SELAMAT MAJU JAYA DAN SUKSES

Sunday, May 31, 2009

Biografi dan Ketokohan Imam Bukhari


Imam Bukhari lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju'fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Datuknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy. Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut). Ibunya senantiasa berusaha dan berdo'a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah, dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total.Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebahagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya. Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah. Sekalipun daerah tersebut telah jatuh di bawah kekuasaan Soviet (Rusia), namun menurut Alexandre Benningsen dan Chantal Lemercier Quelquejay dalam bukunya "Islam in the Sivyet Union" (New York, 1967), pemeluk Islamnya masih berjumlah 30 million. Jadi merupakan daerah yang pemeluk Islamnya yang ke lima besarnya di dunia setelah Indonesia, Pakistan, India dan Cina.

Imam Bukhari diakui memiliki daya hafalan tinggi, yang diakui oleh abangnya Rasyid bin Ismail. dikatakan pernah Imam Bukhari semasa muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia sering dicela membuang waktu karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab. Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat. Ketika sedang berada di Baghdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja "diputar-balikkan" untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu membetulkan kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar.

Dalam menghimpun hadits-hadits shahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan kaedah-kaedah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya. Imam Bukhari senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya, menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan bahan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: "Aku susun kitab Al Jami' ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun."Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, di antaranya adalah Syeikh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim). Imam Muslim menceritakan : "Ketika Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang ketua daerah, para ulama dan penduduk Naisabur yang memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya." Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya Az Zihli (guru Imam Bukhari) berkata : "Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya."

Para ulama hadits menyatakan, dalam menyusun kitab Al-Jami' as-Shahih, Imam Bukhari selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan paling tinggi dan tidak akan turun dari tingkat tersebut, kecuali terhadap beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab. Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu'allaq (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam memberi komentar kitab Shahih Bukhari semata-mata karena perbezaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.

