SELAMAT MAJU JAYA DAN SUKSES

Monday, August 29, 2011

Kebahagiaan di Idul Fitri yang wajib disyukuri

Kita himpunkan segunung kesyukuran setelah sebulan penuh kita telah menjalani ibadah puasa Ramadhan, satu bulan kita dapat menahan lapar dan dahaga dari terbitnya fajar hingga terbenam matahari. Di saat bulan penuh keberkatan, rahmat dan keampunan itu telah berlalu pergi, hari ini kita dipertemukan dalam suasana kegembiraan, iaitu hari raya idul fitri atau "hari kembali kepada fitrah", fasa kehidupan manusia yang dianggap suci, bersih dan bebas dari segala dosa.Di hari kemenangan ini, mungkin di antara kita ada yang bertanya-tanya: kegembiraan apa yang patut kita rayakan pada saat idul fitri tiba? Apakah hanya sekadar datang dan berlalunya "suatu hari" tanpa ada erti sebagimana hari-hari yang lain? Atau ada satu keistimewaan yang patut kita banggakan di hari ini?

Dengan penuh kesedaran bahawa kita inginkan bahagia kerana kita telah sempurna menemui bulan Ramadhan, dengan menjalankan perintah puasa, bahagia telah berbagi kepada saudara seislam kita, dengan menunaikan kewajiban zakat fitrah, dan bahagia dengan kesempatan halal bi halal atau bersilaturrahim, saling memaafkan segala kesalahan menghapus luka yang pernah terguris dan mempererat hubungan persaudaraan.

Bahagia telah menyempurnakan Ramadhan

Sewajarnya kita akui bahawa berhasil menjalani Ramadhan ini dengan fizikal dan mental yang sihat, sehingga mampu melaksanakan perintah puasa dengan sempurna, adalah anugerah besar dari yang maha kuasa. Sahabat Ali bin Abi Thalib Ra (w: 40 H / 661 M) berkata: "Sihat jasmani adalah anugrah yang paling indah"

Kita boleh membayangkan, bagaimana orang-orang yang pergi ke alam baqa' (meninggal dunia) sesaat menjelang datangnya bulan Ramadhan, mereka tidak menjumpai bulan yang penuh keberkatan, rahmat dan ampunan. Padahal, melalui ibadah di bulan Ramadhan, kita diberi bonus pahala berlipat dan kesempatan untuk melebur dosa-dosa yang pernah dilakukan. Rasulullah Saw - dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim - menjelaskan bahwa Ramadhan adalah bulan penuh ampunan.

Atau tidak sedikit saudara-saudara kita yang pada saat tiba bulan Ramadhan dalam keadaan tidak sihat, sehingga tidak mampu menjalankan kewajiban ibadah puasa, atau kalaupun tetap menjalankan, tidak sebagaimana orang yang normal kesihatannya. Pastinya mereka itu tidak dapat merasakan bagaimana nikmatnaya saat berbuka, saat bersahur, bagaimana nikmatnya kita mampu mengendalikan hawa nafsu dengan sedikit mengekang hasrat jasmani yang rakus.

Dalam satu kesempatan, ulama besar di zaman tabi'in (setelah zaman para sahabat Nabi) imam Ibnu Sirin, (w: 110 H / 728 M) berterus terang bahwa urusan hawa nafsu adalah urusan yang paling pelik dalam hidup ini, ia berkata: “Aku tidak pernah mempunyai urusan yang lebih pelik berbanding urusan jiwa”. Betapa urusan jiwa yang menyangkut pengendalian hawa nafsu adalah bebanan besar yang kerap merintangi hidup manusia, Rasulullah Saw dalam hal ini mengingatkan: "Jalan ke syurga dilapangkan dengan mengendalikan hawa nafsu, sedangkan jalan ke neraka dilapangkan dengan menuruti hawa nafsu" (HR. Bukhori dan Muslim)

Dengan tibanya idul fitri ini, sangatlah wajar jika kita berbahagia menampakkan kegembiraan bersama, bukan atas dasar telah berlalunya bulan suci Ramadhan, akan tetapi kebahagiaan ini dilandaskan pada keberhasilan kita dalam mengekang hawa nafsu dalam kadar dan rentang waktu tertentu.

