ialah hadis yang diriwayatkan oleh dua perawi dalam setiap thabaqatnya.

Contohnya hadits Rasulullah SAW:

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sehingga aku (Nabi) lebih ia cintai daripada orangtuanya, anaknya dan manusia seluruhnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Hukum beramal dgn Hadis ‘Aziz

Boleh beramal dan berhujjah dengan Hadis ‘Aziz yang sahih dan hasan sahaja. Jika ia dhaif @ Maudu’, tidak boleh beramal dgnnya.


3) Hadis Gharib

Dari segi bahasa ialah tunggal
Dari segi istilah ialah hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi dalam setiap atau mana-mana thabaqatnya.

Contohnya adalah hadis Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya…”

Hukum beramal dgn Hadis Gharib

Boleh beramal dan berhujjah dengan Hadis Gharib yang sahih dan hasan sahaja. Jika ia dhaif @ Maudu’, tidak boleh beramal dgnnya.

Sunday, May 31, 2009

Biografi dan Ketokohan Imam Bukhari


Imam Bukhari lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju'fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Datuknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy. Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut). Ibunya senantiasa berusaha dan berdo'a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah, dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total.Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebahagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya. Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah. Sekalipun daerah tersebut telah jatuh di bawah kekuasaan Soviet (Rusia), namun menurut Alexandre Benningsen dan Chantal Lemercier Quelquejay dalam bukunya "Islam in the Sivyet Union" (New York, 1967), pemeluk Islamnya masih berjumlah 30 million. Jadi merupakan daerah yang pemeluk Islamnya yang ke lima besarnya di dunia setelah Indonesia, Pakistan, India dan Cina.

Imam Bukhari diakui memiliki daya hafalan tinggi, yang diakui oleh abangnya Rasyid bin Ismail. dikatakan pernah Imam Bukhari semasa muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia sering dicela membuang waktu karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab. Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat. Ketika sedang berada di Baghdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja "diputar-balikkan" untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu membetulkan kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar.

Dalam menghimpun hadits-hadits shahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan kaedah-kaedah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya. Imam Bukhari senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya, menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan bahan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: "Aku susun kitab Al Jami' ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun."Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, di antaranya adalah Syeikh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim). Imam Muslim menceritakan : "Ketika Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang ketua daerah, para ulama dan penduduk Naisabur yang memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya." Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya Az Zihli (guru Imam Bukhari) berkata : "Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya."

Para ulama hadits menyatakan, dalam menyusun kitab Al-Jami' as-Shahih, Imam Bukhari selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan paling tinggi dan tidak akan turun dari tingkat tersebut, kecuali terhadap beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab. Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu'allaq (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam memberi komentar kitab Shahih Bukhari semata-mata karena perbezaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.

Friday, March 06, 2009

Menilai Hujjah Golongan Anti Hadith


Ada beberapa faktor yang menyumbang kepada kesesatan golongan anti hadith ( GAH ). Di antara faktor paling menonjol ialah bahawa mereka mninggalkan petunjuk Sunnah. Bertolak daripada doktrin mereka bahawa "al-Qur'an telah lengkap" (kenyataan ini memang benar tetapi mereka silap dari segi praktisnya), mereka beranggapan boleh belajar sendiri, ambil saja mana-mana terjemahan (rata-rata mereka tak faham pun bahasa Arab), lalu mentafsirkan sendiri mengikut kefahaman mereka. Tindakan mereka ini secara terus menolak fungsi keRasulan, iaitu "mengajar/menerangkan" maksud isi kandungan kitab/al-Qur'an tersebut seperti firmanNya yang bermaksud: "(Kami utus mereka itu) dengan (membawa) keterangan dan kitab-kitab. Kami turunkan kepada engkau (Muhammad) peringatan (i.e al-Qur'an), supaya engkau TERANGKAN kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka, mudah-mudahan mereka memikirkannya" [an-Nahl, 16:44].