Friday, May 29, 2009

Menyingkap penulisan tentang Ibn Taimiyyah

Nama lengkapnya Ahmad Taqiyuddin, Abu Abbas bin Syihabuddin Abdul Mahasin Abdul Halim bin Syeikh Majduddin Abil Barakat Abdussalam bin Abi Muhammad Abdillah bin Abi Qasim al-Khadar bin Muhammad bin al-Khadhar bin Ali bin Abdillah. Keluarga ini dinamai Keluarga Ibnu Taimiyah. Sepanjang sejarah bahawa asal perkataan Taimiyah adalah dari neneknya yang bernama Muhammad bin Ali Khadhar. Beliau ketika pergi naik haji ke Makkah melalui jalan Taima'. Setelah ia kembali dari haji ia dapati isterinya melahirkan seorang anak wanita, yang kemudian diberi nama Taimiyah dan keturunannya dinamai keturunan Ibnu Taimiyah, sebagai peringatan bagi jalan yang dilalui oleh neneknya pada ketika mengerjakan haji tersebut.
Ahmad Taqiyuddin yang kita perkatakan sekarang ini lahir di desa Heran sebuah desa kecil di Palestin pada tanggal 10 Rabiul Awal tahun 661 H. Daerah Heran ini terkenal sejak dulu sebagai daerah Kristian Shabin dan pula daerah orang pandai-pandai, ahli filsafat yang selalu mempermainkan akal. Ahmad Taqiyuddin tinggal di desa Heran sampai usia 7 tahun. Desa ini didiami bukan oleh suku Arab tetapi oleh suku Kurdil, maka kerana itu Ahmad Taqiyuddin bukanlah dari bangsa Arab tetapi dari kaum Kurdi. Ketika desanya akan diserang oleh kaum Tatari ia lari bersama-sama bapa dan keluarganya pergi ke Damsyik (Syiria). Dengan susah payah mereka sampai ke kota Damsyik bersama kitab-kitab yang dipunyai oleh keluarganya. Kerana bapanya adalah seorang ulama Islam dari Mazhab Hambali. Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah ini tetap tinggal di Damsyik sejak dari berusia 7 tahun sampai meninggal dunia tahun 724H dan hanya satu atau dua kali ke Mesir. Kalau dilihat tahunnya, iaitu tahun lahirnya 661 H sampai wafatnya tahun 724H. maka beliau ini hidup sezaman dengan Imam Nawawi, seorang ulama fikah terbesar dalam Mazhab Syafi'i, Imam Nawawi lahir disebuah desa namanya Nawa,dekat Damsyik pada tahun 630H. hanya 31 tahun lebih tua dari Ibnu Taimiyah. Ibnu Hajar al Haitami seorang ulama besar dalam Mazhab Syafi'i yang terkemudian dari Ibnu Taimiyah, kerana Ibnu Hajar lahir di Mesir pada tahun 883H.iaitu 22 tahun terkemudian dari Ibnu Taimiyah. Kerana itu tidak hairan, kalau Ibnu Hajar al Haitami banyak mengarang kitab-kitab untuk membetulkan kesalahan-kesalahan Ibnu Taimiyah, seperti kitab Assawa'iqul Muhriqah Firraddi alaz Zindiqah (Petir yang membakar untuk menolak kaum Zendiq).Ibnu Hajar al Haitami-sebagai dikatakan di atas, adalah seorang ulama besar dalam Mazhab Syafi'i, pengarang kitab "Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj",sebuah kitab fikah besar, 10 jilid yang terkenal di Indonesia.
Ibnu Taimiyah dalam sejarahnya kemudian menjadi orang yang alim besar, banyak pengetahuannya dalam fikah Madzhab Hanbali dan juga dalam ilmu Usuluddin. Beliau biasa mengajar dan bertabligh di Masjid Bani Umayyah di Damsyik dan mempunyai ramai murid. Akan tetapi sangat disayangkan,bahawa beliau terpengaruh dengan fahaman kaum Musyabbihah dan Mujassimah, yang merupakan Tuhan dengan makhhluk dan juga banyak mengeluarkan fatwa-fatwa dalam fikah yang jauh berbeza dengan fatwa-fatwa dalam Mazhab Hanbali sendiri dan juga dari Mazhab Hanafi, Maliki dan Syafi'i.
Dalam buku-buku karangannya seperti dalam "AI-Munazharah fil Aqidah Al-Wasithiyah" dan "Al-Aqidah al-Hamiwiyah al-Kubra" ia menerangkan bahawa dasar mazhabnya ialah menjelaskan ayat-ayat dan hadis-hadis nabi yang bertalian dengan sifat Tuhan yang menurut erti lafaznya yang lahir, yakni secara harfiyah sahaja. Bagi Ibnu Taimiyah, Tuhan mempunyai muka, tangan, mata, rusuk„ duduk bersila, datang dan pergi dan cahaya langit dan bumi, kerana hal itu semuanya tersebut dalam al-Quran, katanya. Tuhan berada di atas langit, boleh ditunjuk dengan anak jari ke atas, Tuhan mempunyai anak jari, mempunyai tumit kaki, mempunyai tangan kanan,mempunyai nafas, turun naik dan Tuhan itu "masa", kerana semuanya itu tersebut dalam hadis yang sahih-sahih, kata Ibnu Taimiyah. Jadi fahaman beliau sebenarnya harus dimasukkan dalam bab kaum Mujassimah atau Musyabbihah, kerana ada persamaannya dalam itikad. Tetapi dalam buku ini dibicarakan secara khusus dalam suatu fasal.
Dalam ucapan-ucapannya dan tulisan-tulisannya Ibnu Taimiyah ini banyak mengeluarkan perkataan-perkataan yang menentang Imam-imam Mujtahid yang berempat. Dikatakannya dengan sombong bahawa ia akan memperbaharui pengajian ulama-ulama yang dulu, akan mengembalikan mereka pada kitab Allah dan sunah Rasul, yang seolah-olah mengatakan bahawa ulama-ulama mazhab yang empat itu tidak berpegang kepada kitab Allah dan sunah Rasul.Dikatakannya pula, bahawa ia akan memerangi khurafat dan bid'ah yang dikerjakan oleh ulama-ulama dan kaum muslimin yang dulu-dulu, yang seolah-olah ia mengatakan bahawa ia sahajalah yang berpegang kepada Kitabullah dan sunah Rasul, sedang ulama-ulama yang terdahulu daripadanya dianggapnya penganut khurafat dan bid'ah. Beliau memaklumkan perlawanan kepada orang-orang Islam yang menganut dan bertaklid dalam furuk syari'at kepada mazhab yang empat dan ia menganjurkan agar setiap orang berjihad sendiri, yang seolah-olah ia lupa bahawa neneknya, bapanya dan ia sendiri adalah pada mulanya penganut Mazhab Hanbali. Memang sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang yang sesat mengatakan bahawa ia akan memerangi bid'ah dan khurafat, bahawa ia akan mengembalikan orang kepada Kitabillah dan sunnah Rasul, bahawa ia akan mengadakan pembersihan dan lain-lain pembohongan. Itulah simbol mereka dari dulu sampai sekarang. Pada hal kalau dilihat kenyataannya, mereka sendirilah yang mengerjakan bid'ah-bid'ah, mereka sendirilah yang mengajak orang taklid, sekurang-kurangnya kepada gurunya atau kepadanya sendiri. la melarang orang bertaklid kepada imam yang berempat yang telah diterima dunia Islam, tetapi ia sendiri menarik orang supaya bertaklid kepadanya.
Begitu juga dengan keadaan Ibnu Taimiyah al-Heran ini. Misalnya, pada suatu kali ia berkhutbah di Masjid Damsyik , Ia menerangkan sebuah hadis bahawaTuhan turun ke langit dunia tiap-tiap malam,Jangan ragu-ragu katanya, Tuhan turun serupa saja turun dari mimbar ini lalu ia turun ke bawah.
Pada tahun 705H, yakni ketika ibnu Taimiyah berusia 44 tahun, ia dipanggil oleh Sultan yang berkuasa di Mesir ketika itu untuk datang ke Mesir. Syria (Damsyik) ketika itu di bawah pemerintahan Mesir. Setibanya di Mesir ia dimajukan ke muka mahkamah dengan tuduhan bahawa ia memfatwakan di hadapan orang ramai pengajian yang sesat, iaitu Allah benar-benar duduk bersila di atas `Arasy, bahawasanya Tuhan berbicara dengan huruf dan suara, serupa pembicaraan dalam sifat manusia. Sebagai jaksa penuntut bertindak Syeikh Zainuddin bin Makhluf, seorang ahli hukum dalam mazhab Hanbali.Tetapi Ibnu Taimiyah ketika itu tidak mahu diadili, kerana yang bertindak sebagai hakim adalah musuh-musuhnya, katanya.Akhirnya ia ditahan saja dan dimasukkan ke dalam penjara selama 18 bulan bersama dua orang saudaranya yang datang ke Mesir ketika itu iaitu Syarafuddin dan Zainuddin.