Bahagia dengan peduli terhadap sesama muslim

Kebahagiaan kedua yang semestinya kita rasakan pada kehadiran hari raya idul fitri adalah, kita telah mengeluarkan zakat fitrah. Satu ibadah yang tidak lain sebagai bentuk penyucian diri setiap muslim sekaligus sebagai penyempurna puasa Ramadhan.

Zakat fitrah merupakan salah satu ibadah yang luas lingkungannya. kalau kita perhatikan secara mata kasarnya, sangatlah ringkas, tidak memerlukan jumlah harta yang berlimpah, akan tetapi setiap muslim yang pada saat tibanya idul fitri memiliki keinginan untuk dirinya, keluarga dan orang yang harus dinafkahinya, maka dia berkewajiban untuk mengelurakan zakat. Jumlah harta yang dikeluarakan pun sangat sedikit, hanya 1 Sha' sekitar 2,5 kg makanan sesebuag negeri, atau boleh juga digantikan dengan wang yang sebanding harganya.

Ia pasti bebeza dengan zakat perniagaan dan sebagainya, jenis-jenis zakat ini hanya bisa ditunaikan oleh kalangan berada saja. Setiap muslim yang berkewajiban mengeluarkan zakat fitrah jauh lebih banyak dari pada zakat-zakat tersebut, hal ini sesuai dengan maqasid (tujuan) disyari'atkannya zakat fitrah yaitu untuk mengembalikan setiap manusia pada fitrahnya.

Kalau sejenak kita meneliti tujuan dan hikmah diwajibkannya ibadah zakat secara umum, ternyata ajaran Islam, disamping mengupayakan kesucian diri setiap insan, juga mengharapkan kesucian dan keberkahan harta benda yang dimilikinya. Dalam al Qur'an di jelaskan, saat Allah Swt memerintahkan Muhammad Saw untuk merealisasikan kewajiban zakat kepada para sahabatnya: "Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan – dan mensucikan - mereka" (Qs. at Taubah: 103).

Dalam kesempatan lain Allah Swt menjelaskan: " Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah di sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridha'an Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan " (Qs. Ar Ruum: 39)

Kalau demikian kenyataannya, maka kesempatan kita untuk menjalankan kewajiban zakat fitrah, adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Kita telah diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk mensucikan jiwa sekaligus mewujudkan rasa peduli terhadap suasana di sekitar kita. Bagaimanapun kebahagiaan dalam menyambut datangnya idul fitri, juga berhak dirasakan oleh kaum miskin yang sama sekali tidak memiliki makanan kmenjelang hari raya.

Berbahagia dengan bersilaturrahim:

Tradisi “halal bi halal” yang ada di setiap hari raya idul fitri adalah kesempatan bagi kita untuk bersilaturrahim. Tentunya silaturrahim dalam maknanya yang luas, yaitu saling memafkan atas segala kesalahan yang pernah dilakukan, saling mempererat hubungan persaudaraan atas dasar keimanan , bukan hanya atas dasar persaudaraan malah jua atas kekerabatan dan hubungan nasab keturunan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam al Qur’an: "Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu" (Qs. Al Hujurat: 10)

Sebagaimana kita semua sedari, bahawa interaksi seharian dalam kalangan umat manusia akan selalu di warnai dengan berbagai hal, sesuai dengan situasi. Adakalanya baik ada kalanya buruk, kadang damai kadang konflik. Implikasi dari hubungan seharian antara sesama manusia ini tidak selamanya menyakitkan sehingga menimbulkan kebencian, begitu juga tidak semuanya menyenangkan sehingga menimbulkan kecintaan, pada saat-saat tertentu emosi, egois dan kesombongan yang akan menguasai diri kita.