Sudah tentu para Rasul yang merupakan manusia terpilih bukan hanya berfungsi seperti 'robot', menyampaikan saja apa-apa yang diwahyukan tanpa ada penjelasan. Kalau demikian, mengapa pula perlunya Rasul sedangkan Allah berkuasa menurunkan terus kitab-kitab tersebut ? Mengapa Rasul mesti dipilih dari kalangan manusia sendiri, sedangkan jika malaikat yang diutuskan misalnya, tentu saja manusia lebih takut dan hormat?







Alasannya, seperti yang diterangkan oleh ayat di atas dan beberapa ayat lagi, untuk menerangkan maksud ayat-ayat yang diturunkan pula secara beransur-ansur itu kepada manusia dalam konteks PRAKTIKALnya, tunjuk-ajar daripada manusia contoh(i.e.Rasul itu sebagai MODEL, rujuk misalnya QS 33:21, 47:33) kepada manusia umum. Inilah konsep pendidikan yang benar di mana guru mestilah mengamalkan dulu apa yang diajarkannya sebelum ajaran mereka diikuti, bukannya konsep pendidikan sekular sekarang yang memisahkan antara apa yang diajar dengan apa yang ditunjukkan dengan perilaku pengajar (i.e "You follow what I taught you, do not do what I did !") yang nyata sekali mengelirukan dan gagal terutamanya dalam membentuk akhlak terpuji.







Konsep pendidikan ini telah diamalkan oleh Islam semenjak dari awal lagi, dan diperturunkan dari generasi ke generasi di mana as-sunnah diambilkira sebagai "alat" dan petunjuk utama dalam mempelajari dan memahami al-Qur'an seperti mafhum hadith: "Sebaik-baik hadis ialah Kitabullah(i.e al-Qur'an) dan sebaik-baik PETUNJUK adalah daripada Rasulullah. Setiap perkara baru (bida'ah) itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu (sudahnya) dalam neraka" [Sahih Bukhari].








Maka dalam konteks ini, golongan anti-hadis telah melakukan BIDA'AH yang haqiqi, yang sudah pasti membawa kesesatan apabila mereka membelakangkan as-sunnah. Perbuatan mereka adalah contoh penting untuk isu bida'ah kerana amalan mereka ini memang amalan baru, yang tidak pernah diamalkan oleh golongan sebelumnya dan ia jelas bertentangan dengan maksud hadis di atas.Ia bertepatan dengan takrif bida'ah sendiri iaitu: "Suatu amalan baru yang TIADA berpandukan petunjuk nas (sama ada secara terus atau tersirat)". Maka kesan dari perbuatan ini, mereka telah sesat jauh daripada kebenaran. Sehubungan dengan faktor ini, antara contoh kesilapan mereka dalam memahami al-Qur'an, ialah mereka menganggap:










i) Tidak boleh menulis apa-apa lagi berkenaan agama kecuali yang termaktub dalam al-Qur'an:
Antara hujjah mereka ialah ayat 2:79 yang bermaksud: "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan-tangan mereka, kemudian mereka berkata: 'Ini dari sisi Allah!', ...". Begitu juga ayat 3:78, 9:31. Oleh kerana mereka tidak berpandukan as-sunnah, mereka gagal menanggapi KONTEKS ayat-ayat ini yang merujuk kepada tindak-tanduk para rahib dari kalangan ahli kitab yang telah meminda kitab Taurat, Zabur dan Injil dan mengatakan ia termasuk dalam ajaran kitab tersebut. Akibatnya, rosaklah kandungan sebenar kitab-kitab tersebut dengan isinya bercampur-baurantara isi asal dengan 'sumbangan' para rahib yang menjadikan kitab tersebut bukan lagi asli contohnya Bible sekarang yang tidak boleh dipakai lagi.