Sesudah ia keluar dari tahanan dengan bantuan keluarganya ia melanjutkan fatwa-fatwanya di Mesir, iaitu memfatwakan bahawaTuhan duduk di atas'Arasy, bahawa Tuhan bertempat, bahawa Tuhan turun ke langit dunia dan lain-lain fatwa yang tidak sesuai dengan fahaman yang umum dalam Islam, iaitu fahaman Ahlussunnah wal Jama'ah.
Tidak lama sesudah itu Ibnu Taimiyah menghentam pengajian-pengajian tasauf dan mencaci maki guru-guru sufi, yang waktu itu di Mesir sedang banyak. Kemudian ia dimajukan lagi ke mahkamah dengan tuduhan menghina pelajaran tasauf dan ia ditahan dalam sebuah tempat tahanan kelas satu yang diberi pelayan untuk melayaninya. Tidak lama kemudian ia dikeluarkan lagi dari penjara.Jadi Ibnu Taimiyah bukan saja memfatwakan bahawa Tuhan duduk bersila di atas 'arasy tetapi juga menghentam pengajian-pengajian tasauf, tidak menyukai tarikat-tarikat, yang di Mesir ketika itu dan sampai kini sedang berkembang.
Pada tahun 709 H ia dibuang lagi ke Iskandariah oleh Sultan Muzaffar Klaun dan tinggal di situ selama 7 bulan. Sebabnya tidak lain ialah kerana mengeluarkan fatwa yang ganjil-ganjil dalam agama dengan semboyan "kembali kepada Allah dan Rasul". la menganggap bahawa ulama-ulama Islam yang berkumpul dalam 4 mazhab, begitu juga ulama-ulama Usuluddin Ahlussunnah wal Jama'ah semuanya dianggapnya tukang bid'ah.Yang tidak kurang bid'ah hanyalah ia seorang.
Pada tahun 712H ia kembali ke Damsyik. Di Damsyik pada ketika itu ia mengeluarkan bukan saja fatwa-fatwa dalam Usuluddin tetapi juga dalam hukum-hukum fikah yang berlainan dan bahkan yang bertentangan dengan mazhab yang empat, sehingga boleh dikatakan ia sudah keluar dari lingkungan mazhab yang 4 itu, khususnya telah keluar dari Mazhab Hanbali yang ia anutinya sebelumnya.
Pada tahun 718H keluar lagi perintah dari Sultan yang berkuasa di Damsyik ketika itu untuk melarang Ibnu Taimiyah berfatwa, kerana ia mengulangi lagi fatwa-fatwanya yang ganjil-ganjil yang berlainan dari fatwa ulama-ulama Islam yang banyak pada waktu itu.Tatapi perintah ini dilanggarnya. Dalam pengadilan agama yang terdiri dari ulama-ulama ahli hukum yangbersidang tanggal 22 Rejab tahun 720H ia dimasukkan lagi ke dalam tahanan sampai tahun 721 H.
Tahun 721 H ia dikeluarkan lagi dari tahanan. Akhirnya riwayat Ibnu Taimiyah sangat menyedihkan. Beliau meninggal dalam penjara benteng Damsyik pada tanggal 27 Syawal tahun 728 Hijrah, sesudah mengalami penahanan beberapa tahun. Ibnu Batuta, seorang pengembara dari Tangger, AI-Jazair pada akhir abad ke VII dan permulaan abad ke VIII H. menerangkan dalam bukunya yang bernama "Rahlah Ibnu Batuta"., pada jilid I, halaman 57 begini.Adalah di kota Damsyik, Syria seorang ahli fikah yang besar dalam mazhab Hanbali namanya Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. la banyak membicarakan soal-soal ilmu pengetahuan, tetapi sayang sekali otaknya sedikit goncang".
Penduduk kota Damsyik sangat menghormati orang itu. Pada suatu ia mengajar di atas mimbar masjid Damsyik. Ia mengeluarkan beberapa ucapan atau fatwa yang berlainan dari fatwa ahli-ahli fikah yang lain, sehinggga akhirnya diadukan orang kepada Raja Naser di Kaherah. Ia dibawa ke Kaherah dan kepadanya dihadapkan beberapa tuduhan dihadapan pengadilan yang memeriksa perkaranya. Ibnu Taimiyah tidak memberi jawapan apa yang ditanyakan oleh para hakim tetapi sekalian pertanyaan dijawabnya dengan La Illaha Illallah. Akhirnya ia dimasukkan ke dalam penjara dan ditahan beberapa tahun.
Di dalam penjara ia mengarang sebuah kitab tafsir yang diberinya nama "Al-Bahrul Muhith". Kemudian ibunya memajukan permohonan kepada Raja Naser untuk membebaskan anaknya. Raja Nasar memperkenankan permohonan ibu ini. Tetapi kata Ibnu Batuta kemudian terjadi lagi hal yang serupa:"Saya ketika itu sedang berada di Damsyik. Saya hadir di masjid mendengar dia memberi pelajaran di hadapan umum di mimbar masjid Jami'. Banyak pelajaran diucapkan. Di antara perkataannya: 'Allah turun ke langit dunia serupa turunnya dengan turun saya ini", lalu ia turun satu tingkat dijinjang mimbar. Pada ketika itu seorang ulama ahli fiqh mazhab Maliki bernama Ibnus Zahra' membantah dia dan melawan ucapan-ucapan Ibnu Taimiyah (lihat Rahlah Ibnu Batuta, juzuk I halaman 57, buku cetakan Azhariyah, Kaherah 1928H).
