SELAMAT MAJU JAYA DAN SUKSES

Wednesday, February 17, 2010

Menilai Kecintaan Rasulullah terhadap umatnya

“ Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang Rasul dari golongan kamu sendiri (iaitu Nabi Muhammad s.a.w), yang menjadi sangat berat kepadanya sebarang kesusahan yang ditanggung oleh kamu, yang sangat tamak (inginkan) kebaikan bagi kamu, (dan) ia pula menumpahkan perasaan belas serta kasih sayangnya kepada orang-orang yang beriman. Kemudian, jika mereka berpaling ingkar, maka katakanlah (Wahai Muhammad): "Cukuplah bagiku Allah (yang menolong dan memeliharaku), tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; kepadanya Aku berserah diri, dan Dia lah Yang mempunyai Arasy Yang besar."
( at-Taubah: 128-129 )

Pertama, Min Anfusikum, dari kalanganmu sendiri.
Nabi berasal dari sesama manusia seperti kamu. Nabi yang datang itu bukanlah Nabi yang datang sebagai makhluk ghaib, bukan pula Superman, tapi Nabi yang datang dari tengah-tengah manusia. Bahkan Nabi diperintahkan untuk berkata bahwa Nabi adalah manusia seperti kita semua, seperti dalam ayat “Qul innamâ anâ basyârum mitslukum…” (QS. Al-Kahfi 110) Nabi adalah manusia biasa. Kalau ia berjalan, ada bayang-bayang badannya. Kalau terkena panas matahari, berkeringat kulitnya. Kalau terkena anak panah, berdarah tubuhnya. Ia bukan manusia istimewa dari segi jasmaniahnya, ia pun merasakan lapar dan dahaga. Al-Qur’an menegaskan bahwa kehidupan Nabi itu sama seperti kehidupan manusia biasa. Nabi dapat merasakan kepedihan dan penderitaan seperti manusia biasa yang mendapatkan musibah.

Pada ayat Min Anfusikum, diterangkan bahwa kata Anfus bermaksud yang paling mulia. Jadi ayat ini bermaksud, “Sudah datang di antara kamu seorang Rasul yang paling mulia.” Artinya Rasulullah diakui kemuliaannya, bahkan sebelum Rasul membawa ajaran Islam. Dia adalah orang yang paling baik di tengah-tengah masyarakatnya dilihat dari segi akhlaknya. Sebagian orang ada yang menyebutkan bahwa Rasul berasal dari kabilah yang paling baik. Jadi sifat pertama nabi adalah paling mulia akhlaknya, sampai orang-orang di sekitarnya memberi gelar Al-Amîn, orang yang terpercaya.

Kedua, berat hatinya melihat penderitaan umat manusia.
Para ahli tafsir mengatakan yang dimaksud dengan berat hati Nabi ialah kalau manusia menemukan hal-hal yang tidak elok. Dalam riwayat yang lain, yang dimaksudkan dengan berat hati Rasul ialah jika orang Islam berbuat dosa kepada Allah. Dalam sebuah hadis, diriwayatkan bahwa sampai sekarang Rasulullah masih dapat melihat perbuatan-perbuatan kita dan Rasul akan menderita jika melihat kita berbuat dosa. Karena beliau sangat ingin supaya kita memperoleh petunjuk Allah. Bahkan Rasul sampai bersujud di hadapan Allah agar diizinkan untuk dapat memberi syafaat kepada umatnya.

Ketiga, Nabi sangat ingin agar kaum muslimin memperoleh kebaikan.
Ia ingin memberikan petunjuk kepada umatnya. Keinginan untuk memberikan petunjuk kepada kita begitu besar, sehingga Rasul bersedia memikul seluruh penderitaan dalam berdakwah.