Manakala para ulamak Islam, tidak pernah berusaha untuk meminda al-Qur'an, apa yang mereka tulis adalah kitab-kitab yang mengandungi maksud dan faham yang diambil daripada al-Qur'an untuk memudahkan orang awam memahami isi al-Qur'an. Ia seumpama "memberi ulasan" kepada kitab Allah, berdasarkan pengkajian dan fahaman mereka yang bertahun-tahun mengkaji kitab tersebut,supaya masyarakat lebih mengerti terhadap maksud al-Qur'an. Mereka tidak pernah mendakwa kitab-kitab mereka sebagai alternatif atau saingan kepadaal-Qur'an. Isi kandungan al-Qur'an tetap kekal tanpa dicampuri atau ditokok-tambah, tidak seperti yang dibuat oleh para rahib ahli kitab. Konteks ayat-ayat tersebut menyentuh tentang usaha para rahib untuk memindadan menokok-tambah kitab Allah, sedangkan tiada seorangpun ulama yang dikaitkan oleh mereka berbuat demikian.








Maka kefahaman mereka terhadap ayat-ayat di atas adalah silap dan kesilapan begini mendorong mereka kepada salah-laku dan tanggapan yang salah terhadap para ulama, lantas mendorong mereka kepada kesesatan.








ii) Ayat 5:77, mereka faham larangan berlebihan dalam agama dalam konteks yang melampaui maksud ayat ini.









Bagi mereka segala apa perbuatan ibadat, kalau tidak ada suruhan khusus dalam al-Qur'an maka ia haram termasuklah amalan-amalan sunat wudhuk (e.g. berkumur-kumur, basuh hidung dll) yang tidak terkandung dalam arahan berwudhuk pada ayat 5:6. Maka jika kita perhatikan faham ini, banyak sekali amalan sunnah ditafsirkan sebagai HARAM oleh mereka padahal semua amalan itu adalah baik sekali untuk menyempurnakan lagi arahan al-Qur'an itu (tanpa memberatinya), alangkah sempitnya fahaman mereka. Padahal, kalau kita lihat terus ayat inipun kita boleh tahu konteksnya. Perhatikan maksudnya: "Katakanlah: Hai AHLI KITAB, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam agamamu SELAIN DARI KEBENARAN dan janganlah kamu turut hawa nafsu kaum yang sesat sebelum itu dan menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka telah sesat dari jalan yang lurus" [al-Maaidah; 5:77].











Ayat ini bermula dengan arahan kepada Rasulullah ('Qul') supaya menyeru golongan ahli kitab supaya mereka tidak bersikap melampau dalam agama mereka dan tersesat seperti golongan TERDAHULU, dan mengajak mereka kembali kepada kebenaran. Golongan terdahulu di sini termasuklah para pengikut Nabi Musa yang berlebihan bertanya Nabi Musa (AS) dalam banyak hal sehingga menyusahkan [rujuk kisahnya pada ayat 67-71 tentang penyembelihan sapi dan ayat 108 sebagai teguran dari Allah, bersikap melampau sehingga melanggar perjanjian dengan Allah(5:13), dan sikap kecintaan dan pemujaan yang berlebihan kepada Nabi Isa(AS) sehingga sanggup meletakkan baginda sebagai 'anak Tuhan'(5:72)]. Inilah yang dimaksudkan sebagai sikap melampau di sini, iaitu keterlaluan dalam melakukan sesuatu sehingga melanggar batasan yang dibenarkan oleh syarak.











iii) Ayat 2:187, yang menyebutkan 'berpuasa sampai waktu malam'.








Mereka menganggap amalan sekarang yang berbuka pada waktu maghrib/senja telah mengingkari maksud ayat ini. Reaksi spontan saya apabila membaca komentar mereka ialah "Aik! Bila agaknya mereka ni berbuka?". Di sinilah antara contoh peranan sunnah menjelaskan bahawa batasan antara malam dan siang itu adalah pada ketika jatuhnya matahari, iaitu pada waktu magrib. Pada ketika ini berakhirlah siang dan bermulalah waktu malam, maka bolehlah berbuka.








