SELAMAT MAJU JAYA DAN SUKSES

Friday, December 31, 2010

Peringatan tentang Alam kubur

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Albaraa' bin Aazib r.a. berkata: "Kami bersama Nabi Muhammad s.a.w keluar menghantar jenazah seorang sahabat Anshar, maka ketika sampai kekubur dan belum dimasukkan dalam lahad, Nabi Muhammad s.a.w duduk dan kami duduk disekitarnya diam menundukkan kepala bagaikan ada burung diatas kepala kami, sedang Nabi Muhammad s.a.w mengorek-ngorek dengan dahan yang ada ditangannya, kemudian ia mengangkat kepala sambil bersabda: "Berlindunglah kamu kepada Allah dari siksaan kubur.". Nabi Muhammad s.a.w mengulangi sebanyak 3 kali." Lalu Nabi Muhammad s.a.w bersabda:

"Sesungguhnya seorang mukmin jika akan meninggal dunia dan menghadapi akhirat (akan mati), turun padanya malaikat yang putih-putih wajahnya bagaikan matahari, membawa kafan dari syurga, maka duduk didepannya sejauh pandangan mata mengelilinginya, kemudian datang malaikulmaut dan duduk didekat kepalanya dan memanggil: "Wahai roh yang tenang baik, keluarlah menuju pengampunan Allah dan ridhaNya."

Nabi Muhammad s.a.w bersabda lagi: "Maka keluarlah rohnya mengalir bagaikan titisan dari mulut kendi tempat air, maka langsung diterima dan langsung dimasukkan dalam kafan dan dibawa keluar semerbak harum bagaikan kasturi yang terharum diatasbumi, lalu dibawa naik, maka tidak melalui rombongan malaikat melainkan ditanya: "Roh siapakah yang harum ini?" Dijawab: "Roh fulan bin fulan sehingga sampai kelangit, dan disana dibukakan pintu langit dan disambut oleh penduduknya dan pada tiap-tiap langit dihantar oleh Malaikat Muqarrbun, dibawa naik kelangit yang atas hingga sampai kelangit ketujuh, maka Allah berfirman: "Catatlah suratnya di illiyyin. Kemudian dikembalikan ia kebumi, sebab daripadanya Kami jadikan, dan didalamnya Aku kembalikan dan daripadanya pula akan Aku keluarkan pada saatnya." Maka kembalilah roh kejasad dalam kubur, kemudian datang kepadanya dua Malaikat untuk bertanya: "Siapa Tuhanmu?" Maka dijawab: Allah Tuhanku. Lalu ditanya: "Apakah agamamu?" Maka dijawab: "Agamaku Islam" Ditanya lagi: "Bagaimana pendapatmu terhadap orang yang diutuskan ditengah-tengah kamu?" Dijawab: "Dia utusan Allah". Lalu ditanya: "Bagaimanakah kamu mengetahui itu?" Maka dijawab: "Saya membaca kitab Allah lalu percaya dan membenarkannya" Maka terdengar suara: "Benar hambaku, maka berikan padanya hamparan dari syurga serta pakaian syurga dan bukakan untuknya pintu yang menuju kesyurga, supaya ia mendapat bau syurga dan hawa syurga, lalu luaskan kuburnya sepanjang pandangan mata." Kemudian datang kepadanya seorang yang bagus wajahnya dan harum baunya sambil berkata: "Terimalah khabar gembira, ini saat yang telah dijanjikan Allah kepadamu." Lalu bertanya: "Siapakah kau?" Jawabnya: "Saya amalmu yang baik." Lalu ia berkata: Ya Tuhan, segerakan hari kiamat supaya segera saya bertemu dengan keluargaku dan kawan-kawanku."

Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Adapun hamba yang kafir, jika akan meninggal dunia dan menghadapi akihirat, maka turun kepadanya Malaikat dari langit yang hitam mukanya dengan pakaian hitam, lalu duduk dimukanya sepanjang pandangan mata, kemudian datang Malaikulmaut dan duduk disamping kepalanya lalu berkata: "Hai roh yang jahat, keluarlah menuju murka Allah." Maka tersebar disemua anggota badannya, maka dicabut rohnya bagaikan mencabut besi dari bulu yang basah, maka terputus semua urat dan ototnya, lalu diterima akan dimasukkan dalam kain hitam, dan dibawa dengan bau yang sangat busuk bagaikan bangkai, dan dibawa naik, maka tidak melalui malaikat melainkan ditanya: "Roh siapakah yang jahat dan busuk itu?" Dijawab: "Roh fulan bin fulan." dengan sebutan yang amat jelek sehingga sampai dilangit dunia, maka minta dibuka, tetapi tidak dibuka untuknya. Kemudian Nabi Muhammad s.a.w membaca ayat: "Laa tufattahu lahum abwabus samaa'i, wala yad khuluunal jannata hatta yalijal jamalu fisamil khiyaath." (Yang Bermaksud) "Tidak dibukakan bagi mereka itu pintu-pintu langit dan tidak dapat masuk syurga sehingga unta dapat masuk dalam lubang jarum."

Kemudian diperintahkan: "Tulislah orang itu dalam sijjin." Kemudian dilemparkan rohnya itu bagitu sahaja sebagaimana ayat "Waman yusyrik billahi fakaan nama khorro minassama'i fatakh thofuhuth thairu au tahwi bihirrihu fimakaanin sahiiq." (Yang bermaksud) "Dan siapa mempersekutukan Allah, maka bagaikan jatuh dari langit lalu disambar helang atau dilemparkan oleh angin kedalam jurang yang curam."

Kemudian dikembalikan roh itu kedalam jasad didlam kubur, lalu didatangi oleh dua Malaikat yang mendudukkannya lalu bertanya: ""Siapa Tuhanmu?" Maka dijawab: "Saya tidak tahu". Lalu ditanya: "Apakah agamamu?" Maka dijawab: "Saya tidak tahu" Ditanya lagi: "Bagaimana pendapatmu terhadap orang yang diutuskan ditengah-tengah kamu?" Dijawab: "Saya tidak tahu". Lalu ditanya: "Bagaimanakah kamu mengetahui itu?" Maka dijawab: "Saya tidak tahu" Maka terdengar suara seruan dari langit: "Dusta hambaku, hamparkan untuknya dari neraka dan bukakan baginya pintu neraka, maka terasa olehnya panas hawa neraka, dan disempitkan kuburnya sehingga terhimpit dan rosak tulang-tulang rusuknya, kemudian datang kepadanya seorang yang buruk wajahnya dan busuk baunya sambil berkata: "Sambutlah hari yang sangat jelek bagimu, inilah saat yang telah diperingatkan oleh Allah kepadamu." Lalu ia bertanya: "Siapakah kau?" Jawabnya: "Aku amalmu yang jelek." Lalu ia berkata: "Ya tuhan, jangan percepatkan kiamat, ya Tuhan jangan percepatkan kiamat."

Abul-Laits dengan sanadnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Seorang mukmin jika sakaratulmaut didatangi oleh Malaikat dengan membawa sutera yang berisi masik (kasturi) dan tangkai-tangkai bunga, lalu dicabut rohnya bagaikan mengambil rambut didalam adunan sambil dipanggil: "Ya ayyatuhannafsul muth ma'innatur ji'i ila robbiki rodhiyatan mardhiyah." (Yang bermaksud) "Hai roh yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan perasaan rela dan diridhoi. Kembalilah dengan rahmat dan keridhoan Allah." Maka jika telah keluar rohnya langsung ditaruh diatas misik dan bunga-bunga itu lalu dilipat dengan sutera dan dibawa keilliyyin. Adapun orang kafir jika sakaratulmaut didatangi oelh Malaikat yang membawa kain bulu yang didalamnya ada api, maka dicabut rohnya dengan kekerasan sambil dikatakan kepadanya: "Hai roh yang jahat keluarlah menuju murka Tuhammu ketempat yang rendah hina dan siksaNya, maka bila telah keluar rohnya itu, diletakkan diatas api dan bersuara seperti sesuatu yang mendidih kemudian dilipat dan dibawa kesijjin."

Alfaqih Abu Ja'far meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Umar r.a. berkata: "Seorang mukmin jika diletakkan dikubur maka diperluaskan kuburnya itu hingga 70 hasta dan ditaburkan padanya bunga-bunga dan dihamparkan sutera, dan bila ia hafal sedikit dari al-quran sukup untuk penerangannya jika tidak maka Allah s.w.t. memberikan kepadanya nur cahaya penerangan yang menyerupai penerangan matahari, dan didalam kubur bagaikan pengantin baru, jika tidur maka tidak ada yang berani membangunkan kecuali kekasihnya sendiri, maka ia bangun dari tidur itu bagaikan masih kurang masa tidurnya dan belum puas. Adapun orang kafir maka akan dipersempit kuburnya sehingga menghancurkan tulang rusuknya dan masuk kedalam perutnya lalu dikirimkan kepadanya ular segemuk leher unta, maka makan dagingnya sehingga habis dan sisa tulang semata-mata, lalu dikirim kepadanya Malaikat yang akan menyiksa iaitu yang buta tuli dan bisu dengan membawa puntung dari besi yang langsung dipukulkannya, sedang Malaikat itu tidak mendengar suara jeritannya dan tidak melihat keadaannya supaya tidak dikasihaninya, selain itu lalu dihidangkan siksa neraka itu tiap pagi dan petang."

Abu-Laits berkata: "Siapa yang ingin selamat dari siksaan kubur maka harus menlazimi empat dan meninggalkan empat iaitu:

  • Menjaga sembahyang lima waktu

  • Banyak bersedekah

  • Banyak membaca al-quran

  • Memperbanyak bertasbih (membaca: Subhanallah walhamdulillah wal'aa ilaha illallah wallahu akbar, walahaula wala quwata illa billah)

Semua yang empat ini dapat menerangi kubur dan meluaskannya. Adapun empat yang harus ditinggalkan ialah:

  • Dusta

  • Kianat

  • Adu-adu

  • Menjaga kencing, sebab Nabi Muhammad s.a.w pernah bersabda: "Bersih-bersihlah kamu daripada kencing, sebab umumnya siksa kubur itu kerana kencing. (Yakni hendaklah dicuci kemaluan sebersih-bersihnya.)

Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Innallahha ta'ala kariha lakum arba'a: Al'abatsu fishsholaati, wallagh wu filqira'ati, warrafatsu fisshiyami, wadhdhahiku indal maqaabiri. (Yang bermaksud) Sesungguhnya Allah tidak suka padamu empat, main-main dalam sembahyang dan lahgu (tidak hirau), dalam bacaan quran dan berkata keji waktu puasa dan tertawa didalam kubur."

Muhammad bin Assammaak ketika melihat kubur berkata: "Kamu jangan tertipu kerana tenangnya dan diamnya kubur-kubur ini, maka alangkah banyaknya orang yang sudah bingung didalamnya, dan jangan tertipu kerana ratanya kubur ini, maka alangkah jauh berbeza antara yang satu pada yang lain didalamnya. Maka seharusnya orang yang berakal memperbanyak ingat pada kubur sebelum masuk kedalamnya."

Sufyan Atstsauri berkata: "Siapa yang sering (banyak) memperingati kubur, maka akan mendapatkannya kebun dari kebun-kebun syurga, dan siapa yang melupakannya maka akan mendapatkannya jurang dari jurang-jurang api neraka."

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata dalam khutbahnya: "Hai hamba Allah, berhati-hatilah kamu dari maut yang tidak dapat dihindari, jika kamu berada ditempat, ia datang mengambil kamu, dan bila kamu lari pasti akan terpegang juga, maut terikat selalu diubun-ubunmu, maka carilah jalan selamat, carilah jalan selamat dan segera-segera, sebab dibelakangmu ada yang mengejar kamu yaitu kubur, ingatlah bahawa kubur itu adakalanya kebun dari kebun-kebun syurga atau jurang dari jurang-jurang neraka dan kubur itu tiap-tiap hari berkata-kata: Akulah rumah yang gelap, akulah tempat sendirian, akulah rumah ulat-ulat."

Ingatlah sesudah itu ada hari (saat) yang lebih ngeri, hari dimana anak kecil segera beruban dan orang tua bagaikan orang mabuk, bahkan ibu yang meneteki lupa terhadap bayinya dan wanita yang bunting menggugurkan kandungannya dan kau akan melihat orang-orang bagaikan orang mabuk tetapi tidak mabuk khamar, hanya siksa Allah s.w.t. yang sangat ngeri dan dahsyat.

Ingatlah bahawa sesudah itu ada api neraka yang sangat panas dan suram dalam, perhiasannya besi dan sirnya darah bercampur nanah, tidak ada rahmat Allah s.w.t. disana. Maka kaum muslimin yang menangis. lalu ia berkata: "Dan disamping itu ada syurga yang luasnya selebar langit dan bumi, tersedia untuk orang-orang yang takwa. Semoga Allah s.w.t. melindungi kami dari siksa yang pedih dan menempatkan kami dalam darunna'iem (Syurga yang serba kenikmatan).

Usaid bin Abdirrahman berkata: "Saya telah mendapat keterangan bahawa seorang mukmin jika mati dan diangkat, ia berkata: "Segerakan aku.", dan bila telah dimasukkan dalam lahad (kubur), bumi berkata kepadanya: "Aku kasih padamu ketika diatas punggungku, dan kini lebih sayang kepadamu." Dan bila orang kafir mati lalu diangkat mayatnya, ia berkata: "Kembalikan aku." dan bila diletakkan didalam lahadnya, bumi berkata: "Aku sangat benci kepadamu ketika kau diatas punggungku, dan kini aku lebih benci lagi kepadamu."

Usman bin Affan r.a. ketika berhenti diatas kubur, ia menangis, maka ditegur: "Engkau jika menyebut syurga dan neraka tidak menangis, tetapi kau menangis kerana kubur?" Jawabnya: "Nabi Muhammad s.a.w pernah bersabda: "Alqabru awwalu manazilil akhirah, fa in naja minhu fama ba'dahu aisaru minhu, wa in lam yanju minhu fama ba'dahu asyaddu minhu." (Yang bermaksud)"Kubur itu pertama tempat yang menuju akhirat, maka bila selamat dalam kubur, maka yang dibelakangnya lebih ringan, dan jika tidak selamat dalam kubur maka yang dibelakangnya lebih berat daripadanya."

Abdul-Hamid bin Mahmud Almughuli berkata: "Ketika aku duduk bersama Ibn Abbas r.a., tiba-tiba datang kepadanya beberapa orang dan berkata: "Kami rombongan haji dan bersama kami ini ada seorang yang ketika sampai didaerah Dzatishshahifah, tiba-tiba ia mati, maka kami siapkan segala keperluannya, dan ketika menggali kubur untuknya, tiba-tiba ada ular sebesar lahad, maka kami tinggalkan dan menggali lain tempat juga ada ular, maka kami biarkan dan kami menggali lain tempat juga kami dapatkan ular, maka kami biarkan dan kini kami bertanya kepadamu, bagaimanakah harus kami perbuat tehadap mayat itu?" Jawab Ibn Abbas r.a.: "Itu dari amal perbuatannya sendiri, lebih baik kamu kubur sajan demi Allah andaikan kamu galikan bumi ini semua niscaya akan kamu dapat ular didalamnya." Maka mereka kembali dan menguburkan mayat itu didalam salah satu kubur yang sudah digali itu dan ketika mereka kembali kedaerahnya mereka pergi kekeluarganya untuk mengembalikan barang-barangnya sambil bertanya kepada isterinya apakah amal perbuatan yang dilakukan oelh suaminya? Jawab isterinya: "Dia biasa menjual gandum dalam karung, lalu dia mengambil sekadar untuk makanannya sehari, dan menaruh tangkai-tangkai gandum itu kedalam karung seberat apa yang diambilnya itu."

Abul-Laits berkata: "Berita ini menunjukkan bahawa kianat itu salah satu sebab siksaan kubur dan apa yang mereka lihat itu sebagai peringatan jangan sampai kianat."

Ada keterangan bahawa bumi ini tiap hari berseru sampai lima kali dengan berkata:

  • Hai anak Adam, anda berjalan diatas punggungku dan kembalimu didalam perutku.

  • Hai anak Adam, anda makan berbagai macam diatas punggungku dan anda akan dimakan ulat didalam perutku.

  • Hai anak Adam, anda tertawa diatas punggungku, dan akan menangis didalam perutku.

  • Hai anak Adam, anda bergembira diatas punggungku dan akan berduka didalam perutku.

  • Hai anak Adam, anda berbuat dosa diatas punggungku, maka akan tersiksa didalam perutku.

Amr bin Dinar berkata: "Ada seorang penduduk kota Madinah yang mempunyai saudara perempuan dihujung kota, maka sakitlah saudaranya itu kemudian mati, maka setelah diselesaikan persiapannya dibawa kekubur, kemudian setelah selesai menguburkan dan kembali pulang kerumah, ia teringat pada kantongan yang dibawa dan tertinggal dalam kubur, maka ia minta bantuan orang untuk menggali kubur itu kembali, dan sesudah digali kubur itu maka bertemulah dia akan kantongannya itu, ia berkata kepada orang yang membantunya itu: "Tolong aku ketepi sebentar sebab aku ingin mengetahui bagaimana keadaan saudaraku ini." Maka dibuka sedikit lahadnya, tiba-tiba dilihatnya kubur itu menyala api, maka segera ia meratakan kubur itu dan kembali kepada ibunya lalu bertanya: "Bagaimanakah kelakuan saudaraku dahulu itu?" Ibunya berkata: "Mengapa kau menanyakan kelakuan saudaramu, padahal ia telah mati?" Anaknya tetap meminta supaya diberitahu tentang amal perbuatan saudaranya itu, lalu diberitahu bahawa saudaranya itu biasanya mengakhirkan sembahyang dari waktunya, juga cuai dalam kesucian dan diwaktu malam sering mengintai rumah-rumah tetangga untuk mendengar perbualan mereka lalu disampaikan kepada orang lain sehingga mengadu domba antara mereka, dan itulah sebabnya siksa kubur. Kerana itu siapa yang ingin selamat dari siksaan kubur haruslah menjauhkan diri dari sifat namimah (adu domba diantara tetangga dan orang lain) supaya selamat dari siksaan kubur dan mudah baginya menjawab pertanyaan Malaikat Munkar Nakier.

Alabarra' bin Aazib r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Seorang mukmin jika ditanya dalam kubur, maka ia langsung membaca Asyhadu an laa ilaha illallah wa anna Muhammad abduhu warasuluhu, maka itulah yang tersebut dalam firman Allah: Yutsabbitullahul ladzina aamanu bil qaulits tsabiti filhayatiddun ya wafil akhirah (Allah menetapkan orang-orang yang beriman dengan khalimah yang teguh dimana hidup didunia dan diakhirat (yakni khalimah laa ilaha illallah, Muhammad Rasullullah).

Dan ketetapan itu terjadi dalam tiga masa iaitu:

  • Ketika melihat Malakulmaut

  • Ketika menghadapi pertanyaan Mungkar Nakier

  • Ketika menghadapi hisab dihari kiamat

Dan ketetapan ketika melihat Malaikulmaut dalam tiga hal iaitu:

  • Terpelihara dari kekafiran, dan mendapat taufiq dan istiqamah dalam tauhid sehingga keluar rohnya dalam Islam

  • Diberi selamat oleh Malaikat bahawa ia mendapat rahmat

  • Melihat tempatnya disyurga sehingga kubur menjadi salah satu kebun syurga.