Keempat, ia sangat penyantun dan penyayang kepada orang mukmin
Menurut ahli tafsir, belum pernah Allah menghimpunkan dua nama-Nya sekaligus pada nama seorang nabi, kecuali kepada Nabi Muhammad saw. Nama yang dimaksud ialah nama Raûfur Rahîm.
Raûfur Rahîm itu adalah nama Allah. Nama itu pun dinisbahkan Allah kepada Rasulullah. Menurut sebagian ulama, Raûfun artinya penyayang dan Rahîm artinya pengasih. Jika kedua kata itu digabungkan dalam satu tempat, maka artinya berbeda. Menurut sebagian ahli tafsir, nama itu berarti sifat Nabi yang penyayang tidak hanya kepada orang yang taat kepadanya, tapi juga penyayang kepada orang yang berbuat dosa. Nabi melihat amal kita setiap hari. Beliau berduka cita melihat amal-amal kita yang buruk.

Dalam riwayat yang lain, Rasul itu Raûfun Liman Râ’ah, Rahîmun Liman Lam Yarâh. Artinya, Rasul itu penyayang kepada orang yang pernah berjumpa dengannya dan juga penyayang kepada orang yang tidak pernah berjumpa dengannya. Suatu hari Rasul berkata, “Alangkah rindunya aku untuk berjumpa dengan ikhwânî.” Para sahabat bertanya, “Bukankah kami ini ikhwânuka.” “Tidak,” jawab Rasul, “kalian ini sahabat-sahabatku. Saudara-saudaraku adalah orang yang tidak pernah berjumpa denganku, tapi membenarkanku dan beriman kepadaku.” Rasul sangat sayang kepada orang yang tidak pernah berjumpa dengan Rasul tetapi beriman kepadanya.

Di dalam satu Tafsir diriwayatkan , “Berbahagialah orang yang beriman kepadaku, padahal tidak pernah berjumpa denganku.” Rasul menyebutnya sampai tiga kali. Rasul juga sayang bukan hanya kepada orang Islam saja, tetapi juga kepada orang kafir.
Diriwayatkan bahwa ketika Rasul berdakwah di Thaif, Rasul dilempar dengan batu sehingga tubuhnya berdarah. Kemudian Rasul berlindung di kebun Uthbah bin Rabi’ah. Rasul berdo’a dengan do’a yang sangat mengharukan. Rasul memanggil Allah dengan ucapan, “Wahai yang melindungi orang-orang yang tertindas, kepada siapa Engkau akan serahkan aku, kepada saudara jauh yang mengusir aku?” Kemudian datang malaikat Jibril seraya berkata: “Ya Muhammad, ini Tuhanmu menyampaikan salam kepadamu. Dan ini malaikat yang mengurus gunung-gunung, diperintah Allah untuk mematuhi seluruh perintahmu. Dan dia tidak akan melakukan apapun kecuali atas perintahmu.” Lalu malaikat dan gunung berkata kepada Nabi, “Allah memerintahkan aku untuk berkhidmat kepadamu. Jika engkau mau, biarlah aku jatuhkan gunung itu kepada mereka.” Namun Nabi berucap, “Hai malaikat dan gunung, aku datang kepada mereka karena aku berharap mudah-mudahan akan keluar dari keturunan mereka orang-orang yang mengucapkan kalimat Lâilâha illallâh.” Nabi tidak mahu menurunkan azab kepada mereka. Nabi berharap kalau pun mereka tidak beriman, keturunan mereka nanti akan beriman. Kemudian berkata para malaikat dan gunung, “Engkau seperti disebut oleh Tuhanmu, sangat penyantun dan penyayang.”

Kasih sayangnya tidak terbatas kepada umatnya. Perasaan cinta kita kepada Nabi tidak sebanding dengan besarnya kecintaan Nabi kepada kita semua. Kecintaan Nabi terhadap orang-orang yang menderita begitu besar. Menurut Siti Aisyah, Nabi tidak makan selama tiga hari berturut-turut dalam keadaan kenyang. Ketika Aisyah bertanya apa sebabnya, Nabi menjawab, “Selama masih ada ahli shufah —orang-orang miskin yang kelaparan di sekitar mesjid— saya tidak akan makan kenyang.” Dan itu tidak cukup hanya pada saat itu, Nabi juga memikirkan umatnya di kemudian hari. Beliau khawatir ada umatnya yang makan kenyang sementara tetangga di sekitarnya kelaparan.