Kenyataan sunnah ternyata benar akhirnya apabila dipersetujui oleh kajian ilmu falak/astronomi kerana pada waktu sianghari, sumbangan cahaya dimainkan oleh matahari, maka apabila matahari terbenam, tamatlah siang dan bermulalah waktu malam. Dengan ini juga, sunnah telah mengaitkan hakikat "malam" disini dengan menunjukkannya 'batas antara malam dan siang' dan mengaitkannya dengan banyak ayat lain misal ayat berikut yang bermaksud: "Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam, Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar, hingga waktu yang ditetapkan ..." [al-Faathir, 35:13].














Pendek kata memang peranan Rasul (i.e, as-sunnah) untuk menjelaskan banyak kenyataan di dalam al-Qur'an, bukan pula bermaksud al-Qur'an itu tidak lengkap tetapi manusia dengan kelemahannya mudah keliru seperti yang ditunjukkan oleh fahaman golongan anti-hadith ini. Sebab itulah juga banyak ayat-ayat al-Qur'an menyuruh kita "mentaati Rasul" dan mengambil Baginda sebagai model ikutan. Kenyataan-kenyataan ini merupaka 'clue'/petanda jelas supaya merujuk sunnah.








Dengan menolak kepentingan sunnah ini bukan sahaja menunjukkan keengkaran terhadap perintah Allah, bahkan menolak 'perkaitan'antara al-Qur'an dengan as-sunnah yang menyebabkan al-Qur'an itu lengkap. Menolak ayat-ayat ini bererti menolak sebahagian daripada maksud al-Qur'an itu sendiri, maka tentu sekali fahaman mereka tidak lengkap, bukannya al-Qur'an !







Nyata sekali di sini, oleh kerana golongan anti-hadith menolak as-sunnah, mereka dalam banyak ketika akan keliru dan meletakkan maksud ayat-ayat al-Qur'an bukan pada konteksnya, memahami ayat dalam kefahaman yang salah, meletakkan hukum tidak kena tempatnya, membaca al-Qur'an hanya melalui terjemahan. Apa yang saya maksudkan di sini ialah golongan yang CUMA membaca terjemahan al-Qur'an sahaja tetapi telah beranggapan bahawa mereka telahpun membaca al-Qur'an. Sehubungan dengan ini, saya tidak menyukai terjemahan al-Qur'an semata-mata tanpa disertai teks asal kerana ia boleh mengelirukan kita (oleh itu, buku "Bacaan" karya Othman Ali tidak dapat saya akui malahan patut dikeji pula kerana penterjemahnya sendiri pernah menyatakan bahawa beliau "tidak arif tentang bahasa Arab!"), seolah-olah terjemahan itu adalah "alternatif" kepada teks asal al-Qur'an padahal tiada satupun terjemahan yang boleh dianggap setaraf dengan al-Qur'an.








Ayat-ayat al-Qur'an adalah sangat unik, setiap hurufnya mempunyai makna tersendiri, unik dan susunan ayatnya tidak akan mampu ditandingi oleh manusia (rujuk misalnya cabaran Allah melalui ayat 23-24, surah al-Baqarah). Saya bawakan satu lagi contoh bagaimana siratan maksud terselit di dalam bahasa asal al-Qur'an. Kali ini, berkenaan dengan kekuasaan Allah iaitu keupayaan "kun fayakun' sepertimana maksud ayat kedua terakhir surah Yaasin:
"Hanya urusanNya, bila Ia menghendaki (mengadakan) sesuatu, Ia berkata kepadanya : 'Jadilah (engkau)!', lalu jadilah ia" [Yaasin; 36:82].