Adapun ketetapan ketika hisab juga dalam tiga perkara iaitu:

  • Allah s.wt. memberinya ilham sehingga dapat menjawab segala pertanyaan dengan benar

  • Mudah dan ringan hisabnya

  • Diampunkan segala dosanya

Ada juga yang mengatakan bahawa ketetapan itu dalam empat masa iaitu:

  • Ketika mati

  • Didalam kubur sehingga dapat menjawab pertanyaan tanpa gentar atau takut

  • Ketika hisab

  • Ketika berjalan di atas Sirat sehingga berjalan bagaikan kecepatan kilat

Jika ditanya tentang soal kubur bagaimanakah bentuknya, maka ulama telah membicarakannya dalam berbagai pendapat. Sebahagiannya berkata pertanyaan itu hanya kepada roh tanpa jasad dan disaat itu roh masuk kedalam jasad hanya sampai didada. Ada pendapat berkata bahawa rohnyanya diantara jasad dan kafan dan sebaiknya seorang mempercayai adanya pertanyaan dalam kubur tanpa menanyakan dan sibuk dengan caranya. Dan kita sendiri akan mengetahui bila sampai disana, maka bila ada orang menolak adanya soal Mungkar Nakier dalam kubur, maka penolakannya dari dua jalan iaitu:

  • Mereka berkata: "Ia tidak mungkin menurut perkiraan akal, sebab menyalahi kebiasaan tabiat alam."

  • atau mereka berkata: "Tidak ada dalil yang menguatkan."

Pendapat pertama bahawa ia tidak mungkin dalam akal kerana menyalahi kebiasaa tabiat alam. Pendapat ini bererti menidakkan kenabian dan mukjizat, sebab para Nabi itu semuanya dari manusia biasa dan tabiatnya mereka sama, tetapi mereka telah dapat bertemu dengan Malaikat dan menerima wahyu, bahkan laut telah terbelah untuk Nabi Musa a.s., demikian pula tongkatnya menjadi ular, semua kejadian itu menyalahi tabiat alam, maka orang yang menolak semua itu bererti keluar dari Islam. Jika ia berkata: "Tidak ada dalil.", maka hadis-hadis yang diterangkan sudah cukup untuk menjadi alasan bagi orang yang akan mahu terima.

Firman Allah s.w.t. yang berbunyi: "Wa man a'rodho an dzikri fa inna lahu ma'i syatan dhanka wanah syuruhu yaumal qiyaamati a'ma. (Yang bermaksud) "Dan siapa yang mengabaikan peringatanKu (ajaranKu) maka ia akan merasakan kehidupan yang sukar (kehidupan sukar ini ketika menghadapi pertanyaan dalam kubur)."

Demikian pula ayat: "Yu tsabbitulladzina aamanu bil qoulaits tsabiti filhayatiddunia wafil akhirati. (Yang bermaksud) "Allah akan menetapkan hati orang-orang mukmin dengan khalimah yang teguh didunia dan diakhirat."

Abu-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Saad bin Almusayyab dari Umar r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Jika seorang mukmin telah masuk kedalam kubur, maka didatangi oleh dua Malaikat yang menguji dalam kubur, lalu mendudukkannya dan menanyainya, sedang ia mendengar suara derap sandal sepatu mereka ketika kembali, lalu ditanya oleh kedua Malaikat itu: Siapa Tuhammu, dan apakah agamamu, dan siapa Nabimu, lalu dijawab: Allah tuhanku, dan agamaku Islam dan Nabiku Nabi Muhammad s.a.w. Lalu Malaikat itu berkata: Allah yang menetapkan kau dalam khalimah itu, tidurlah dengan tenang hati. Itulah ertinya Allah menetapkan mereka dalam khalimah hak. Adapun orang kafir zalim maka Allah menyesatkan mereka dengan tidak memberi petunjuk taufiq pada mereka, sehingga ketika ditanya oleh Malaikat: Siapa Tuhanmu, apa agamamu dan siapa Nabimu, maka jawab orang kafir atau munafiq: Tidak tahu. Maka oleh Malaikat dikatakan: Tidak tahu, maka langsung dipukul sehingga jeritan suaranya terdengar semua yang dialam kecuali manusia dan jin. (Dan andaikan didengar oleh manusia pasti pingsan)

Abu Hazim dari Ibn Umar r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w bersabda kepada Umar r.a : "Bagaimanakah kau hai Umar jika didatangi oleh kedua Malikat yang akan mengujimu didalam kubur iaitu Mungkar Nakier hitam keduanya kebiru-biruan siung keduanya mengguriskan bumi, sedang rambut keudanya sampai ketanah dan suara keduanya bagaikan petir yang dahsyat, dan matanya bagaikan kilat yang menyambar?" Umar bertanya: "Ya Rasullullah, apakah ketika itu aku cukup sedar sebagaimana keadaanku sekarang ini?" Nabi Muhammad s.a.w menjawab: "Ya." Umar berkata: "jika sedemikian maka saya selesaikan keduanya dengan izin Allah s.w.t.. Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "sesungguhnya Umar seorang yang mendapat taufiq."

Abul-Laits berkata: "saya telah diberitahu oleh Abul-Qasim bin Abdurrahman bin Muhammad Asysyabadzi dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Tiada seorang yang mati melainkan ia mendengkur yang didengari oleh semua binatang kecuali manusia, dan andaikata ia mendengar pasti pingsan, dan bila dihantar kekubur, maka jika solih (baik) berkata: "Segerakanlah aku, andaikan kamu mengetahui apa yang didepanku daripada kebaikan, nescaya kamu akan menyegerakan aku. Dan bila ia tidak baik maka berkata: "Jangan keburu, andaikata kamu mengtahui apa yang didepan aku daripada bahaya, nescaya kamu tidak akan keburu. Kemudian jika telah ditanam dalam kubur, didatangi oleh dua Malaikat yang hitam kebiru-biruan datang dari arah kepalanya, maka ditolak oleh sembahyangnya: Tidak boleh datang dari arahku sebab adakalanya ia semalaman tidak tidur kerana takut dari saat yang seperti ini, lalu datang dari bawah kakinya, maka ditolak oleh baktinya pada kedua orang tuanya: Jangan datang dari arahku, kerana ia biasa berjalan tegak kerana ia takut dari saat seperti ini, lalu datang dari arah kanannya, maka ditolak oleh sedekahnya: Tidak boleh datang dari arahku, kerana ia pernah sedekah kerana ia takut dari saat seperti ini, lalu ia datang dari kirinya maka ditolak oleh puasanya: Jangan datang dari arahku, kerana ia biasa lapar dan haus kerana takut saat seperti ini, lalu ia dibangunkan bagaikan dibangunkan dari tidur, lalu ia bertanya: Bagaimana pendapatmu tentang orang yang membawa ajaran kepadamu itu? Ia tanya: Siapakah itu? Dijawab: Muhammad s.a.w? Maka dijawab: Saya bersaksikan bahawa ia utusan Allah. Lalu berkata kedua Malaikat: Engkau hidup sebagai seorang mukmin, dan mati juga mukmin. Lalu diluaskan kuburnya, dan dibukakan baginya segala kehormatan yang dikurniakan Allah kepadanya. Semoga Allah memberi kita taufiq dan dipelihara serta dihindarkan dari hawa nafsu yang menyesatkan, dan menyelamatkan kami dari siksa kubur kerana Nabi Muhammad s.a.w juga berlindung kepada Allah dari siksa kubur."

A'isyah r.a. berkata: "Saya dahulunya tidak mengetahui adanya siksa kubur sehingga datang kepadaku seorang wanita Yyahudi, minta-minta dan sesudah saya beri ia berkata: "Semoga Allah melindungi kamu dari siksa kubur. Maka saya kira keterangannya itu termasuk tipuan kaum Yahudi, lalu saya ceritakan kepada Nabi Muhammad s.a.w maka Nabi Muhammad s.a.w memberitahu kepadaku bahawa siksa kubur itu hak benar, maka seharusnya seorang muslim berlindung kepada Allah s.w.t. dari siksa kubur, dan bersiap sedia untuk menghadapi kubur dengan amal yang soleh, sebab selama ia masih hidup maka Allah s.w.t. telah memudahkan baginya segala amal soleh. Sebaliknya bila ia telah masuk kedalam kubur, maka ia akan ingin kalau dapat diizinkan, sehingga ia sangat menyesal semata-mata, kerana itu seorang yang berakal harus berfikir dalam hal orang-orang yang telah mati, kerana orang-orang yang telah mati itu, mereka sangat ingin kalau dapat akan sembahyang dua rakaat, berzikir dengan tasbih, tahmid dan tahlil, sebagaimana ketika didunia, tetapi tidak diizinkan, lalu mereka hairan pada orang-orang yang masih hidup menghambur-hamburkan waktu dalam permainan dan kelalaian semata-mata. Saudaraku jagalah dan siap-siapkan harimu, sebab ia sebagai pokok kekayaanmu, maka mudah bagimu mendapatkan atau mencari untung laba, sebab kini dagangan akhirat agak sepi dan tidak laku, kerana itu rajin-rajinlah kau mengumpulkan sebanyak mungkin daripadanya, sebab akan tiba masa dagangan itu sangat berharga sebab pada saat itu ia berharga, maka kau tidak akan dapat mencari atau mencapainya. Kami mohon semoga Allah s.w.t. memberi taufiq untuk bersiap-siap menghadapi saat keperluan dan jangan sampai menjadikan kami dari golongan yang menyesal sehingga ingin kembali kedunia tetapi tidak diizinkan, juga semoga Allah s.w.t. memudahkan atas kami sakaratulmaut, dan kesukaran kubur, demikian pula pada semua kaum muslimin dan muslimat.