Jesteru itu Nabi berpesan, “Tidak beriman kamu, jika kamu tidur dalam keadaan kenyang sementara tetanggamu kelaparan.” Nabi pun mengatakan, “Orang yang senang membantu melepaskan penderitaan orang lain, akan senantiasa mendapat bantuan Allah swt.” Empat sifat Rasulullah kepada umatnya, yang sangat luar biasa.

Marilah kita menanam rasa kecintaan Rasulullah yang agung kepada kita dan bandingkanlah apa yang dapat membuktikan kecintaan kita kepadanya. Sekarang kita bertanya, sejauh mana kita mengikuti sunnah Rasulullah saw? Dapatkah akhlak kita seperti akhlak Nabi sebagaimana yang disebut dalam surat Al-Taubah 128? Bagai-mana kita dapat ikut merasakan penderitaan orang-orang di sekitar kita? Bagaimana kita menjadi orang yang berusaha agar orang- orang lain itu hidup bahagia dan memperoleh petunjuk Allah? Bagaimana kita menumbuhkan sikap Raûfur Rahîm di dalam diri kita seperti Rasulullah saw contohkan kepada kita?

Marilah kita sebarkan kecintaan kepada Rasulullah saw di dalam diri kita, keluarga kita, dan pada masyarakat di sekitar kita. Sering diingat bahawa misi Rasulullah yang paling utama adalah misi akhlak yang mulia. Tidak ada ertinya menisbahkan diri kita kepada Rasulullah saw tanpa memelihara akhlak yang mulia. Hendaknya kita selalu mengucapkan shalawat kepada junjungan nabi s.a.w . Kita sewajarnya merasa untuk sama-sama saling membantu sesama manusia dalan perkara kebaikan, Peduli terhadap kesengsaraan orang lain baik dalam urusan dunia atau akhirat, Penyayang terhadap umat manusia, disamping menginginkan kebahagiaan orang lain.

Nabi (s.a.w) sendiri ada menyatakan betapa pentingnya kesabaran dan penyantun itu dipunyai oleh seseorang, kerana sifat-sifat tersebut sangat disukai oleh Allah dengan sabdanya:
لاَ حِلْمَ أَحَبُّ إلى اللهِ تَعَالَى مِنْ حِلْمِ إِمَامٍ وَرِفْقِهِ وَ لاَ جَهْلَ أَبْغَضُ
إلى اللهِ تَعَالَى مِنْ جَهْلِ إِمَامٍ وَخرقِهِ

"Tidak ada kesabaran yang lebih disukai oleh Allah dari kesabaran seorang imam (pemimpin) dan penyantunnya, dan tidak ada kejahilan yang lebih dibenci oleh Allah dari kejahilan seorang imam (pemimpin) dan kebebalannya."

Allah Taala menerangkan di dalamnya kelebihan dan kasih sayang Rasulullah Sollahu’alaihiwasallam kepada umatnya. Ayat terakhir ini menerangkan kaedah untuk berdepan manusia yang berpaling dari seruan Allah Taala. Sesungguhnya seluruh perjalanan alam ini adalah bawah jagaanNya, Dia berkuasa untuk melakukan apa sahaja kepada makhlukNya. Keuntungan kepada hambaNya yang melazimi ketaatan, kerugian untuk mereka yang memilih kemaksiatan.Wallahua'lam.