Bila kita merujuk teks asal, perkataan yang digunakan ialah 'kun' iaitu simpulan huruf 'kaf' dengan 'nun'. Apabila kita sebut sahaja huruf 'kaf' disini, dengan serentak, huruf 'nun' akan menurutinya (sebagaimana urutan abjad alif, ba,ta ) yang mengikut sesetengah tafsir menjadi petunjuk bahawa antara keistimewaan kekuasaan Allah ialah apabila Dia berkehendakkan (iradat) sesuatu berlaku, maka sesuatu itu akan berlaku tanpa ada sedikitpun selang masa! Itulah antara kelebihan Allah diatas makhlukNya, Dia bukan sahaja tidak memerlukan sesuatu untuk mencipta (lain halnya dengan manusia mencipta sesuatu daripada benda-benda yang sudahpun ada) malahan Allah juga tidak beruntukkan masa, bila berlaku iradat Allah terhadap sesuatu maka pada saat itu juga sesuatu itu berlaku.










Inilah antara maksud yang ditunjukkan secara tersirat di dalam perkataan 'kun' tersebut. Banyak lagi contoh lain yang menunjukkan bahawa terjemahan oleh manusia walaupun setinggi manapun ilmunya tidak akan dapat mencakupi kesemua maksud yang tersirat di dalam al-Qur'an. Maka tidak ada satupun terjemahan yang sempurna. Adapun terjemahan biasa yang terdapat di pasaran adalah dialu-alukan kerana ia disertakan dengan teks asal, demi untuk memudahkan sesiapa sahaja mengambil serba sedikit pengertian daripada ayat-ayat yang dibaca.









Walau bagaimanapun, untuk mendalami isi al-Qur'an seseorang itu perlulah mempelajari bahasa al-Qur'an itu sendiri iaitu bahasa Arab. Manakala buku-buku tafsir pula adalah patut dirujuk kerana ia adalah PANDUAN yang diberikan oleh para pentafsir yang sudah bertahun-tahun mengkaji al-Qur'an dan amat mahir dalam ilmu pengkajian al-Qur'an ini. Mereka menghabiskan usia dan tenaga mereka untuk mengkaji al-Qur'an demi untuk membantu ummat memahaminya sebaik mungkin. Maka, inilah yang dimaksudkan dengan rantaian murni ahli sunnah;







"Sebaik-baik hadis adalah al-Qur'an, sebaik-baik pembimbing (guru utama yang mengajarkan al-Qur'an) adalah RasuluLlah (SAW), kemudian tugas Rasul ini diwarisi oleh para ulama" .

Sunday, March 01, 2009

Tuntutlah ilmu hingga ke liang lahad. Dinisbahkan kepada Rasulullah?

Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah (1417H) telah memberi komentar tentang kata-kata yang popular di kalangan masyarakat ini dengan menjelaskan[1]:“Bahawa kata-kata ini: ‘Menuntut ilmu dari buaian ke liang lahad’, atau yang disebut sebagai ‘Tuntutlah ilmu dari buaian ke liang lahad’, bukanlah Hadis Nabi SAW, tetapi ia merupakan kata-kata manusia, maka tidak harus untuk menisbahkannya kepada Rasulullah SAW sepertimana yang selalu orang katakan.

Ini adalah kerana tidak boleh menisbahkan sesuatu kepada Rasulullah SAW melainkan hanya apa yang benar baginda ucapkan atau lakukan atau perakukan.Walaupun kata-kata ini betul dan benar maksudnya, tetapi ia tetap tidak diharuskan untuk menisbahkannya kepada Nabi SAW.Hadis palsu ini “Tuntutlah ilmu dari buaian ke liang lahad” sangat popular dan masyhur di kalangan manusia, akan tetapi adalah menghairankan bahawa kitab-kitab yang menghimpunkan ‘hadis-hadis yang masyhur’ tidak pernah menyebutkannya”.