Dipetik dari blog kisah agama

Sunday, August 22, 2010

Doa Qunut Nazilah

Doa bagi memohon perlindungan dan menangkis kejahatan musuh

أللهم إنا نجعلك فى نحور أعداءنا

ونعوذبك من شرورهم

Ya Allah, Sesungguhnya kami letakkanMu di batang leher musuh-musuh kami, dan kami berlindung denganMu daripada kejahatan mereka,

اللهم بدد شملهم وفرق جمعهم

وشتت كلمتهم وزلزل اقدامهم

وسلط عليهم كلبا من كلابك

Ya Allah, hancur leburkanlah rkumpulan-kumpulan mereka, Pecah belahkan dan kacau bilaukan persatuan mereka, Goncangkan pendirian mereka Dan hantarkanlah anjing-anjingMu kepada mereka


يا قهار يا جبار يامنتقم


Wahai Tuhan Yang Gagah Perkasa, Wahai Tuhan Yang Penuh Raksasa,

Wahai Tuhan Yang Bersifat Murka,

يا ألله يا ألله يا ألله

Ya Allah Ya Allah Ya Allah,

اللهم يا منزل الكتاب ويامجري السحاب

وياهازم الاٴحزابا

إهزمهم وانصرنا عليهم

Wahai Tuhan yang menurunkan kitab, Wahai Tuhan yang mengarakkan awan, Wahai tuhan yang menewaskan bala tentera al-ahzab, Kalahkan mereka Dan menangkan kami ke atas mereka. Aminn

Tuesday, August 10, 2010

Ayuh kita raikan Ramadhan ini

Ayuhlah bersama kita raikan kehadiran Ramadhan ini bersama-sama dengan beberapa persiapan ilmu agar ibadah Ramadhan kita semakin lebih baik dari sebelumnya.
Ramadhan adalah Bulan Diturunkan Padanya Al Qur’an
Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan... ini dipilih sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)
Ibnu Kathir rahimahullah tatkala menafsirkan ayat yang mulia ini mengatakan, ”(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memuji bulan puasa –yaitu bulan Ramadhan- dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi ’alaihimus salam.”[1]
Syaitan Dibelenggu, Pintu-pintu Neraka Ditutup dan Pintu-pintu Surga Dibuka Ketika Ramadhan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
”Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.”[2]
Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan, “Hadits di atas bermakna, terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu Jahannam dan terbelenggunya syaitan sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan dan mulianya bulan tersebut.” Lanjut Al Qodhi ‘Iyadh, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Ini berbeza dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan hal maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.” [3]
Terdapat Malam yang Penuh Kemuliaan dan Keberkatan
Pada bulan ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah –yang ditentukan oleh Nabi saw berada pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan- saat diturunkannya Al Qur’anul Karim.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3
”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 1-3).
Dan Allah Ta’ala juga berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
”Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan: 3).
Yang dimaksud malam yang diberkahi di sini adalah malam lailatul qadr. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibn Jarir At-Tabari rahimahullah[4]. Inilah yang menjadi pendapat majoriti ulama di antaranya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.[5]
Bulan Ramadhan adalah Salah Satu Waktu Dikabulkannya Do’a
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ
”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.”[6]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizalimi”.[7]
An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdo’a dari awal ia berpuasa hingga akhirnya karena ia dinamakan orang yang berpuasa ketika itu.”[8]
An Nawawi rahimahullah mengatakan pula, “Disunnahkan bagi orang yang berpuasa ketika ia dalam keadaan berpuasa untuk berdo’a demi keperluan akhirat dan dunianya, juga pada perkara yang ia sukai serta jangan lupa pula untuk mendoakan saudara-saudara seislam yang lainnya.”[9]
Raihlah berbagai keutamaan di bulan tersebut, wahai Saudaraku!
Semoga Allah memudahkan kita untuk semakin meningkatkan amalan salih di bulan Ramadhan.
1. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2/179.
2. HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
[3] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/188.
[4] Tafsir Ath Thobari, 21/6.
[5] Zaadul Masiir, 7/336-337.
[6] HR. Al Bazaar, dari Jabir bin ‘Abdillah. Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (10/149) mengatakan bahwa perowinya tsiqoh (terpercaya). Lihat Jaami’ul Ahadits, 9/224.
[7] HR. At Tirmidzi no. 3598. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[8] Al Majmu’, 6/375.
[9] Al-Majmu’ , 6/376

Disesuaikan daripadaMuhammad Abduh Tuasikal oleh Ustaz Zahazan Mohamed

Thursday, August 05, 2010

Tanda Kekuasaan Allah pada kejadian Manusia

Betapa sukarnya para Malaikat ketika mendapatkan tanah-tanah dari bumi untuk diciptakan Adam Alaihi Salam ( Abul Basyar Bapa segala manusia ). Pada suatu ketika, Allah SWT menitahkan kepada malaikat Jibril supaya turun ke bumi untuk mengambil sebahagian tanahnya untuk mencipta Adam. Akan tetapi apabila beliau sampai ke bumi, bumi enggan membenarkan tanahnya diambil untuk dijadikan Adam kerana bumi khuatir Adam akan menjadi maksiat kepada Allah. Lalu Jibril kembali ke hadrat Allah memberitahu bahawa ia tidak dapat berbuat apa-apa apabila mendengar sumpah bumi.

Setelah itu, Allah memerintah malaikat Mikail. Jawapan bumi masih sama lalu Allah memerintahkan malaikat Israfil dan jawapan bumi masih tidak berganjak.

Masing-masing kembali dengan jawapan yang hampa. Akhirnya, Allah menyuruh malaikat Izrail turun ke bumi.Kata Allah:
” Hai Izrail! Engkaulah kini yang aku tugaskan mengambil tanah. Meskipun bumi bersumpah-sumpah dengan ucapan, jangan engkau mundur. Katakan bahawa kerjamu atas perintah dan atas namaKu.”

Apabila Izrail turun ke bumi dan menyampaikan perintah Allah kepada bumi, maka akhirnya bumi mengizinkan tanahnya diambil. Setelah Izrail mengambil beberapa jenis tanah, kembalilah ia ke hadrat Allah.

Lalu Allah berfirman: “Ya Izrail, pertama engkau yang Ku tugaskan mengambil tanah, dan kemudian di belakang hari kelak akan kutugaskan engkau mencabut roh manusia.”

Maka kuathirlah Izrail kerana bimbang akan dibenci oleh umat manusia.Lalu Allah berfirman lagi: “Tidak, mereka tidak akan memusuhi kamu. Aku yang mengaturnya, dan aku jadikan kematian mereka itu bersebab antaranya terbunuh, terbakar, sakit dan sebagainya.

JENIS TANAH YANG DIGUNAKAN:

1. Tanah tempat bakal berdirinya Baitul Muqaddis
2. Tanah Bukit Tursina
3. Tanah Iraq
4. Tanah Aden
5. Tanah Al-Kautsar
6. Tanah tempat bakal berdirinya Baitullah
7. Tanah Paris
8. Tanah Khurasan
9. Tanah (Babylon)
10. Tanah India
11. Tanah syurga
12. Tanah Tha’if

Menurut Ibnu Abbas:

1. Kepala Adam dari tanah Baitul-Muqaddis kerana disitulah berada otak manusia, dan disitulah tempatnya akal.

2. Telinganya dari tanah Bukit Thursina, kerana dia alat pendengar dan tempat menerima nasihat.

3. Dahinya dari tanah Iraq,kerana disitu tempat sujud kepada Allah.

4. Mukanya dari tanah Aden, kerana disitu tempat berhias dan tempat kecantikan.

5. Matanya dari tanah telaga Al-Kautsar, tempat menarik perhatian.

6. Giginya dari tanah Al-Kautsar, tempat memanis-manis.

7. Tangan kanannya dari tanah Kaabah,untuk mencari nafkah dan kerjasama, sesama manusia.

8. Tangan kirinya dari tanah Paris, tempat beristinjak.

9. Perutnya dari tanah Babylon. Disitulah tempat seks (berahi) dan tipudaya syaitan untuk menjerumuskan manusia ke lembah dosa.

10.Tulangnya dari tanah Bukit Thursina, alat peneguh tubuh manusia.

11.Dua kakinya dari tanah India, tempat berdiri dan jalan.

12.Hatinya dari tanah syurga Firdaus,kerana disitulah iman, keyakinan,ilmu, kemahuan dan sebagainya.

13.Lidahnya dari tanah Tha’if, tempat mengucap Syahadat, bersyukur dan berdoakan kepada Tuhan.

PROSESNYA KEJADIANNYA:

1. Ketika Allah jadikan Adam, tanah itu dicampur dengan air tawar, air masin, air hanyir, angin dan api. Kemudian Allah resapkan Nur kebenaran dalam diri Adam dengan berbagai macam “sifat”.

2. Lalu tubuh Adam itu digenggam dengan genggaman “Jabarut” kemudian diletakkan didalam “Alam Malakut”.

3. Sesungguhnya tanah yang akan dijadikan “tubuh Adam” adalah tanah pilihan Maka sebelum dijadikan patung, tanah itu dicampurkan dengan rempah-rempah dan wangi-wangian dari sifat Nur sifat Allah, dan dirasmikan dengan air hujan “Barul Uluhiyah”.

4.Kemudian tubuh itu dibenamkan didalam air “Kudral-Izzah- Nya” iaitu sifat “Jalan dan Jammal”. Lalu terciptalah tubuh Adam yang sempurna.

5.Demikian pula roh, ketika itu diperintah masuk kedalam tubuh Adam, ia merasa malas dan enggan, lalu ia berputar-putar, mengelilingi patung Adam yang terlantar. Kemudian Allah menyuruh malaikat Izrail untuk memaksa roh itu masuk. Akhirnya mahu tidak mahu roh itupun masuk dan menyerah kepada Izrail.

Menurut riwayat ketika Adam masih berada di syurga, sangat baik sekali kulitnya. Tidak seperti warna kulit manusia. Kerana Adam telah diturunkan ke dunia, terjadilah perubahan pada warna kulitnya. Sebagai peringatan, yang masih tertinggal warnanya hanyalah pada kuku manusia. Oleh itu, meskipun orang kulitnya hitam,tetapi warna kukunya adalah sama, ialah putih kemerah-merahan.

Dijadikan pada tubuh Adam ada sembilan rongga atau liang. Tujuh buah liang di kepala, dan dua buah liang di bawah badan letaknya.

Tujuh buah letaknya adalah di:

1. Kepala : dua liang mata, Dua liang telinga, Dua liang hidung dan sebuah liang mulut.
2. Dibawah: Sebuah liang kemaluan dan liang dubur.

Dijadikan pula lima buah pancaindera:

1. Mata alat penglihatan
2. Hidung alat penciuman
3. Telinga alat pendengaran
4. Mulut alat merasa manis, masin dan sebagainya.
5. Anggota tubuh lainya seperti kulit, telapak tangan, untuk merasa halus, kasar dan
sebagainya.