Ibnu Batuta melanjutkan laporannya: Murid-murid Ibnu Taimiyah marah kepada Ibnu Zahra', lalu mereka berpukulan.Raja ini seorang yang baik, beliau memerintahkan pada Raja Mesir namanya Naser supaya Ibnu Taimiyah dibawa pengadilan tinggi, kerana fatwanya dalam agama banyak yang salah-salah.
Di antaranya fatwa yang salah itu, kata Ibnu Batuta ialah bahawa talak tiga yang dijatuhkan sekaligus dianggap jatuh satu, berpergian ziarah ke makam Nabi Muhammad s.a.w. di Madinah dianggap maksiat dan lain-lain.Sesudah diadakan persidangan maka diambillah keputusan bahawa Ibnu Taimiyah ditetapkan telah melakukan kesalahan-kesalahan kerana banyak fatwanya dalam fikah dan dalam usuluddin yang menyeleweng, tidak sesuai dengan ajaran-ajaran yang diajarkan oleh nabi dan sahabat-sahabat nabi dan tidak sesuai pula denganajaran-ajaran agama yang biasa diajarkan oleh ulama­ ulama Islam. Kerana itu ia dihukum penjara di Benteng Damsyik. la ditahan dan mati dalam penjara Benteng Damsyik pada tanggal 27 Syawal tahun 728H.
Demikian keterangan Ibnu Batuta dalam buku "Rahlahnya". Teranglah bahawa IbnuTaimiyah ini boleh dikatakan seorang ulama besar, tetapi otaknya sedikit kacau, sekali ia katakan dan ia fatwakan dengan lancang, bahawa Tuhan duduk serupa saya duduk ini, dan tuhan turun serupa turun saya ini, dan di waktu yang lain ia fatwakan bahawa walaupun Tuhan bertangan dan bermuka, tetapi mukanya tidak serupa dengan muka kita, Tuhan Allah tak serupa dengan makhluk, katanya.
Tersebut dalam kitab "Daf'us Syubah man Tasyabbah wa Tamarrad" (penolak subhat yang membikin subhat dan penyelewengan), karangan Mufti dan Syaikhul Islam Taqiyuddin al Husaini ad Dimsyagi (meninggal di Damsyik tahun 829H), pada halaman 41 begini:"Mengkhabarkan Abu Hasan 'Ali ad Dimsyagi, ia terima dari bapanya bahawa bapanya menghadiri majlis ibnu Taimiyah di Masjid Damsyik".Ibnu Taimiyah memberi pelajaran di hadapan umum. Ketika ia sampai kepada pengajian ayat 'Tuhan istawa di atas Arasy" maka ia (Ibnu Taimiyah) mengatakan bahawa Tuhan duduk bersila serupa sila saya ini.Pada ketika itu pendengar jadi marah sehingga ia dilempar dengan sepatu dan sandal, diturunkan dari kerusi duduknya, ditampar dan dipukul beramai-ramai. Perkara ini sampai kepada polis dan hakim yang kemudian mengadakan persidangan untuk mengadili Ibnu Taimiyah itu. Mendengar jawapan-jawapan Ibnu Taimiyah dalam pengadilan, hakim-hakim menjadi geli melihal kedangkalan ilmu Ibnu Taimiyah itu". Demikian tersebut dalam buku "Daf'us Syubah man tasyabbah wa tamarrad", karangan Taqiyuddin alHusaini orang Damsyik yang meninggal 9 tahun terkemudian dari lbnu Taimiyah. Khabar ini didengarnya dari bapanya yang menghadiri majlis Ibnu Taimiyah.
Teranglah dalam kedua keterangan itu, yakni keterangan-keterangan Ibnu Batuta dan Taqiyuddin alHusaini, bahawa Ibnu Taimiyah termasuk golongan orang yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk, golongan Musyabbihah kerana ia mengatakan bahawa Tuhan turun dari langit tiap-tiap malam seperti turunnya dari mimbar dan Tuhan duduk bersila di atas'Arasy seperti ia duduk di atas kerusi, walaupun ia banyak kali pula mengatakan bahawa Tuhan tidak serupa dengan makhluk. Tetapi, sejarah telah berjalan, walaupun fatwanya itu tersesat namun pengikutnya ada saja, sesuai dengan peribahasa Arab: "Likalli saqith laqith (tiap-tiap yang jatuh ada pemungutnya). Di antara penganut dan penerus fahaman Ibnu Taimiyah adalah murid Ibnu Hadi dan Ibnul Qayim al-Jauzi, pengarang kitab "Zadul Ma'ad" serta Muhamad bin Abdul Wahab, pembangun fahaman Wahabi.
Tulisan : Kiyai Haji Sirajudin Abbas
penulisan di atas hanya sebagai pembuka minda dan tidak mewakili pemikiran blogger