[1] Lihat: Abu Ghuddah, Abdul Fattah (1417H), Qiimatu Az-Zaman ‘indal Ulama, m/s 29, Maktabah Al-Mathbu’aat Al-Islamiah (Cetakan Kesepuluh)

Monday, February 02, 2009

PERBEZAAN ANTARA HADITH DENGAN HADITH QUDSI

Dalam kitab-kitab hadith didapati hadith Qudsi. Ulama' hadith mengatakan bahawa hadith Qudsi itu: ialah perkataan Nabi saw yang disebut dengan mengatakan Allah bertitah , disandarkan perkataan itu kepada Allah dan diriwayatkan daripadanya. Kesimpulannya Hadith Qudsi: ialah titah Allah yang disampaikan kepada Nabi saw di dalam mimpi atau dengan jalan ilham, lalu Nabi saw menerangkan apa yang disampaikan itu kepada umatnya dengan ibarat atau susunan perkataannya sendiri serta menyandarkan kepada Allah; sedang hadith-hadith yang lain tidak demikian itu. Hadith Qudsi itu dinamakan juga Hadith Ilahi atau Hadith Rabbani. Dan pernah pula dibezakan Hadith Qudsi dengan yang lainnya; iaitu segala hadith yang bersangkut dengan kebersihan atau kesucian zat Allah dan sifat-sifat kebesaran dan kemuliaanNya. [Kitab al-Dar al-Nadid min Majmu'ah al-Hafid]
Contoh Hadith Qudsi itu, Rasulullah saw bersabda: "Firman Allah Ta'ala: Tiap-tiap amal anak Adam untuknya kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa itu untukKu, dan Aku akan memberi balasan dengannya. Dan puasa itu perisai, maka apabila seorang kamu berpuasa janganlah ia memaki-maki, mencarut-carut dan janganlah dia menghiruk-pikukkan; maka jika dia dimaki oleh seorang atau hendak dibunuhnya, hendaklah ia katakan: aku ini berpuasa." (Hadith riwayat Bukhari & Muslim) Rasulullah saw bersabda: "Firman Allah Ta'ala: Aku menurut persangkaan hambaKu dan Aku bersamanya di mana saja ia sebut (ingat) akan daku." (Hadith riwayat Bukhari & Muslim)
ISTILAH-ISTILAH YANG DIGUNAKAN DALAM 'ILMU MUSTHALAH HADITH
Di antara istilah-istilah yang digunakan itu ialah:
1. Sanad: iaitu jalan yang menyampaikan kepada hadith.
2. Isnad: iaitu menyebutkan hadith itu kepada orang yang mengatakannya. Sanad dan isnad hampir sama ertinya; keduanya adalah penting untuk menentukan nilaian hadith. 'Abdullah bin Mubarak berkata: "Isnad adalah dari urusan agama, dan kalaulah tidak kerana isnad, nescaya berkatalah orang yang mau apa yang ia mau berkata."
3. Musannid: iaitu orang yang meriwayatkan hadith dengan isnadnya.
4 Musnad: iaitu kitab yang dikumpulkan hadith di dalamnya, yang diriwayatkan dari seorang sahabat atau lebih.
5. Matan: iaitu hadith nabi (s.a.w) yang di akhir sanad.
6. Riwayat: iaitu memindahkan hadith dari seorang kepada seorang yang lain, dan orang yang memindahkan disebut rawi.
7. Istikhraj dan Ikhraj: iaitu mengambil sesuatu hadith dari sesuatu kitab, dan mencari sanad yang lain dari sanad penyusun kitab itu, atau menerangkan bahawa hadith itu dipindahkan oleh penyusun dari kitab yang lain; umpamanya dikatakan: Akhrajah Al-Bukhari, ertinya: mengeluarkan hadith itu oleh Imam Bukhari; maksudnya ada disebut di dalam Bukhari dan ia memindahkannya ke dalam kitabnya.
8. Al-Muhaddis: iaitu orang yang banyak menghafaz hadith serta mengetahui sifat-sifat orang yang meriwayatkan tentang 'adil dan kecacatannya.
9. Al-Hafiz: iaitu orang yang menghafaz sebanyak 100,000 hadith dengan isnadnya.
10. Al-Hujjah: iaitu orang yang menghafaz sebanyak 300,000 hadith dengan isnadnya.
11. Al-Hakim: iaitu orang yang meliputi 'ilmunya dengan urusannya hadith.