Setelah Roh masuk kedalam tubuh Adam :
Lalu roh itu masuk perlahan-lahan sehingga ke kepalanya yang mengambil masa 200 tahun. Demikianlah Allah memberi kekuatan pada Izrail untuk memasukkan roh ke dalam tubuh Adam.

Setelah roh meresap ke kepala Adam, maka terjadilah otak dan tersusunlah urat-urat sarafnya dengan sempurna. Kemudian terjadilah matanya dan seketika itu matanya terus terbuka melihat dan melirik kekiri, ke kanan dan kebawah dimana pada masa itu bahagian badannya masih merupakan tanah keras.

Dilihatnya kiri dan kanan para malaikat yang sedang menyaksikan kejadian dia. Ketika itu dia telah dapat mendengar para malaikat mengucapkan tasbih dengan suara yang merdu dan mengasyikkan.

Kemudian ketika roh sampai kehidungnya lalu ia bersin, serta mulutnya terbuka.

Ketika itulah Allah ajarkan padanya ucapan Alhamdulillah. Itulah ucapan Adam pertama kalinya kehadrat Allah. Lalu Allah berkata :”Yarhamukallah” yang membawa erti: “Semoga engkau diberi rahmat Allah”. Oleh kerana itu jika orang bersin, menjadi sunat mengucap “Alhamdulillah” dan orang yang mendengarnya sunat pula mengucapkan “Yarhamukallah” .

Kemudian ketika roh sampai pada dadanya, tiba-tiba saja ia mahu bangun. Padahal sebahagian bawah badannya masih tanah dan keras. Disini menunjukkan sifat manusia yang suka tergesa-gesa (tidak sabar).
Sebagaimana firman Allah SWT bermaksud:
“Dan adalah manusia itu, suka tergesa-gesa” .(Al-Israk: II)

Maka ketika roh itu sampai di bahagian perutnya, maka terjadilah susunan isi perut dengan sempurna. Maka seketika itu terasalah lapar. Kemudian terus roh itu meresap sampai ke seluruh tubuh, tangan, kaki lalu terjadi darah daging dan tulang. Urat-urat berkulit dengan sempurna, yang mana kulit itu kian lama kian cantik dan halus.

Begitulah proses kejadian-kejadian tubuh Adam. Setelah kejadian Adam sempurna sebagai manusia, maka dialah merupakan makhluk manusia yang pertama. Wajahnya cukup cantik, semua malaikat berasa kagum melihat Adam yang begitu menawan. Kemudian Adam diarak oleh malaikat-malaikat selama 100 tahun lalu diperkenalkan kepada seluruh penghuni dari langit pertama hinggalah ke langit tujuh sebelum dibawa ke syurga tempat mula-mula Adam dijadikan.

(Dipetik dari buku HIMPUNAN KISAH-KISAH MALAIKAT disusun oleh Muhammad Isa Selamat)

Tuesday, July 20, 2010

Ikhlaskah kita dalam amalan?

Antara sifat mahmudah yang dituntut untuk kita laksanakan ialah ikhlas dalan setiap ibadah dan amalan. Amat mudah untuk berkata "saya ikhlas" "derma ikhlas" "sumbangan ikhlas" dan sebagainya namun praktisnya menuntut kepada penghayatan terhadap keikhlasan yang tidak sekelumitpun mengharapkan sesuatu.

Firman Allah s.w.t
إنما نطعمكم لوجه الله لانريد منكم جزاء ولا شكورا

Maksudnya: Kami memberi makan hanya kerana mengharap keredaan Allah s.w.t. Kami tidak mengharapkan balasan dari kamu dan tidak mengharapkan ucapan terima kasih. (Al-Insan: 9)

Antara tanda-tanda sifat ikhlas ketika kita berbuat baik kepada orang lain ialah
1. Tidak mengharapkan balasan.
2. Tidak mengharapkan ucapan terima kasih.

Apa pengertian Ikhlas?
Imam Qusyairi telah berkata: Ikhlas adalah mengesakan niat kepada Allah semata-mata dalam melaksanakan kerja-kerja ketaatan.

Diantara tanda-tanda ikhlas adalah seperti yg dinyatakan Imam Zu Nun al-Misri ada tiga.
1. Sama saja baginya samada pujian atau kejian daripada manusia.

2. Tidak mengingati amalannya kembali. (contoh ingat amalan adalah kita berasa baik selepas membuat amalan dan sepatutnya kita tidak berasa apa-apa kerana kita telah berserah amalan kita padaNya)

3. Hanya menuntut pahala amalan di akhirat. (kita tidak membuat amalan kerana mengharapkan pujian dan kedudukan daripada manusia).

Semestinya kita mesti memastikan kita benar-benar ikhlas sebelum kita beramal.
Diceritakan bagaimana seorang soleh berkata kepada yang mengajaknya untuk menghadiri solat jenazah: Sebentar lagi sehingga aku dapat menghadirkan niat ikhlasku..

Tapi janganlah kita meninggalakan amalan kerana takut riya' dan sebagainya.
Yang demikian itu Imam Fudail bin Iyad telah berkata:
ترك العمل لأجل الناس رياء والعمل لأجل اناس شرك والإخلاص أن يعافيك الله عنهما
Maksudnya: Meninggalkan amalan kerana manusia adalh riya', berbuat amal kerana manusia adalah syirik. Ikhlas dengan Allah adalah menyelamatkan kamu dari keduanya.
disunting semula dari blog akhi salman

Friday, July 02, 2010

Hukum makan dan minum berdiri

Gambar Sekadar Hiasan
Adab yang penting untuk kita bersama pelihara dan amalkan adalah ketika menjamah makanan atau meneguk air minuman. Kadangkala suasana, sistem dan kemudahan tempat duduk yang disediakan dalam suatu majlis tidak mengizinkan tetamunya untuk duduk. Lalu kita mengabaikan adab ini. Mari kita meneliti hukumnya berdasarkan nas dan hadis yang menyokongnya agar kita terus mengamalkan sunnahnya.

Hukum minum berdiri adalah makruh menurut pendapat kebanyakan ulama. Ini berdasarkan hadis-hadis berikut:-

Abu Said al-khudri berkata:
"Sesungguhnya Nabi s.a.w menegah daripada minum berdiri." (Hr Muslim)

Nabi s.a.w bersabda:
"Janganlah seseorang kamu minum berdiri; sesiapa yang terlupa maka hendaklah dia muntahkan kembali"(Hr Muslim)

Daripada Anas dan Qatadah r.a daripada Nabi s.a.w: "Sesungguhnya baginda menegah daripada minum berdiri." Para sahabat r.a bertanya "Bagaimana dgn makan?" Nabi s.a.w bersabda "Itu lebih jahat dan lebih keji"(Hr Muslim)

Sebab apa ianya dilarang? Berikut adalah pandangan dari pakar perubatan:-

Dr Abdul Razzak al-Kailani berkata:

"Sesungguhnya makan dan minum duduk lebih baik dari segi kesihatan, lebih selamat, lebih puas; dimana makanan dan minuman lalu di dinding perut dengan tenang.

Adapun minum berdiri menyebab cecair akan jatuh ke dasar perut dengan keras dan akan melanggar lapisan perut. Kalau perkara ini selalu berlaku dan lama masa berlalu akan menyebabkan perut akan longgar dan jatuh sehingga menyebabkan susah nak hadam. Begitu juga dengan makanan.

Adapun pandangan daripda dr Ibrahim ar-Rawi adalah seperti berikut:

Apabila seseorang itu berdiri dia dlm keadaan ototnya menjadi tegang (strain) . Pada masa yg sama sistem imbangan pada sistem saraf pusat (central nervous system) dalam keadaan terlampau aktif mengawal semua otot , utk melakukan proses pengimbangan dan berdiri tegak.

Ia adalah proses gabungan diantara sistem saraf dan sistem otot dalam satu masa yang menyebabkan manusia tidak mampu mendapat kerehatan anggota. Kerehatan otot adalah syarat yg terpenting ketika makan dan minum dan wujud ketika mana duduk. Apabila duduk maka sisitem saraf dan sistem otot dlm keadaan tenang dan sensation (rasa) akan menjadi aktif serta sistem penghadaman akan bertambahnya kemampuan (ability) untuk menerima makanan dan minuman dan akan menyerap (assimilation) makanan dengan cara yang betul.

Namun demikian diharuskan berdiri di tempat yang tidak sesuai duduk seperti tempat yang terlampau sesak. Ini adalah kerana Nabi s.a.w pernah minum berdiri seperti berikut:

Ibnu Umar berkata: "Kami makan berjalan dan minum berdiri di zaman Rasulullah"(Hr Tirmizi)

Ibnu Abbas berkata: "Sesungguhnya Nabi minum zam-zam dalam keadaan berdiri."(Hr Bukhari dan Muslim)
Biarpun ada riwayat yang mengharuskan kita minum dalam keadaan berdiri ianya juga melihat suasana yang tidak mengizinkan kita berbuat demikian. Pertimbangan kita ialah yang terbaik untuk mengamalkan adab makan dan minum ialah dalam keadaan kita duduk demi menjaga keperluan kesihatan malah thiqah dan pandangan umum terhadap kebaikan cara hidup Islam.
dipetik dari blog cina islam.

Thursday, July 01, 2010

Ketokohan Imam al-Syafi’i Rahimahullah

Beliau bernama Muhammad dengan gelaran Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk keturunan Rasulullah, iaitu Hasyim bin al-Muththalib.

Bapa beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di ‘Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana.

Ibu beliau, terdapat perbezaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang digelar Ummu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ibu Imam Syafi‘i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath.

Beliau dilahirkan pada tahun 150H. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh al-Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya.

Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan tetapi, yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (Sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir. Tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota Asqalan sekitar dua farsakh). Tempat lain yang disebut-sebut adalah kota Asqalan dan Yaman.

Ibnu Hajar memberikan penjelasan bahwa riwayat-riwayat tersebut dapat digabungkan dengan dikatakan bahwa beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di wilayah Asqalan. Ketika berumur dua tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz. Ketika berumur 10 tahun, beliau dibawa ke Mekah.