Friday, May 22, 2009

Ajaibnya Kejadian manusia




Dalam surah Yaasin, juz keduapuluh tiga ayat 77, Allah Ta'ala berfirman:
Yang bermaksud: Tidakkah manusia itu melihat dan mengetahui, bahawa Kami telah menciptakan dia dari (setitis) air benih? Dalam pada itu (setelah Kami sempurnakan kejadiannya dan tenaga kekuatannya) maka dengan tidak semena-mena menjadilah ia seorang pembantah yang terang jelas bantahannya (mengenai kekuasaan Kami menghidupkan semula orang-orang yang mati),








Ayat tersebut disokong dalam surah Al-Hajj ayat 5, Allah Ta'ala berfirman. Yang bermaksud: Wahai umat manusia, sekiranya kamu menaruh syak (ragu-ragu) tentang kebangkitan makhluk (hidup semula pada hari kiamat), maka (perhatilah kepada tingkatan kejadian manusia) kerana sebenarnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setitik air benih, kemudian dari sebuku darah beku, kemudian dari seketul daging yang disempurnakan kejadiannya dan yang tidak disempurnakan; (Kami jadikan secara yang demikian) kerana Kami hendak menerangkan kepada kamu (kekuasaan Kami); dan Kami pula menetapkan dalam kandungan rahim (ibu yang mengandung itu) apa yang Kami rancangkan hingga ke suatu masa yang ditentukan lahirnya; kemudian Kami mengeluarkan kamu berupa kanak-kanak; kemudian (kamu dipelihara) hingga sampai ke peringkat umur dewasa; dan (dalam pada itu) ada di antara kamu yang dimatikan (semasa kecil atau semasa dewasa) dan ada pula yang dilanjutkan umurnya ke peringkat tua nyanyuk sehingga ia tidak mengetahui lagi akan sesuatu yang telah diketahuinya dahulu. Dan (ingatlah satu bukti lagi); Engkau melihat bumi itu kering, kemudian apabila Kami menurunkan hujan menimpanya, bergeraklah tanahnya (dengan tumbuh-tumbuhan yang merecup tumbuh), dan gembur membusutlah ia, serta ia pula menumbuhkan berjenis-jenis tanaman yang indah permai.














Ayat di atas juga disokong pada Hadis Rasulullah s.a.w. Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a katanya: Secara marfuk Baginda s.a.w bersabda: Allah s.w.t mengutuskan Malaikat ke dalam rahim. Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Ia masih berupa air mani. Setelah beberapa ketika Malaikat berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah berupa darah beku. Begitu juga setelah berlalu empat puluh hari Malaikat berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah berupa seketul daging. Apabila Allah s.w.t membuat keputusan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Orang ini akan diciptakan lelaki atau perempuan? Celaka atau bahagia? Bagaimana rezekinya? Serta bagaimana pula ajalnya? Segala-galanya dicatit semasa dalam perut ibunya lagi Dengan ayat-ayat dan hadis diatas yakinlah Allah itu Maha Pencipta













Menurut Profesor Moore untuk mengkaji ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis Nabi, beliau berasa takjub. Beliau berasa pelik bagaimana Nabi Muhammad , pada empatbelas kurun yang lalu, mampu menerangkan mengenai embrio dan tahap-tahap perkembangannya dengan terperinci dan tepat sekali sedangkan ianya hanya ditemui oleh ahli sains sejak tiga puluh tahun lalu sahaja. Ketakjuban beliau bertukar menjadi penghormatan terhadap ayat-ayat tersebut. Beliau memberikan pandangan ini kepada rakan-rakan intelek dan kelompok saintifiknya. Malahan beliau memberikan syarahan di atas topik keserasian di antara kajian embrio moden dengan Al-Quran dan Sunnah dimana beliau berkata:











"Saya berbesar hati untuk membantu menerangkan kenyataan-kenyataan dari Al-Quran mengenai kejadian manusia. Jelas bagi saya bahawa kenyataan-kenyataan ini diberikan kepada Muhammad dari Allah , atau Tuhan, oleh kerana kesemua ilmu-ilmu ini tidak ditemui sehingga beberapa kurun selepas beliau. Ini membuktikan kepada saya Muhammad ialah seorang Rasul Allah . "

Lazimnya, sesudah memikirkan segala kejadian alam semesta dan keagungan Allah yang menciptakannya, akhirnya kita akan kembali memikirkan kejadian diri kita sendiri. Kita tercipta daripada ibu bapa kita dan sekiranya ibu bapa tiada atau salah seorangnya tiada, tentu sahaja kita tidak mungkin dilahirkan ke dunia ini.