ILMU MUSTALAH HADITH

Pengertian Hadith Mustalah hadith ialah satu ilmu untuk mengetahui istilah-istilah yang digunakan dalam ilmu hadith. Orang yang mula menyusunnya ialah Qadi Abu Mahmud al-Ramahramzi [Tahun 360 Hijrah].
Hadith menurut bahasa, ialah
pertama: Yang baharu,
Kedua: Perkhabaran,
Ketiga: Yang dekat atau yang belum lama.
Menurut istilah ahli hadith pula: ialah segala ucapan nabi, segala perbuatan dan segala keadaannya. Masuk ke dalam pengertian keadaannya, segala yang diriwayatkan dalam buku sejarah seperti hal keputraannya, tempatnya dan segala yang bertalian dengannya.
Pengertian ini samalah dengan pengertian sunnah menurut istilah golongan ahli hadith. Tetapi pengertian ini berlainan dengan pengertian ahli usul. Dan sebab berlainan ini ialah kerana berlainan jurusan yang mereka lihat dan mereka tinjau. Ahli (ulama') hadith membahaskan peribadi rasul sebagai seorang yang dijadikan ikutan bagi umatnya. Kerana ini mereka pindahkan dan mereka terangkan segala yang bersangkutan dengan rasul, baik mengenai riwayat, perjalanannya, mengenai budi pekertinya, keutamaannya, keistimewaannya, tutur katanya, perbuatan-perbuatannya; sama ada yang dapat mewujudkan hukum atau tidak.
Ulama' usul membahaskan rasul sebagai seorang pengatur undang-undang yang meletakkan atau menciptakan dasar-dasar ijtihad bagi para mujtahid sesudahnya, dan menerangkan kepada manusia perlembagaan hidup (dustur al-hayat) maka mereka pun memperhatikan segala tutur kata rasul, perbuatan-perbuatannya dan taqrirnya, iaitu pengakuan-pengakuannya bersangkutan dengan perkara penetapan hukum.
Sementara itu ulama' fiqh membahaskan peribadi rasul sebagai seorang yang seluruh perbuatannya atau perkataannya atau menunjukkan kepada suatu hukum syara'. Mereka membahaskan hukum-hukum yang mengenai para mukallaf dan perbuatan mereka dari segi hukum wajib, haram, harus, makruh dan mandub (sunat).
Pengertian Sunnah Sunnah menurut bahasa: ialah jalan yang dilalui sama ada terpuji atau tidak; juga suatu adat yang telah dibiasakan walaupun tidak baik. Rasul SAW bersabda: "Sungguh kamu akan mengikuti sunnah-sunnah (perjalanan-perjalanan) orang yang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga sekiranya mereka memasuki lubang dab (serupa binatang biawak) nescaya kamu memasukinya juga." (Hadith riwayat Muslim)"Barangsiapa menjalani suatu sunnah (perjalanan) yang baik, maka baginya pahala sunnah itu dan pahala yang mengerjakan dengannya hingga hari qiamat, dan barangsiapa mengadakan suatu sunnah (perjalanan) yang jahat (buruk) maka atasnya dosanya dan dosa orang yang mengerjakan dengannya hingga hari qiamat." (Hadith riwayat Bukhari & Muslim)
Jelaslah bahawa menurut hadith tersebut, perkataan sunnah itu diertikan dengan perjalanan, sama ada baik atau pun yang jahat, sebagaimana yang dimaksudkan oleh bahasa.
Sunnah menurut istilah ahli hadith: ialah segala yang dipindahkan dari nabi sallallahu 'alayhi wa sallam baik yang merupakan perkataan, perbuatan, mahupun yang merupakan taqrir, sebelum nabi dibangkitkan menjadi rasul, mahupun sesudahnya. Kebanyakan ahli hadith menetapkan bahawa pengertian yang demikian sama dengan pengertian hadith.