Pertumbuhannya dan Pengembaraannya Mencari Ilmu
Di Mekah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, ibunya menghantar belajar kepada seorang guru. Sebenarnya ibunya tidak mampu untuk membiayainya, tetapi guru itu ternyata rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Imam Syafi‘i bercerita, “Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, “Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.” Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi seorang guru.

Setelah menghafaz Al-Quran di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majlis-majlis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk dipakai menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadith-hadith Nabi. Dan itu terjadi pada saat beliau belum lagi berusia baligh. Sampai dikatakan bahwa beliau telah menghafal Alquran pada saat berusia 7 tahun, lalu membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 12 tahun sebelum beliau berjumpa terus dengan Imam Malik di Madinah.

Beliau juga tertarik mempelajari ilmu bahasa Arab dan syair-syairnya. Beliau memutuskan untuk tinggal di daerah pedalaman bersama suku Hudzail yang telah terkenal kefasihan dan kemurnian bahasanya, serta syair-syair mereka. Hasilnya, sekembalinya dari sana beliau telah berhasil menguasai kefasihan mereka dan menghafal seluruh syair mereka, serta mengetahui nasab orang-orang Arab, suatu hal yang kemudian banyak dipuji oleh ahli-ahli bahasa Arab yang pernah berjumpa dengannya dan yang hidup sesudahnya. Namun, takdir Allah telah menentukan jalan lain baginya. Setelah mendapatkan nasehat dari dua orang ulama, yaitu Muslim bin Khalid az-Zanji -mufti kota Mekkah-, dan al-Husain bin ‘Ali bin Yazid agar mendalami ilmu fiqih, maka beliau pun tersentuh untuk mendalaminya dan mulailah beliau melakukan pengembaraannya mencari ilmu.

Beliau mengawalinya dengan menimbanya dari ulama-ulama kotanya, Mekkah, seperti Muslim bin Khalid, Dawud bin Abdurrahman al-‘Athar, Muhammad bin Ali bin Syafi’ –yang masih terhitung paman jauhnya-, Sufyan bin ‘Uyainah –ahli hadits Mekkah-, Abdurrahman bin Abu Bakar al-Maliki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin ‘Iyadh, dan lain-lain. Di Mekkah ini, beliau mempelajari ilmu fiqih, hadits, lughoh, dan Muwaththa’ Imam Malik. Di samping itu beliau juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang kuda sampai menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal. Bahkan dikatakan bahwa dari 10 panah yang dilepasnya, 9 di antaranya pasti mengena sasaran.

Setelah mendapat izin dari para syaikh-nya untuk berfatwa, timbul keinginannya untuk mengembara ke Madinah, Dar as-Sunnah, untuk mengambil ilmu dari para ulamanya. Terlebih lagi di sana ada Imam Malik bin Anas, penyusun al-Muwaththa’. Maka berangkatlah beliau ke sana menemui sang Imam. Di hadapan Imam Malik, beliau membaca al-Muwaththa’ yang telah dihafalnya di Mekkah, dan hafalannya itu membuat Imam Malik kagum kepadanya. Beliau menjalani mulazamah kepada Imam Malik demi mengambil ilmu darinya sampai sang Imam wafat pada tahun 179. Di samping Imam Malik, beliau juga mengambil ilmu dari ulama Madinah lainnya seperti Ibrahim bin Abu Yahya, ‘Abdul ‘Aziz ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Isma‘il bin Ja‘far, Ibrahim bin Sa‘d dan masih banyak lagi.

Setelah kembali ke Mekah, beliau kemudian melanjutkan mencari ilmu ke Yaman. Di sana beliau mengambil ilmu dari Mutharrif bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf al-Qadhi, serta yang lain. Namun, berawal dari Yaman inilah beliau mendapat cobaan –satu hal yang selalu dihadapi oleh para ulama, sebelum maupun sesudah beliau-. Di Yaman, nama beliau menjadi terkenal karena sejumlah kegiatan dan kegigihannya menegakkan keadilan, dan kehebatannyanya itu sampai juga ke telinga penduduk Mekkah. Lalu, orang-orang yang tidak senang kepadanya akibat kegiatannya tadi mengadukannya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, Mereka menuduhnya hendak mengobarkan pemberontakan bersama orang-orang dari kalangan Alawiyah.

Sebagaimana dalam sejarah, Imam Syafi‘i hidup pada masa-masa awal pemerintahan Bani ‘Abbasiyah yang berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Pada masa itu, setiap khalifah dari Bani ‘Abbasiyah hampir selalu menghadapi pemberontakan orang-orang dari kalangan ‘Alawiyah. Kenyataan ini membuat mereka bersikap sangat kejam dalam memadamkan pemberontakan orang-orang ‘Alawiyah yang sebenarnya masih saudara mereka sebagai sesama Bani Hasyim.

Tuduhan dusta yang diarahkan kepadanya bahwa dia hendak mengobarkan pemberontakan, membuatnya ditangkap, lalu dipenjara di Baghdad dalam keadaan dibelenggu dengan rantai bersama sejumlah orang-orang ‘Alawiyah. Beliau bersama orang-orang ‘Alawiyah itu dihadapkan ke hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah menyuruh bawahannya menyiapkan pedang dan hamparan kulit. Setelah memeriksa mereka seorang demi seorang, ia menyuruh pegawainya memenggal kepala mereka. Ketika sampai pada gilirannya, Imam Syafi‘i berusaha memberikan penjelasan kepada Khalifah. Dengan kecerdasan dan ketenangannya serta pembelaan dari Muhammad bin al-Hasan -ahli fiqih Irak-, beliau berhasil meyakinkan Khalifah tentang ketidakbenaran apa yang dituduhkan kepadanya. Akhirnya beliau meninggalkan majlis Harun ar-Rasyid dalam keadaan bersih dari tuduhan bersekongkol dengan ‘Alawiyah dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Baghdad.

Di Baghdad, beliau kembali pada kegiatan asalnya, mencari ilmu. Beliau meneliti dan mendalami madzhab Ahlu Ra’yu. Untuk itu beliau berguru dengan mulazamah kepada Muhammad bin al-Hassan. Selain itu, kepada Isma‘il bin ‘Ulayyah dan Abdul Wahhab ats-Tsaqafiy dan lain-lain. Setelah meraih ilmu dari para ulama Irak itu, beliau kembali ke Mekkah pada saat namanya mulai dikenal. Maka mulailah ia mengajar di tempat dahulu ia belajar. Ketika musim haji tiba, ribuan jamaah haji berdatangan ke Mekkah. Mereka yang telah mendengar nama beliau dan ilmunya yang mengagumkan, bersemangat mengikuti pengajarannya sampai akhirnya nama beliau makin dikenal luas. Salah satu di antara mereka adalah Imam Ahmad bin Hanbal.

Ketika kamasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafi‘i memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi khabar-khabar yang maqbul, penjelasan tentang nasikh dan mansukh dari ayat-ayat Alquran dan lain-lain. Maka beliau pun menulis kitabnya yang terkenal, Ar-Risalah.

Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah, beliau kembali melakukan perjalanan ke Irak untuk kedua kalinya dalam rangka menolong madzhab Ash-habul Hadits di sana. Beliau mendapat sambutan meriah di Baghdad karena para ulama besar di sana telah menyebut-nyebut namanya. Dengan kedatangannya, kelompok Ash-habul Hadith merasa mendapat angin segar karena sebelumnya mereka merasa didominasi oleh Ahlu Ra’yi. Sampai-sampai dikatakan bahwa ketika beliau datang ke Baghdad, di Masjid Jami ‘ al-Gharbi terdapat sekitar 20 halaqah Ahlu Ra ‘yu. Tetapi ketika hari Jumat tiba, yang tersisa hanya 2 atau 3 halaqah saja.

Beliau menetap di Irak selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 beliau balik ke Mekkah. Di sana beliau mulai menyebar madzhabnya sendiri. Maka datanglah para penuntut ilmu kepadanya meneguk dari lautan ilmunya. Tetapi beliau hanya berada setahun di Mekkah.

Tahun 198, beliau berangkat lagi ke Irak. Namun, beliau hanya beberapa bulan saja di sana karena telah terjadi perubahan politik. Khalifah al-Makmun telah dikuasai oleh para ulama ahli kalam, dan terjebak dalam pembahasan-pembahasan tentang ilmu kalam. Sementara Imam Syafi‘i adalah orang yang paham betul tentang ilmu kalam. Beliau tahu bagaimana pertentangan ilmu ini dengan manhaj as-salaf al-shalih –yang selama ini dipegangnya- di dalam memahami masalah-masalah syariat. Hal itu karena orang-orang ahli kalam menjadikan akal sebagai patokan utama dalam menghadapi setiap masalah, menjadikannya rujukan dalam memahami syariat padahal mereka tahu bahwa akal juga memiliki keterbatasan-keterbatasan. Beliau tahu betul kebencian meraka kepada ulama ahlu hadith. Karena itulah beliau menolak madzhab mereka.

Provokasi mereka membuat Khalifah mendatangkan banyak musibah kepada para ulama ahlu hadith. Salah satunya adalah yang dikenal sebagai Yaumul Mihnah, ketika dia mengumpulkan para ulama untuk menguji dan memaksa mereka menerima paham Al-Quran itu makhluk. Akibatnya, banyak ulama yang masuk penjara, bila tidak dibunuh. Salah satu di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Karena perubahan itulah, Imam Syafi‘i kemudian memutuskan pergi ke Mesir. Sebenarnya hati kecilnya menolak pergi ke sana, tetapi akhirnya ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah. Di Mesir, beliau mendapat sambutan masyarakatnya. Di sana beliau berdakwah, menebar ilmunya, dan menulis sejumlah kitab, termasuk merevisi kitabnya ar-Risalah, sampai akhirnya beliau menemui akhir kehidupannya di sana.