Cuba kita renung dan fikirkan, bagaimana kiranya kita tidak ada, tidak pernah ada, tidak tertulis di Loh Mahfuz atau tidak pernah dilahirkan ke dunia. Jika tidak mencipta kita sudah pasti kita tidak ada. Jika kita tidak ada, sudah tentu kita tidak mengetahui adanya alam semesta yang luas ini. Tentu kita tidak kenal matahari dan bulan, tidak kenal manisnya gula, lazatnya makanan dan hidangan. Kita juga tentunya tidak dapat merasakan indahnya rasa kasih sayang, cinta dan tentunya saat-saat bahagia tidak mungkin kita rasai.













Syukur, alhamdulillah, kini kita telah ada dan wujud. Kita sudah dapat menyaksikan keindahan alam maya, dapat melihat pelbagai warna dan pemandangan, melihat sang suria, bulan dan bintang-bintang yang menghiasai segala ruang angkasa. Kita sudah dapat menikmati pelbagai makanan dan hidangan yang lazat dan enak. Kita juga telah dapat merasai betapa indahnya belaian kasih sayang, cinta dan saat-saat kebahagiaan. Seterusnya kita dapat mengenali siapa pencipta kepada semuanya ini termasuk alam yang maha luas ini. Lalu kita dapat menikmati kasih dan sayang-Nya serta bernaung di bawah lindungan dan rahmat-Nya. Inilah sebenarnya nikmat terbesar yang telah Allah kurniakan kepada kita. Kita seharusnya menggandakan rasa kesyukuran dan berterima kasih kepada Allah kerana bukan sahaja telah menjadikan kita, bahkan telah memilih kita menjadi umat-nya yang beriman dan diberikan petunjuk dan hidayah-Nya. Sehingga kita dapat mengenali Pencipta kepada alam semesta ini yang begitu indah dan teliti. Dan akhirnya kita percaya yang kita akan menghadapnya jua di hari kemudian nanti. Nah kita tahu dari mana kita datang dan ke mana kita akan kembali.







Adaptasi dan rujukan artikel asal persatuan alumni UTM

Sunday, May 17, 2009

Tafsiran surah alHasyr ayat 21-24; Keagungan Allah




Ayat ini memberi mesej yang jelas sebagaimana dibentangkan dalam Al-Quran tentang kekuasaan dan keagungan Allah. Sehingga digambarkan bahawa gunung ganang sekalipun tidak sanggup menahannya sehingga pecah berderai tatkala Al-Quran diturunkan ke atasnya.

Pada suatu ketika hati manusia akan menggeletar tatkala dibacakan ayat-ayat Allah. Inilah jua yang dikisahkan terhadap peristiwa Umar Al Khattab apabila sampai kepadanya hidayah Allah bila mendengar keunikan kalam Allah, maka hatinya mengeletar ketakutan kerana takutkan ancaman Allah.

Detik detik inilah jua yang kita harapkan dalam kehidupan kita untuk mencapai kebahgiaan dan keselamatan di dunia kerana yakin adanya kehidupan akhirat selepas datangnya kematian. Detik-detik ini akan dapat dicapai dengan darjat ketaqwaan yang tinggi terhadap keagungan Allah. Hanya hati yang sedar dan insaf dapat menyelami apa yang disampaikan dalam Al-Quran. Perumpamaan dan kisah gunung ini adalah menuntut manusia untuk berfikir tentang keagungan Allah seterusnya mengimani segala perintah dan menjauhi larangannya.

Pada akhir surah ini pula disebutkan Nama-nama Allah dengan Sifat-sifat yang paling indah. Ianya sebagai satu peringatan agar manusia sentiasa mengingati Allah pemilik Alam semesta. Untuk apa dibentangkan nama-nama Allah ini? Kita diajarkan supaya sentiasa menyebut dan mengingati Allah di mana jua kita berada supaya kita tidak lupa diri hidup di atas dunia milik Allah ini. Nama-nama Allah yang dinyatakan adalah mewakili sifat-sifatNya yang menjadikanNya Tuhan yang selayakNya disembah kerana Dia adalah Pencipta dan kita adalah HambaNya.
dari sumber Tafsir Fi Zilal al-Quran

Thursday, May 14, 2009

Berburu ke padang Datar Dapat Rusa Belang Kaki, Berguru Kepalang Ajar Bagai Bunga Kembang Tak Jadi