Implikasi buruk yang kita terima dari sikap orang lain, begitu juga kelakuan tidak bersahabat yang kita tunjukkan kepada orang lain, baik dengan penuh kesadaran maupun dalam ketidaksadaran, harus kita perbaharui dengan bersilaturrahim. Kita percaya, bahwa hari raya idul fitri sebagai momen yang tepat untuk menjernihkan semula ketegangan hubungan antara sesama umat manusia. Rasulullah SAW bersabda : "Wahai manusia, tebarkanlah kedamaian dan sambunglah persaudaraan" (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Melalui silaturrahim, kita juga akan mendapatkan hikmah dan faedah yang luar biasa. Di antaranya; akan mempermudah segala urusan, menjalin rakan kongsi yang tentunya akan saling menguntungkan dalam bekerjasama. Dalam satu kesempatan Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa yang ingin diperluaskan rezekinya dan dipanjangkan usianya maka sambunglah persaudaraan" (HR. Bukhari dan Muslim). Sebahagian ulama menghuraikan kalimah "panjang usia" dalam hadis di atas dengan maksud "keberkatan hidup".

Sehingga ketemu di Ramadhan dan Idul Fitri yang akan datang , mudah-mudahan ia adalah wadah yang dapat mengembalikan pada fitrah keimanan kita, di mana idul fitri datang setelah kita menyelesaikan proses latihan mengendalikan jiwa melalui puasa Ramadhan, Kebahagian yang kita rasakan adalah anugerah dari Allah Swt yang wajib kita syukuri. "Katakanlah: Dengan kurniaan Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurniaan Allah dan rahmatNya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. " (Qs. Yunus: 58)

Friday, August 19, 2011

MENGHARAP SELAMAT DARI API NERAKA PADA 10 YANG AKHIR RAMADHAN

Fasa ketiga pada bulan Ramadhan kita dijanjikan selamat dari api neraka. Pastinya ia tidak diperoleh dengan percuma kecuali pada mereka yang berpuasa dengan penuh keimanan dan dipenuhi dengan amalan yang berlipat ganda dari biasanya.

Dalam sebuah kisah menceritakan bahawa, ada seorang sahabat bertanya kepada Abdulullah bin Abbas ra. "Ajarilah kami ilmu yang dapat menyelamatkan kami daripada api neraka dan dapat memasukkan kami ke dalam syurga?".

Ibnu Abbas menjawab: "Hendaklah kamu semua melakukan lima belas perkara. Iaitu lima dengan Lisan, lima dengan Anggota Badan dan lima dengan Hatimu.

Lima dengan Lisan itu adalah mengucap kalimah.
1) SUBHANALLAH
2) ALHAMDULILLAH
3) LAA ILLAA HA ILLALLAAH
4) ALLAHU AKBAR
5) LAA HAWLA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL 'ALIYYIL'AZIM

Lima dengan ANGGOTA BADAN iaitu solat lima waktu:
1) ISYA'
2) SUBUH
3) ZOHOR
4) ASAR
5) MAGHRIB

Lima dengan HATI iaitu mencintai lima orang yang dicintai Allah SWT. Rasulullah dan sahabat yang empat.
1) NABI MUHAMMAD SAW
2) ABU BAKAR SIDDIQ
3) UMAR BIN KHATTAB
4) USMAN BIN AFFAN
5) ALI BIN ABI THALIB.

Semoga kita dapat mengamalkannya dengan cara beriktikaf di masjid terutama pada sepuluh yang akhir di Bulan Ramadhan ini, Selamat bertemu dengan al Qadar yang kita harapkan.