Keteguhannya Membela Sunnah
Sebagai seorang yang mengikuti manhaj Ashahabul Hadith, beliau dalam menetapkan suatu masalah terutama masalah aqidah selalu menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi sebagai landasan dan sumber hukumnya. Beliau selalu menyebutkan dalil-dalil dari keduanya dan menjadikannya hujjah dalam menghadapi penentangnya, terutama dari kalangan ahli kalam. Beliau berkata, “Jika kalian telah mendapatkan Sunnah Nabi, maka ikutilah dan janganlah kalian berpaling mengambil pendapat yang lain.” Karena komitmennya mengikuti sunnah dan membelanya itu, beliau mendapat gelar Nashir as-Sunnah wa al-Hadith.

Wafatnya
Karena kesibukannya berdakwah dan menyebarkan ilmu, beliau menderita penyakit bawasir yang selalu mengeluarkan darah. Makin lama penyakitnya itu bertambah parah hingga akhirnya beliau wafat karenanya. Beliau wafat pada malam Jumat setelah shalat Isya’ hari terakhir bulan Rajab permulaan tahun 204 dalam usia 54 tahun. Semoga Allah memberikan kepadanya rahmat-Nya yang luas.


Hasil Karya
Sekalipun beliau hanya hidup selama setengah abad dan kesibukannya melakukan perjalanan jauh untuk mencari ilmu, hal itu tidaklah menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Jumlahnya menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 bagian, sedangkan menurut al-Marwaziy mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih, adab dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam al-Fahrasat.
Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah al-Umm, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah, dan ar-Risalah al-Jadidah (yang telah direvisinya) mengenai Alquran dan As-Sunnah serta kedudukannya dalam syariat.

Sumber :
1. Al-Umm, bagian muqaddimah hal 3-33.
2. Siyar A‘lam an-Nubala’
3. Manhaj Aqidah Imam asy-Syafi‘, terjemah kitab Manhaj al-Imam Asy-Syafi ‘i fi
...dipetik dari blog Ibn Abdillah al-Asyaefillah untuk pencinta PQS..

Monday, May 31, 2010

Reaksi seni terlampau


Gambar ini khabarnya adalah dr Pameran Seni yang diadakan di Sepanyol

Sebuah hadis diriwayatkan daripada Thauban r.a., bahawa Rasulullah SAW bersabda, yang bermaksud : "Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama."

Maka para sahabat r.a. pun bertanya, "Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?" Sabda Baginda SAW : "Bahkan masa itu mereka (umat Islam) lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak bererti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut."

Sahabat bertanya lagi, "Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?" Jawab Rasulullah SAW, "Kerana ada dua penyakit, iaitu mereka ditimpa penyakit al-Wahn."

Sahabat bertanya lagi, "Apakah itu al-Wahn?" Rasulullah SAW bersabda : "Cintakan dunia dan takut akan kematian."..



-Bila kita lihat gambar diatas, terasa sungguh biadap kelakuan tersebut, sebagai umat Islam mesti ada rasa kemarahan, geram sebab mempermain2kan mempersenda2kan Islam..

Thursday, May 20, 2010

Kebejatan akhlak kesan lahirnya anak zina

Semua pihak mesti berfikir dan bertindak mengatasinya. Persoalan zina, pelacuran, persundalan dan yang sama waktu dengannya memang telah wujud sejak zaman jahiliyyah malah zaman nabipun ada manusia berzina dan mengaku di depan nabi. Apatah lagi hidup sudah jauh dengan zaman nabi. Antara ubat mencegahnya dengan racun yang ditabur sehari-hari dari punca-punca yang sukar dibendung akibat langit terbuka juga kebejatan akhlak dorongan syaitan laknatullah menyuburkan keturunan penzina yang semakin ramai disekeliling kita. Ada yang takut malu mencemar nama baik keluarga membuat dosa yang lebih besar dengan membunuh, menanam, malah yang tak pernah terfikir oleh kita. Kalau ditakdirkan Abu Jahal dan Firaun hidup semula hari ini nescaya dia pun terkejut. Zaman sekarang canggih lagi pada zaman mereka. Sebab zaman jahiliyyah mereka membunuh anak perempuan sahaja dan zaman Firaun mereka membunuh anak lelaki sahaja. Sedangkan zaman kini mereka tak peduli lelaki ke perempuan.

Disebut didalam al-Quran betapa kejinya kelakuan Firaun apabila mereka membunuh anak-anak lelaki rakyatnya dikalangan Bani Israel. Dari maksud Firman Allah;


Ketika dia menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu". (Surah Ibrahim: 6)


Firasat dari ahli nujum bahawa akan lahir dari kalangan Bani Israel seorang anak lelaki yang menentang dan bakal menghancurkan kekuasaan Firaun. Beliau lantas mengambil tindakan untuk membunuh semua bayi lelaki dari kalangan Bani Israel tetapi membiarkan anak perempuan mereka hidup.


Begitu juga di zaman era jahiliyyah sebelum kebangkitan Rasulullah Saw. Mereka membunuh anak-anak perempuan mereka. Firman Allah Swt:-


31. Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu Karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. 32. Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.


Menjadi amalan jahiliah apabila mereka membunuh anak-anak perempuan mereka dan mereka berbangga dengan anak lelaki mereka. Kedatangan Islam menghapuskan amalan jahiliyyah ini yang amat keji. Bagi mereka anak perempuan akan menyusahkan mereka untuk member makan dan minum. Status mereka hanya sekadar pemuas syahwat dan kilang kepada melahirkan anak. Perempuan tidak mampu berperang bahkan menjadi tawanan yang memerlukan tebusan. Semua ini mendorong mereka merasa malu untuk memiliki anak perempuan bahkan mereka memilih untuk membunuh anak perempuan mereka hidup-hidup.

Inilah kanak-kanak yang bakal mengheret ibu-bapa mereka ke dalam neraka sebagaimana firman Allah Swt dalam surah at-Takwir ayat: 8-9 :-

8. Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. 9. Kerana dosa apakah dia dibunuh,

Lihatlah angka berdasarkan kepada laporan rasmi, Jabatan Pendaftaran Negara (JPN) melaporkan terdapat lebih 257,000 sijil kelahiran didaftarkan tanpa catatan nama bapa, sejak tahun 2000 hingga pada bulan Julai 2008. Bagaimana yang belum dilahirkan tahun1999 dan sebelumnya? Pada 2007 sahaja ia mencatatkan seramai 16,100 orang anak luar nikah didaftarkan di JPN dikalangan orang Melayu manakala pada 2008 seramai 16,541 orang dan pada tahun 2009 jumlah tersebut makin meningkat seramai 17,303 anak luar nikah atau tidak sah taraf didaftarkan di seluruh negara iaitu purata 47 orang sehari. Kemana mereka ini akhirnya. Bukankan mereka ini juga akan punya zuriat. Betapa institusi keluarga kita juga akan hancur ekoran perangkaan tersebut. Kerosakan ini turut sama dirasai di institusi dan sekolah atas nama sekolah agama sekalipun sudah ada tanda-tanda yang membimbangkan. Dan betapa susahnya nanti untuk mencari jodoh manusia yang tak terlibat hasil dari perzinaan yang ditakuti mewarisinya. Sedangkan dalam Islam menyuruh mencari keturunan yang baik-baik.


Ia bukan sekadar masalah tetapi sudah menjadi bala. Inilah akibat yang disabdakan oleh Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Abu Dawuud:-

Maksudnya: Daripada Maimunah Radhiallahu anha, Isteri Rasulullah Saw berkata: “ Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Umatku (ini) akan terus berada dalam kebaikan selama tidak tersebar luas anak zina di kalangan mereka.apabila anak zina tersebar luas di kalangan mereka, maka hampir sahaja Allah azza wajalla akan menurunkan azab seksa kepada mereka seluruhnya.( Haditis riwayat Ahmad, baik sanadnya).


Hari ini bala bukan setakat meluasnya zina dan bunuh anak tetapi semua aspek. Keruntuhan sosial, kebejatan ekonomi, kadar jenayah yang semakin meningkat. Penyelesaian mengikut Islam untuk mencegah anak zina kita mesti menutup setiap pintu zina dan maksiat. Kaedah usul-fiqh قاعدة سد الذرائع telah menyebut agar menutup segala lubang-lubang yang boleh membawa kepada penzinaan.

Bermula dari pendidikan sejak awal, Pentarbiyyahan diperingkat institusi kekeluargaan, Mewujudkan bi’ah dan persekitaran yang Islami disemua lapisan serta pengukuhan pendidikan Islam di rumah lagi hinggalah ke sekolah dan suasana yang terkawal serta berakhlak islam dan terakhir adalah pengukuhan pelaksanaan syariat Islam.


Realitinya pencegahan yang dilakukan sekarang belum menyelesaikan ke akar umbi penyakit. Umpama memberi pil tahan sakit atau sama seperti melapkan air yang tumpah tetapi paip yang bocor tidak dibaiki. Para pendidik, ulama dan pendakwah disalahkan jika berlaku penyakit sosial tetapi mereka tidak boleh menutup punca sebenar segala permasalahan. Perancangan musuh lebih rapi dari langkah kita membendungnya.