Buat Insan bernama guru, cikgu, ustaz, ustazah, tuan guru dan yang sama golongan dengannya,
yang pernah mencurah ilmu walau sepatah ayat .....
jasamu dikenang sepanjang hayat...
waimma ke akhirat..
Terima kasih cikgu!!!!
Terima kasih guru!!!!
Terima kasih tuan guru !!!!
Terima kasih ustaz !!!!
Terima kasih ustazah !!!!
Terima kasih muallim !!!!
Terima kasih muaddib !!!!
Terima kasih murabbi !!!!
Engkaulah penyambung warisan
Gudang segala ilmu.....
Berbanggalah kerna kalian adalah guru
Jangan kau persiakan
pada mereka
yang menagih ilmumu..
menaruh harap pada budimu...
Selamat Hari Guru
16 Mei 2009..

Friday, May 08, 2009

Selamat Hari Ibu


Orang kata aku lahir dari perut mak.. (bukan org kata...memang betul)

Bila dahaga, yang susukan aku....mak

Bila lapar, yang suapkan aku....mak

Bila keseorangan, yang sentiasa di sampingku.. .. mak

Kata mak, perkataan pertama yang aku sebut....Mak

Bila bangun tidur, aku cari....mak

Bila nangis, orang pertama yang datang ....mak

Bila nak bermanja, aku dekati....mak

Bila nak bergesel, aku duduk sebelah.... mak

Bila sedih, yang boleh memujukku hanya....mak

Bila nakal, yang memarahi aku....mak

Bila merajuk, yang memujukku cuma.... mak

Bila melakukan kesalahan, yang paling cepat marah.... mak

Bila takut, yang tenangkan aku....mak

Bila nak peluk, yang aku suka peluk....mak

Aku selalu teringatkan ....mak

Bila sedih, aku mesti talipon.....mak

Bila seronok, orang pertama aku nak beritahu.....mak

Bila bengang.. aku suka luah pada..mak

Bila takut, aku selalu panggil... "mmaaakkkk! "

Bila sakit, orang paling risau adalah....mak

Bila nak exam, orang paling sibuk juga....mak

Bila buat hal, yang marah aku dulu.... mak

Bila ada masalah, yang paling risau.... mak

Yang masih peluk dan cium aku sampai hari ni.. mak

Yang selalu masak makanan kegemaranku....mak

kalau balik ke kampung, yang selalu bekalkan ulam & lauk pauk.....mak

Yang selalu simpan dan kemaskan barang-barang aku.... mak

Yang selalu berleter kat aku...mak

Yang selalu puji aku.... mak

Yang selalu nasihat aku....mak

Bila nak kahwin..Orang pertama aku tunjuk dan rujuk.....mak

Aku ada pasangan hidup sendiri....

Bila seronok, aku cari....pasanganku

Bila sedih, aku cari....mak

Bila berjaya, aku ceritakan pada....pasanganku

Bila gagal, aku ceritakan pada.... mak

Bila bahagia, aku peluk erat....pasanganku

Bila berduka, aku peluk erat....emakku

Bila nak bercuti, aku bawa....pasanganku

Bila sibuk, aku hantar anak ke rumah.... mak

Bila sambut valentine.. Aku bagi hadiah pada pasanganku

Bila sambut hari ibu...aku cuma dapat ucapkan “Selamat Hari Ibu”

Selalu.. aku ingat pasanganku Selalu.. mak ingat kat aku

Bila-bila... aku akan talipon pasanganku

Entah bila... aku nak talipon mak

Selalu...aku belikan hadiah untuk pasanganku

Entah bila... aku nak belikan hadiah untuk emak


Renungkan: "Kalau kau sudah habis belajar dan berkerja... bolehkah kau kirim wang untuk mak? mak bukan nak banyak... lima puluh ringgit sebulan pun cukuplah".

Berderai air mata jika kita mendengarnya........

Tapi kalau mak sudah tiada..........
MAKKKKK...RINDU MAK.... RINDU SANGAT....
Berapa ramai yang sanggup menyuapkan ibunya....
berapa ramai yang sanggup mencuci muntah ibunya.....
berapa ramai yang sanggup mengantikan lampin ibunya.....
berapa ramai yang sanggup membersihkan najis ibunya.......
berapa ramai yang sanggup membuang ulat dan membersihkan luka kudis ibunya....
berapa ramai yang sanggup berhenti kerja untuk menjaga ibunya.....
dan akhir sekali berapa ramai yang sembahyang JENAZAH ibunya......

Seorang anak mendapatkan ibunya yang sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur lalu menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. Si ibu segera mengesatkan tangan di apron menyambut kertas yang dihulurkan oleh si anak lalu membacanya.
Kos upah membantu ibu:
1) Tolong pergi kedai : RM4.00

2) Tolong jaga adik : RM4..00

3) Tolong buang sampah : RM1.00

4) Tolong kemas bilik : RM2.00

5) Tolong siram bunga : RM3.00

6) Tolong sapu sampah : RM3.00

Jumlah : RM17.00

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak sambil sesuatu berlegar-legar si mindanya. Si ibu mencapai sebatang pen dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama.