Sunnah menurut pengertian dan istilah ahli usul: ialah segala yang dipindahkan dari nabi sallallahu 'alayhi wa sallam sama ada perkataannya dan perbuatannya, mahupun taqrirnya yang bersangkutan dengan hukum. Inilah pengertian yang dimaksudkan oleh sabdanya ini: "Sesungguhnya aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara tidak akan kamu sesat selama kamu berpegang dengan keduanya: iaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasulnya". (Hadith riwayat Malik)
1. Contoh sunnah (hadith) perkataan(qauliyyah) ialah: "Segala 'amal itu dengan niat." [Riwayat Bukhari, Muslim dan sekelianulama' hadith]
2. Contoh sunnah (hadith) perbuatan (fi'iliyyah) ialah: "Bersembahyanglah kamu sebagaimana kamu melihat aku bersembahyang." [Riwayat Bukhari dan Muslim]
3. Contoh hadith (sunnah) taqrir. Taqrir ialah:
(a) Nabi SAW membenarkan apa yang diperbuat oleh seorang sahabat dengan tidak mencegah atau menyalahkan serta menunjukkan keredaannya;
(b) menerangkan kebagusan yang diperbuat itu serta dikuatkan pula.
Contoh yang pertama ialah sebagaimana Nabi saw membenarkan ijtihad para sahabat mengenai urusan sembahyang 'Asar di Bani Quraizah dengan sabdanya: "Jangan bersembahyang seorang kamu melainkan di Bani Quraizah." [Riwayat Bukhari]
Sebahagian sahabat memahamkan perkataan itu menurut hakikat larangannya lalu menta'khirkan sembahyang 'Asar itu sampai selepas Maghrib. Dan ada sebahagian yang lain tidak memahamkan demikian, mereka memahamkan bahawa yang dimaksudkan nabi bercepat-cepat pergi ke Bani Quraizah. Kerana itu mereka mengerjakan sembahyang 'Asar pada waktunya, sebelum tiba ke Bani Quraizah. Kedua-dua perbuatan sahabat yang berlainan oleh berlainan ijtihad sampai kepada Nabi saw beritanya, dan Nabi saw tinggal berdiam diri tidak membantah apa-apa.
Contoh yang kedua sebagaimana yang diriwayatkan bahawa Khalid bin Walid pernah memakan dab (serupa binatang biawak) kemudian dikemukakan orang kepada Nabi saw. Nabi saw sendiri enggan memakannya, maka bertanya sebahagian sahabat: "Adakah diharamkan makannya ya Rasulullah? Lalu ia bersabda: Tidak! cuma binatang itu tidak ada di negeri kaumku, kerana itu aku tidak gemar kepadanya."
Selanjutnya pernah juga dinamakan sunnah itu suatu yang ditunjuki oleh dalil syara', baik berdasarkan dalil Qur'an atau pun berdasarkan hadith, mahu pun berdasarkan ijtihad para sahabat, seperti mengumpulkan mashaf(Qur'an) dan menyuruh manusia membaca menurut suhuf 'Uthman, dan seperti membukukan ilmu (menyusun dan mengarangnya).
Lawan dari sunnah ini ialah bid'ah, inilah yang dimaksudkan oleh hadith: "Berpeganglah kamu sungguh-sungguh dengan sunnahku dan sunnah khalifah-khalifah yang mendapat pertunjuk sesudahku." [Abu Daud & Tarmizi] Sementara itu ulama' fiqh berpendapat, bahawa suatu yang diterima dari Nabi saw dengan tidak difardukan dan tidak diwajibkan dinamakan sunnah. Imbangannya ialah wajib, haram, makruh dan mubah.
Lawannya ialah bid'ah; talak yang dijatuhkan dalam haid menurut mereka dinamakan: talak bid'ah. Ulama' Syafi'e mengatakan bahawa sunnah itu: ialah suatu yang dipahalai orang yang mengerjakannya, tidak disiksai orang yang meninggalkannya. Menurut ulama' mazhab Hanafi, sunnah itu: ialah suatu yang disunnahkan Nabi saw atau para khalifah serta dikekalkan mengerjakannya, seperti azan dan berjama'ah.
Anjung Siber
FREE PALESTINE

My Blog List