Ketika Rasulullah saw berada di Mekah, di era jahiliyyah didapati keadaan seperti ini wujud. Kekuasaan yang berada ditangan bangsawan Quraish yang tidak Islam tidak memberi apa-apa kemudahan dan pertolongan bahkan penguasaan amalan jahiliyyah tetap berlaku. Inilah yang mendorong Rasulullah Saw berhijrah ke Madinah mencari punca kuasa memerintah sebuah daulah Islam serta mewujudkan infra dan pembinaan umat Islam dari acuannya sendiri. Sehinggalah ke peringkat perlaksanaan undang-undang sebagaimana firman Allah Swt:-

Perempuan yang berzina dan lelaki yang berzina, hendaklah kamu sebat tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali sebat; dan janganlah kamu dipengaruhi oleh perasaan belas kasihan terhadap keduanya dalam menjalankan hukum ugama Allah, jika benar kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat; dan hendaklah disaksikan hukuman seksa yang dikenakan kepada mereka itu oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. [Maksud surah al-Nur : 2]

Inilah yang menjadi dasar dan asas untuk bertindak. Disamping merawat tubuh yang sudah luka jangan lupa pada pantang larang dan makan ubat. Jangan tunggu seluruh tubuh sudah busuk hanya tunggu diangkat untuk dikambus.. Perjuangan belum selesai dari semua pihak Ibu bapa, guru yang mendidik, komuniti masyarakat, penguatkuasa malah ulil amri perlu bangun serentak bukan menuding jari pada seseorang sahaja. Akhirnya setiap kita wajib berdoa menadah tangan setulusnya agar kita dan anak-anak dan seluruh keluarga kita nantinya terus selamat dari dosa ini disamping berusaha melakukan suruhan-suruhan Allah yang menjadi benteng kekuatan Ummat. Wallahua'lam

Wednesday, May 19, 2010

Kisah Jenazah yang dimuliakan

Kisah-kisah yang ingin dipaparkan di sini kalau ia boleh menyentuh perasaan dan ketidakselesaan muslimin-muslimat. Kisah ini berlaku pada seorang imam di selatan KL yang meninggal dunia ketika lepas solat Asar. Imam tersebut meghembus nafasnya yang terakhir sebaik sahaja selesai memberi salam yang pertama. Subhanallah! Matinya dalam keadaan yang amat murnia, matinya bukan dalam keadaan berbuat maksiat pada Allah SWT. Mati ketika habis solat dan masih di atas tikar sejadah dan sedang beribadah! Jenazahnya telah di bawa ke hospital untuk urusan pemeriksaan rutin (medical check-up) dan urusan-urusan lain yang perlu untuk pengurusan pengkebumian. Pihak hospital telah memanggil ustaz M untuk urusan mandian jenazah. Maka bergegaslah ustaz M ke hospital untuk urusan tersebut sebab bagi beliau, jenazah yang hendak dimandikan ini begitu istimewa pada pandangannya, kerana roh si mati telah dicabut oleh malaikat Izrael ketika mana sedang mengimami solat! Sebaik sampai di hospital, ada sedikit masalah yang timbul. Pihak hospital telah mendapati bahawa jenazah imam tersebut tidak mempunyai sebarang pengenalan diri, dan pihak hospital atas bantuan rakan-rakan jenazah mendapat tahu, jenazah imam ini adalah meupakan orang luar. Rentetan daripada kes ini, pihak hospital terpaksalah menyimpan dahulu jenazah tersebut untuk beberapa hari bagi urusan ddengan pihak berwajib sehinga selesai dan kemudian itu barulah segala urusan yang berkaitan pengebumian akan dilaksanakan. Maka, jenazah imam tersebut pun dimasukkanlah ke dalam ‘freezer’ di dalam bilik mayat hospital buat sementara waktu. Lapan hari berlalu. Ustaz M dah mula nak melupakan pasal jenazah imam ini. Tapi, dengan takdir Allah SWT, hari ke-9, telefon bimbit ustaz M berbunyi.... “Dokumen dah siap, boleh ustaz datang uruskan . “Ok..ok…, sekarang juga aku bergerak, setengah jam lagi aku sampai! “, balas ustaz M. Di bilik mayat telah ada beberapa orang saksi di kalangan pegawai hospital dan juga polis serta saksi-saksi lain termasuk rakan-rakan jenazah imam tersebut. Bismillahir Rohmaanir Rohiim…… Dengan bersaksikan mata sekeliling yang memandang, ustaz M menarik ’stretcher ‘ peti sejuk beku mayat tersebut dengan perlahan-lahan. .. Subhanallah! Mayat imam ini masih lagi segar merah. Mayat ini juga berpeluh! Macam mana simpan dalam peti ais berhari-hari boleh berpeluh? Seolah- olah imam ni baru aje meninggal sebentar tadi. Mayatnya tidak keras dan tidak pula membeku! Macam orang sedang tidur. Istimewa sungguh mayat ini. Kalau daging mayat biasa dah lama mengeras dan membeku. Masya-Allah! Sekali lagi perkara pelik berlaku…terdapat pula pada dahi jenazah imam ini, tertera satu kalimah tauhid iaitu perkataan “ALLAH”! Semua orang di sekitar dapat menyaksikan peristiwa ini. Jenazah imam itu dimandi, dikapan dan disembahyangkan dengan segera sebagaimana biasa. Semuanya berjalan amat mudah. Allah SWT telah pun memuliakan jenazah imam ini di dunia lagi atas jasa-jasa dia yang Allah SWT sahaja yang mengetahuinya. Ustaz M bertanya pada rakan-rakan Allahyarham apa yang diamalkan oleh Allahyarham semasa hidup sehingga mendapat pengiktirafan yang begitu tinggi daripada Allah SWT masa kematiaanya. Jawapan yang didapati daripada rakan-rakannya ialah selain daripada seorang yang berbudi pekerti mulia dan seorang imam yang baik, amalan semasa hidupnya ialah tidak pernah tinggal bangun malam dan bersolat tahajjud. Semua amalan ini dilakukkanya secara istiqamah. Ditambah pula oleh amalan-amalan lain yang tidak dapat dilihat oleh rakan-rakan arwah, yang mana hanya Allah SWT sahaja Yang Maha Mengetahuinya.





Kisah berikutnya berlaku di sebuah masjid di selatan ibu Kota Kuala Lumpur. Masa tu, hari Jumaat. Solat Jumaat sudah dimulakan apabila bilal melaungkan azan dan sejurus kemudian imam naik ke mimbar untuk mula membaca khutbah. Imam kali ini ialah seorang pemuda yang berusia 28 tahun. Muda lagi. Dan sudah berkahwin. Jemaah di situ memang sudah arif sangat dengan imam ini. Imam ini memulakan khutbahnya. Sampai pada perkataan, “Uusikum Bitaqawallah, Waiyaa….. ……… ……… .”. Tiba-tiba imam ini terdiam…. Semua para jemaah diam (memang dengar khutbah kena diam pun) dan hanya memerhati sahaja ke arah imam. Semua mata tertumpu kepadanya. Imam masih lagi senyap. Matanya terpejam rapat. Tiba-tiba tangan imam yang sedang memegang kayu mimbar, melurut ke bawah, dan beliau pun jatuh terduduk di atas kerusi khatib. Kepalanya terlentuk ke bawah. Makmum yang masih tergamam dengan peristiwa ini, segera bangun untuk melihat apa yang terjadi. Bilal menerpa ke arah imam dan ingin membantu serta menolong jika sesuatu yang buruk berlaku kepada khatib. Imam (khatib) dipapah turun dan diletak di hadapan para jemaaah di saf hadapan. Setelah diperiksa oleh bilal, tiada perkataan lain yang boleh diucapkan selepas itu melainkan, “Innalillahi wainna Ilaihi roojiuun…” . , sewaktu imam itu menghembuskan nafas terakhirnya, jatuhnya betul-betul di atas kerusi yang berada di belakangnya dan terus sahaja duduk. Tidak jatuh tersungkur ke depan, dan tidak juga jatuh sama ada ke kiri atau ke kanan mimbar. Elok sangat duduk atas kerusi khatib, imam tersebut telah pun meninggal dunia….Jenazah pun dibawa balik untuk diuruskan… Ustaz M pun dipanggil untuk menguruskan jenazah ini. Sebaik kain penutup mayat diselak untuk memulakan proses mandian jenazah, ustaz M begitu terkejut bercampur terharu yang amat sangat bila melihat beberapa kejadian mengkagumkan berlaku pada mayat. Badannya jenazah itu amat berseri dan masih nampak kelihatan darah masih mengalir lagi pada seluruh tubuhnya. Seolah-olah jenazah ini masih hidup. Dan yang lebih mengkagumkan keluarnya satu haruman yang semerbak dari badan jenazah. Wangi sungguh! Tak pernah ustaz M mencium bau wangian sebegini rupa selama dia menguruskan jenazah lain sebelum ini! Hebat mayat ni, fikir ustaz M… Subhanallah! beliau berdoa ; “Ya Allah! Engkau Maha Mulia! Engkau telah memuliakan mayat ini, maka muliakanlah ia sehingga aku selesai memandikannya. Rupanya-rupanya kemuliaan jenazah imam ini tidak berakhir di situ. Doa ustaz M dimakbul Allah SWT. Menurut ustaz M lagi, sewaktu jenazah imam ini nak ditanam ke dalam liang lahad, sahabat-sahabat yang menggali kubur memberitahu, muncul pula pelbagai jenis bunga-bungaan yang datang entah dari mana, turut berada di dalamnya . Cantik sungguh liang lahad dengan dihiasi bunga-bungaan tersebut, seolah-olah sedang meraikan dan menanti kedatangan bakal penghuni syurga! SUBHANALLAH! SUBHANALLAH!. Ustaz M bertanya pada isterinya tentang apakah amalan si arwah pada masa hidup sehinggakan jenazahnya mendapat pengikhtirafan sebegitu rupa sejak dari alam dunia lagi. Menurut kata isteri arwah imam tersebut, sepanjang hidup bersamanya ialah tidak pernah meninggalkan solat sunat Dhuha dan solat sunat Witir. Inilah amalan istiqamahnya. Setiap malam, sebelum arwah menutup dairi kehidupannya hari itu dan tidur, pasti dia akan menunaikan solat witir. Setiap hari, sehinggalah ke pengakhiran hayatnya, ditambah pula oleh amalan-amalan lain yang dilakukan sebagai seorang yang menjawat jawatan sebagai seorang imam untuk kawasan tersebut. Wallahua’lam.


“Sempurnakanlah ajalku (ketika mati) dalam keadaan Islam” yang didoakan oleh Nabi Yusuf dalam Surah Yusuf, ayat 101 yang berikut: [101] “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya Engkau telah mengurniakan daku sebahagian dari kekuasaan (pemerintahan) dan mengajarku sebahagian dari ilmu tafsiran mimpi. Wahai Tuhan yang menciptakan langit dan bumi Engkau Penguasa dan Pelindungku di dunia dan di akhirat; sempurnakanlah ajalku (ketika mati) dalam keadaan Islam, dan hubungkanlah daku dengan orang-orang yang soleh”. kisah dan email dari us wan

My Blog List