Monday, August 01, 2011

Memahami dan Merebut Taqwa

Taqwa tidak hanya mengingatkan kita tentang apa yang seharusnya kita tinggalkan demi mengharapkan redhaNya dan karena takut hukumanNya, namun taqwa juga mengingatkan kita akan kehidupan yang akan dialami manusia setelah kematiannya. Kehidupan yang penuh tanda tanya. Sebab saat ini tidak ada di antara kita yang dapat memastikan akan kemanakah dirinya; ke syurga ataukah ke neraka? Sebuah pertanyaan besar yang tersimpan jawapannya di dalam suratan takdir di sisiNya.
Menentukan jalan hidup adalah perkara besar yang membuat banyak orang tak tahu harus ke mana dia melangkah. Padahal, ilham kepada jiwa tak lepas dari dua pilihan fujur (dosa) atau takwa. Sebagaimana yang Allah ta’ala nyatakan dalam ayat,


فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

“Maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefajiran dan ketakwaannya.” (al-Syams [91] : 8).

Ibnu Abbas menerangkan bahwa makna ayat ini; Allah menjelaskan kepada jiwa kebaikan dan keburukan. Tafsiran serupa juga disebutkan oleh Mujahid, Qatadah, adh-Dhahak dan al-Tsauri. Sedangkan Sa’id bin Jubair mengatakan, “Artinya Allah mengilhamkan kepadanya kebaikan dan keburukan.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azim, 8/321).
Orang yang beruntung bukanlah yang melepaskan kendali dirinya dan menurut bisikan hawa nafsu. Akan tetapi yang akan menjadi pemenang adalah yang berjuang membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa. Allah ta’ala berfirman,


قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” ( al-Syams [91] : 9-10).


Syaikh al-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa maksud ayat di atas adalah keberuntungan itu akan didapatkan oleh orang yang membersihkan dirinya dari dosa-dosa dan menyucikannya dari berbagai perbuatan tercela serta melembutkannya dengan taat kepada Allah, mengangkatnya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih ( lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 926).


Maka untuk memiliki jiwa yang tangguh dan bertahan di atas jalur takwa seorang manusia harus meminta keteguhan dan taufik serta pertolongan Rabbnya. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah untaian doa yang indah,


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا


“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari sifat lemah dan malas, sifat pengecut dan nyanyuk serta siksa kubur. Ya Allah, kurniakanlah kepada jiwaku ketakwaannya, dan sucikanlah ia sebab Engkaulah satu-satunya yang bisa menyucikannya. Engkaulah penolong dan tuhannya. Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim dalam kitab adz-Dzikr wa Du’a wal Istighfar wa Taubah, hadits no. 2722).

Sesungguhnya ketakwaan telah menjadi barang mahal lebih mahal dari air di padang pasir yang tandus dan titisan hujan di musim kemarau. Padahal, seperti yang sudah kita mengerti bersama bahwa kelompok yang beruntung adalah orang-orang yang bertaqwa. Allah ta’ala berfirman tentang keindahan dan manisnya buah taqwa dalam ayat,


الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


“Alif lam mim. Ini adalah Kitab yang tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa; yaitu orang-orang yang beriman terhadap perkara gaib dan mendirikan shalat serta membelanjakan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan orang-orang yang beriman terhadap wahyu yang diturunkan kepadamu dan nabi-nabi sebelummu serta meyakini hari akhirat. Mereka itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Baqarah [2] : 1-5).

Pastinya orang yang beruntung hanyalah orang yang bertaqwa. Kebanyakan orang menyukai hal-hal yang bersifat sementara dan menghibur sesaat. Meskipun pada hujungnya hal itu menyebabkan penyesalan dan rasa sedih yang mendalam. Sejarah telah mencatat bagaimana umat-umat terdahulu binasa dan berhak menerima siksa akibat kedurhakaan mereka. Mereka menginginkan kesenangan yang sementara (dunia) dan nekad mengorbankan kesenangan yang abadi (syurga), aduhai alangkah zuhudnya mereka…! Sebagaimana tololnya orang-orang munafik yang menjual akhirat dan agamanya dengan harga yang teramat murah. Allah ta’ala berfirman setelah menceritakan beberapa karakter mereka yang tercela,


أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ


“Mereka itulah orang-orang yang rela membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka tidaklah beruntung perdagangan mereka itu, dan mereka juga tidak memperoleh petunjuk.” (al-Baqarah [2] : 16).
Oleh sebab itulah kita dapati generasi terbaik umat ini iaitu para sahabat memendam perasaan bimbang apabila mereka dijangkiti kemunafikan. Imam Bukhari meriwayatkan ucapan Ibnu Abi Mulaikah di dalam kitabul Iman, “Aku berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka semua bimbang dirinya terjangkit kemunafikan.” Hal itu tidak lain dikarenakan kemunafikan akan memadamkan harapan indah mereka, dan melenyapkan kebahagiaan yang selama ini mereka idam-idamkan. Kemunafikan adalah gambaran buruk dari orang yang mengaku bertakwa. Berbeza dengan orang kafir yang berterus terang mengibarkan bendera permusuhan terhadap umat Islam dengan lisan dan sepak terjangnya, orang-orang munafik secara lahir menampakkan persahabatan bahkan pembelaan kepada umat Islam namun pada hakikatnya mereka berusaha menghancurkan Islam dari dalam.
Maka sangatlah wajar jika Allah menggelar kaum munafikin sebagai pendusta. Allah ta’ala berfirman,


الم أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ


“Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira dia dibiarkan mengucapkan kami telah beriman kemudian mereka tidak lagi mendapatkan ujian? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang dusta.” (al-Ankabut [29] : 1-3).
Kemudian Allah ta’ala ceritakan sebagian sifat mereka,


وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِنْ جَاءَ نَصْرٌ مِنْ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan kami beriman kepada Allah, namun apabila dia diberi cobaan di jalan Allah maka dia menganggap gangguan manusia seperti layaknya azab Allah. Dan apabila datang pertolongan dari Rabbmu, maka dia pun mengatakan, ‘Sesungguhnya kami bersama kalian’. Apakah Allah tidak mengetahui apa yang tersimpan di dalam dada manusia? Dan supaya Allah mengetahui siapakah orang-orang yang beriman dan siapakah sebenarnya orang-orang munafik itu.” (al-Ankabut [29] : 10-11).

Mengapa pengakuan iman di lisan mereka tidak boleh meneguhkan iman yang ada di dalam hati mereka? Jawabnya, karena ketidaksabaran mereka dalam menghadapi cubaan dan musibah yang menimpa. Padahal tanpa sabar iman tak akan terjaga. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu mengatakan, “Sabar bagi iman sebagaimana peran kepala bagi tubuh. Orang yang tidak punya sabar maka tidak ada iman padanya.” (Diriwayatkan oleh al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah).

Oleh sebab itulah kita dapatkan di dalam al-Qur’an Allah ta’ala mengiringkan antara sabar dengan ketakwaan. Allah ta’ala berfirman,


وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا

“Jika kalian bersabar dan bertakwa, nescaya tipu daya mereka tidak akan membahayakanmu.” (Ali ‘Imran [3] : 120).


Sabar memerlukan bahan bakar. Sementara bahan bakarnya tidak lain adalah ilmu, iman, tawakal, keikhlasan, mahabbah, khauf dan raja’. Oleh sebab itu Thalq bin Habib rahimahullah memberikan definisi yang sangat dalam tentang makna taqwa. Beliau mengatakan, “Taqwa adalah kamu beramal melakukan ketaatan kepada Allah di atas bimbingan cahaya dari Allah dengan mengharap balasan Allah. Dan kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas bimbingan cahaya Allah karena takut hukuman Allah.” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim di dalam Risalah Tabukiyah)


Bersempena Ramadhan ini, yang akhirnya adalah untuk membentuk kita manusia bertaqwa maka marilah kita memohon kepada Allah petunjuk, ketaqwaan, terjaganya kehormatan, dan kecukupan hati, karena sesungguhnya Allah yang telah membentangkan jalan yang lurus ini untuk hamba-hambaNya dan Allah pula yang membawa mereka berjalan di atasnya. Tiada daya dan kekuatan bagi kita kecuali dengan pertolongan dariNya. KepadaNya lah kita kembali dan kepadaNya kita meminta pertolongan.

My Blog List