1) Kos mengandungkanmu selama 9 bulan - PERCUMA

2) Kos berjaga malam kerana menjagamu - PERCUMA

3) Kos air mata yang menitis keranamu - PERCUMA

4) Kos kerunsingan kerana bimbangkanmu - PERCUMA

5) Kos menyediakan makan minum, pakaian, dan keperluanmu -PERCUMA

Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - PERCUMA


Air mata si anak berlinang setelah membaca apa yang dituliskan oleh siibu. Si anak menatap wajah ibu,memeluknya dan berkata,
"Saya Sayangkan Ibu".
Kemudian si anak mengambil pen dan menulis "Telah Dibayar" pada mukasurat yang sama ditulisnya.

sekadar renungan dr en azhar ahmad

Friday, May 01, 2009

Pekerjaan yang paling baik


Bekerja dalam Islam bukan sekadar memenuhi keperluan untuk belanja mengisi perut bahkan bertujuan memelihara harga diri dan martabat kemanusiaan yang seharusnya dipertahankan. Islam menghargai orang yang bekerja dengan tangannya sendiri.



Rasulullah SAW pernah ditanya: "Pekerjaan apakah yang paling baik? Beliau menjawab: Pekerjaan terbaik adalah usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan semua jual beli yang dianggap baik." (Hadis riwayat Ahmad dan Baihaqi)



Seorang yang bekerja dan bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya akan bertambah martabat serta kemuliaannya. Sebaliknya, mereka yang berat tulang dan lebih selasa menganggur, memberi imej buruk dan negatif pada pandangan serta penglihatan orang lain.



Diceritakan pada suatu hari Saidina Umar Al-Khattab melihat Zaid bin Maslamah sedang menanam tanaman di tanahnya, maka berkatalah Saidina Umar kepada Zaid: "Benar sekali perbuatanmu itu. Engkau tidak menggantungkan hidupmu kepada orang lain adalah cara terbaik untuk memelihara agamamu dan amat mulia untuk menjaga martabat dirimu."
Saidina Umar juga pernah memberitahu: "Sesungguhnya aku memandang seorang pemuda, maka aku kagum kepadanya. Lantas aku bertanya kepadanya apakah pekerjaan yang dilakukannya. Lalu dijawab tidak, maka jatuh nilai pemuda itu pada pandanganku."
Memang benar kehidupan sebagai buruh sangat berbeza dengan kehidupan eksekutif. Secara umumnya buruh dilihat memerah keringat sementara eksekutif bertungkus-lumus memerah dan mengeluarkan idea. Jika semuanya itu dilakukan dengan penuh tanggungjawab dan amanah nescaya ia akan menghasilkan produk yang sangat bermanfaat dari segi masa, kos dan tenaga sementara ruang lingkup kehidupan pula akan lebih sejahtera.



Di samping itu, kita hendaklah mengetahui setiap tugas atau kerja yang diberi Allah SAW kepada seseorang itu adalah menurut kemampuan mereka seperti firman Allah yang bermaksud: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang terdaya olehnya." (Surah al-Baqarah , ayat 286)



Ayat itu menegaskan tidak ada sebab bagi seseorang pekerja itu mengeluh dan mengatakan bahawa tugasnya terlalu berat dan sukar. Seseorang pekerja itu boleh menyelesaikan segala tugas jawatannya, melainkan pekerja itu sendiri tidak mahu menunaikan tanggungjawabnya. Bagi pekerja yang punya prestasi kerja tinggi, komited, menjaga akhlak, masa dan bermatlamat jelas untuk kepentingan keluarga, agama dan majikan, wajar dihargai serta disanjung tinggi. Islam memandang tinggi kepada golongan pekerja seperti ini.


Dalam Islam, pekerjaan halal yang dipilih akan meletakkan status pelakunya pada tahap yang tinggi sehingga pahala diperoleh seperti pahala orang yang berjihad di jalan Allah. Sabda Rasulullah SAW bermaksud: "Barang siapa bekerja untuk anak isterinya melalui jalan yang halal, maka bagi mereka pahala seperti orang yang berjihad di jalan Allah." (Hadis riwayat Bukhari)



Kita hendaklah insaf dan sedar bahawa setiap kegiatan dan pekerjaan di dunia ini akan dihitung di akhirat nanti. Firman Allah yang bermaksud: "Tiap-tiap diri bertanggungjawab terhadap apa yang sudah diperbuatnya." (Surah al-Muddaththir, ayat 38)



Kita tidak boleh mengambil peluang mencuri masa dengan membuat kerja peribadi dalam waktu kerja, kerana kita akan dihukum di akhirat kelak walaupun terlepas hukuman di dunia. Jangan mencuri tulang atau meninggalkan kerja hakiki kita lalu kita makan dari hasil mencuri tulang. Samalah keadaannya dengan mengambil hasil kerja yang tidak halal.


SELAMAT HARI PEKERJA 1 Mei 2009

My Blog List