Thursday, February 04, 2010

Ulama mewarisi tugas Nabi

Di antara peranan Ulama ialah bertanggungjawab sebagai pemegang amanah warisan Rasulullah s.a.w. adalah untuk mengekalkan ketulenan ajaran-ajaran Islam dari sebarang bentuk penyelewengan.
Sabda Nabi s.a.w.: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidak mewarisi dinar dan tidak pula dirham, namun (mereka) mewariskan ilmu. Sehingga sesiapa yang telah mengambilnya (ilmu tersebut), berarti telah mengambil bahagian yang sempurna.” [Hadis riwayat Imam Abu Dawud di dalam Sunannya]
Istilah ‘ilmu’ pada hadis di atas menjurus kepada ilmu-ilmu dari al-Qur’an dan al-Sunnah atau dalam erti kata lain ilmu-ilmu berkaitan agama Islam. Muhammad bin Sirin r.h berkata: “Sesungguhnya ilmu ini ialah agama. Maka lihatlah daripada siapa kalian mengambil agama kalian.”
Sehubungan dengan itu sabda Nabi s.a.w.: “Ilmu ini akan dibawa oleh mereka yang adil dari setiap generasi” bermaksud pada setiap generasi umat Islam akan ada golongan yang adil (boleh dipercayai dalam ajaran agama) dan bersungguh-sungguh membawa ajaran-ajaran Islam sebagaimana yang diwarisi daripada Rasulullah s.a.w.. Golongan ulama yang adil ini akan berusaha untuk melindungi umat Islam dari segala penyelewengan dalam agama, amalan-amalan syirik, bid’ah, khurafat, tahyul dan maksiat. Mereka akan sentiasa bersedia membongkar segala penyimpangan atau anasir-anasir asing yang cuba untuk disebarkan kepada umat Islam. Adakalanya golongan ulama yang adil ini dilabel dengan pelbagai kata tohmahan dan cercaan disebabkan ketegasan mereka dalam menjaga ketulenan agama ini terutamanya ketika mereka mengkritik amalan-amalan yang bukan dari ajaran Rasulullah tetapi telah sebati dalam kehidupan sesebuah masyarakat. Mereka dituduh sebagai pemecah belah umat, penyebar fitnah, golongan jumud dalam pemikiran dan bermacam lagi kata-kata sindiran bertujuan untuk memburuk-burukkan mereka agar masyarakat jauh dari dakwah mereka. Namun mereka sentiasa bersabar dalam menghadapi segala rintangan yang perlu mereka lalui sebagai penyambung warisan Nabi s.a.w. dan segala cercaan tersebut tidak sedikitpun memudaratkan mereka.
Sabda Rasulullah s.a.w.: “Akan ada segolongan di kalangan umatku yang sentiasa berada di atas kebenaran. Tidak memudaratkan mereka bagi orang yang ingin menjatuhkan mereka sehingga tibanya urusan Allah (hari Kiamat).” [Hadis riwayat Imam al-Bukhari di dalam Sahihnya]
Rasulullah s.a.w. telah memperjelaskan ciri-ciri yang perlu ada bagi mereka yang ingin menyambung warisan ajaran baginda serta mempertahankan ketulenan ajaran Islam.
Pertama : Mereka menentang penyelewengan golongan yang melampaui batas.
Segala tahrif (penyelewengan) yang cuba dilakukan oleh kelompok yang melampaui batas dalam urusan agama akan diperangi. Golongan-golongan yang menyimpang dari ajaran Islam akan sentiasa berusaha untuk menyelewengkan ajaran-ajaran yang terkandung di dalam al-Qur’an dan agar menyokong doktrin sesat mereka. Contoh golongan yang melampau batas adalah Syiah Rafidhah yang berselindung disebalik slogan mencintai Ahlul Bait (keluarga Nabi s.a.w.) demi untuk meraih sokongan orang ramai bertujuan membawa agenda bangsa Parsi yang sebenarnya cemburu dengan kebangkitan umat Islam yang telah menghancurkan empayar kebanggaan mereka. Mereka telah menyelewengkan pelbagai konsep ajaran dalam Islam secara ekstrem dan memalsukan banyak riwayat-riwayat hadis demi untuk menegakkan ajaran sesat mereka. Di antara pegangan utama Syiah adalah pengkafiran para sahabat Nabi s.a.w.. Al-Kushshi yang merupakan tokoh ulama rijal syiah pada kurun ke 4 telah meriwayatkan daripada Abu Ja’far yang berkata: Semua manusia itu telah murtad setelah wafatnya Nabi kecuali 3 orang. Aku bertanya: Siapakah yang 3 orang itu? Maka jawabnya : Al-Miqdad ibn al-Aswad, Abu Dzarr al-Ghifari dan Salman al-Farisi. [Riwayat Al-Kushshi di dalam Rijal al-Kushshi]. Para sahabat merupakan golongan yang menerima al-Qur’an serta mendengar sabda-sabda baginda secara terus daripada baginda s.a.w. Mereka ini jugalah yang paling faham tentang kandungan risalah Nabi tersebut dan merupakan generasi terbaik bagi umat Islam. Dengan menyisihkan umat Islam daripada pegangan para sahabat, golongan Syiah sebenarnya ingin menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam yang sebenarnya. Adalah tugas para ulama untuk mendedahkan penyelewangan mereka ini dan memperjelaskan kedudukan sebenar sesuatu isu yang ditimbulkan oleh musuh-musuh Islam ini.
Kedua : Mereka menentang dakwaan dusta (intihal) golongan yang batil dan sesat.
Para ulama hendaklah sentiasa meneliti segala dakwaan-dakwan dusta golongan-golongan sesat yang tersebar di tengah-tengah masyarakat bertujuan untuk menjauhkan manusia dari ajaran Islam yang sebenarnya sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah s.a.w.. Sebagai contoh dakwaan dusta golongan Islam liberal yang menyatakan bahawa terdapat perkara-perkara yang termaktub dalam hukum syarak ini yang hanya sesuai untuk dilaksanakan pada zaman silam sahaja dan bukan untuk zaman moden ini. Ulama harus memperjelaskan hikmah di sebalik segala perlaksanaan hukum-hukum yang ditetapkan oleh syarak yang tidak pernah lapuk ditelan zaman. Masyarakat harus disedarkan bahawa segala hukum-hakam di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah itu wajib dilaksanakan sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) al-Kitab (al-Quran) dengan membawa kebenaran supaya engkau menghukum antara manusia menurut apa yang Allah telah tunjukkan kepadamu (melalui wahyu-Nya) dan janganlah engkau menjadi pembela bagi pengkhianat." [Surah al-Nisa’: 105]
Ketiga : Mereka menentang takwilan golongan jahil.
Golongan yang jahil sering melakukan takwilan atau tafsiran terhadap sesuatu ayat-ayat al-Qur’an mahupun hadis-hadis Nabi tanpa kaedah ilmu yang jelas lalu mereka memalingkannya dari tafsiran sebenar sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w. dan generasi salaf. Umpamanya, firman Allah S.W.T.: "Dan sembahlah Tuhanmu sehingga datang kepadamu al-Yakin." [Surah al-Hijr : 99] Menerusi ayat ini kelompok batiniyah meyakini bahawa apabila sesorang itu telah mencapai suatu makam (kedudukan) yang dipanggil al-Yakin, mereka telah terlepas dari bebanan (taklif) hukum. Bagi pengamal tarekat mereka yang diyakini telah mencapai makam ini maka mereka tidak perlu lagi melakukan ibadah seperti solat, puasa dan zakat serta dibenarkan melakukan maksiat. Sedangkan bagi kelompok ahli sunnah wal jamaah, mereka mentafsirkan al-Yakin dengan makna kematian. Oleh itu, firman Allah di atas sebenarnya bermaksud kita hendaklah tetap beribadah kepada Allah sehingga ajal menjemput kita.
Semoga kita terus bernaung pada ajaran yang sebenar dan meneruskan usaha-usaha mempertahankan agama Islam agar terus menjadi rahmat kepada seluruh alam ini.Wallahua'lam.
sumber yaakob.blogspot

My Blog List